Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 87


__ADS_3

Riska mulai membaca surat yang diberikan oleh Miko kepadanya.


"Lalu?" tanya Diska kepada Miko setelah membaca surat tersebut.


Surat tersebut merupakan undangan surat pelatihan yang akan diadakan di Kota Padang.


"Saya ingin kamu ikut dalam acara pelatihan itu, karena di kaligending ini hanya kamu dokter yang lebih berpotensi mendapatkan ilmu tersebut," ujar Miko.


"Siapa saja yang akan ikut pelatihan ini?" tanya Diska.


Diska takut hal ini menjadi modus bagi Miko untuk bisa bersamanya.


"Yang akan mengikuti acara pelatihan itu aku dan kamu," jawab Miko.


Diska langsung berdiri saat mendengar jawaban dari atasannya tersebut.


"Tidak bisa! Saya tidak bisa ikut dalam acara pelatihan itu," ujar Diska tegas.


Benar saja dengan apa yang dipikirkannya, Diska yakin hal ini merupakan akal-akalan Miko agar dia bisa bersama dengan dirinya.


"Kamu tidak bisa menolak lagi, karena saya sudah melaporkan bahwa yang akan ikut dalam acara pelatihan itu adalah kamu dan saya," ujar Miko tidak kalah tegas dari ucapan Diska.


Diska terdiam sejenak, Dia terlihat berpikir. Apa yang harus dilakukannya saat ini.


"Baiklah, kalau begitu. Saya tidak akan berangkat dengan bapak, saya akan berangkat dengan suami saya," ujar Diska tegas.


Miko terdiam dengan ucapan Diska, angan-angannya untuk pergi bersama wanita yang dikaguminya itu gagal total.


Dia tidak menyangka Diska akan melibatkan suaminya dalam urusan tugas yang diberikan padanya.


"Jika kamu pergi bersama suamimu maka pihak klinik tidak akan mengeluarkan sepeser pun biaya keberangkatanmu," ujar Miko berusaha mengancam Diska.


Dia berpikir dengan ancamannya Diska akan mau pergi bersamanya dalam acara pelatihan tersebut.


"Terserah bapak, saat ini saya bekerja di klinik ini bukan untuk mencari uang, tapi saya bekerja untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah saya dapat dan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan saya," ujar Diska tegas.


Bagi Diska, saat ini dia tidaklah kekurangan uang. bahkan harta yang dimiliki oleh suaminya tidak akan habis tujuh turunan, meskipun dia tidak bekerja sama sekali, dia akan tetap hidup bahagia dan berlimpah harta.


"Ya sudah, terserah kamu," ujar Miko.


Akhirnya Miko pasrah dengan keputusan yang diambil oleh Diska. Awalnya dia berpikir bahwa Diska akan berangkat dengannya ke kota Padang.


Miko juga berani mengancam Diska dengan kepergiannya ke kota Padang tidak akan diberikan uang jalan karena Miko berpikir bahwa saat ini Diska merupakan tulang punggung dari keluarganya.


Seperti yang dilihatnya sehari-hari, Diska diantar oleh sang suami setiap pagi dan dijemput oleh suaminya setiap sore.


Dari hal itu Miko mengambil kesimpulan bahwa suami Diska merupakan seorang pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan apapun.


"Baiklah, Pak kalau memang tidak ada lagi yang akan dibicarakan, saya akan kembali ke ruangan saya," ujar Diska berpamitan kepada atasannya." Riska berdiri lalu keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Diska pun menarik tangan Gina untuk melangkah kembali menuju ke ruangannya.


Gina samar-samar mendengarkan percakapan antara Diska dan Miko, tapi dia belum mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang alasan Miko memanggil Diska ke ruangannya.


"Apa yang dikatakan Pak Miko?" tanya Gina saat mereka sudah berada di ruangan mereka.


Diska pun memberitahukan apa yang dikatakan oleh Miko kepadanya.


"Aku yakin, dia pasti memiliki niat lain terhadap kamu," ujar Gina.


"Nah, itu. Akhirnya aku menyetujui permintaannya untuk ikut dalam acara pelatihan tersebut dengan syarat Aku akan pergi bersama bang Rama," ujar Diska.


"Baguslah kalau begitu, aku setuju dengan jalan pikiranmu," ujar Gina memuji Diska.


Saat jam pulang kerja, seperti biasa Rama sudah menunggu istrinya di depan klinik.


"Aku duluan ya, Dis," ujar Gina saat melihat Rama sudah duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan klinik.


"Iya, Kak. Hati-hati," seru Diska.


Mereka saling melambaikan tangan, Gina mengambil sepeda motornya lalu melajukannya meninggalkan klinik.


"Bagaimana hari ini?" tanya Rama pada Diska.


"Mhm, begitulah," jawab Diska dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Mhm, ya udah ayo, pulang," ajak Rama.


Di tempat lain, jauh dari kehidupan Diska dan yang lainnya.


Rezi kini sedang berada di rumah Zharin, dia mengunjungi Zharin yang sudah 2 hari tidak masuk bekerja karena sakit.


"Kamu ngapain saja bisa sakit seperti ini?" tanya Rezi pada Zharin.


Rezi kini mulai memeriksa keadaan wanita yang kini sudah mengisi hatinya.


Rezi sempat ingin meminang Zharin tapi dia belum berani melakukan hal itu karena Rezi takut Zharin tidak menyukai dirinya.


"Tidak ada, aku hanya melakukan aktivitas yang biasa aku lakukan," jawab Zharin.


"Kalau seperti ini lebih baik kamu menikah, supaya ada yang mengurusimu," ujar Rezi.


"Mau nikah sama siapa? Mana ada cowok mau sama aku yang gembel ini," ujar Zharin.


"Sama aku, aku mau kok jadi suamimu," ujar Rezi begitu saja.


Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulut Rezi tanpa disadarinya.


Dia masih memeriksa kondisi Zharin.

__ADS_1


"Apa?" lirih Zharin.


Gadis itu tak percaya bahwa Rezi mau menerima dirinya yang gembel dan miskin.


"Hah?" Rezi terlihat bingung mendengar pertanyaan Zharin.


"Apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Zharin lagi dia berharap Rezi akan mengulangi apa yang sudah dikatakannya.


Rezi terlihat bingung, dia mencoba mengingat apa yang sudah diucapkannya tadi.


"Memangnya aku tadi ngomong apa?" tanya Rezi berusaha mengingat-ingat apa yang sudah dikatakannya.


"Itu, tadi kamu nyuruh aku nikah. terus aku jawab mana ada cowok yang mau sama aku, terus,---" Zharin tidak lagi melanjutkan ucapannya.


Zharin tidak mau dianggap dikasih hati minta jantung, kebaikan Rezi terhadapnya saat selama ini sudah melebihi dari kata cukup baginya.


"Terus apa?" tanya Rezi.


Rezi terus mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakannya dan seketika Dia teringat apa yang baru saja diucapkannya.


"Mhm," gumam Rezi.


Seketika wajah Rezi dan zarin berubah warna merah, mereka pun merasakan detak jantung yang yang kini mulai tidak beraturan.


Mereka pun terdiam sejenak, mereka mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Apakah benar kamu mau menikah denganku? Aku hanyalah seorang wanita miskin," gumam Zharin di dalam hati.


"Seandainya kamu memang benar ingin menikah, aku bersedia menjadi pendamping hidupmu. mungkin ini sudah saatnya aku melupakan Diska dan menjalani hidupku yang baru bersama wanita ini," gumam Rezi di dalam hati.


"Mhm, bagaimana Apakah kamu mau menikah denganku?" ujar Rezi memberanikan diri untuk mengungkap apa yang ada di hatinya.


"Hah?" Zharin kaget saat mendengar pernyataan Rezi yang mendadak.


"Iya, Aku serius dengan perkataanku. Aku ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidupku, karena sejak aku bertemu denganmu, aku merasa nyaman," tutur Rezi jujur.


Air mata Zharin mulai menetes membasahi pipinya, dia tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


"Ini tidak mungkin, aku yakin kamu sudah salah orang," ujar Zharin membantah.


Zharin tidak ingin terbang lebih tinggi lagi dari angan-angannya. Dia takut terjatuh ke dasar bumi yang paling dalam.


"Benar, Rin. Aku ingin sekali memperistrimu," lirih Rezi.


Kali ini Rezi menatap dalam wajah Zharin yang terlihat pucat karena sakit.


"A-aku." Zharin bingung harus menjawab apa.


Di sisi lain dia juga merasa nyaman saat berada di samping dokter tampan ini, dia juga bahagia di saat sang dokter tampan memberi perhatian lebih untuknya.

__ADS_1


"Tidak bisa, Zharin tidak boleh menikah," ujar ibu Zharin yang tiba-tiba datang.


Bersambung...


__ADS_2