Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 58


__ADS_3

Mereka menghentikan niat mereka, lalu menoleh ke arah Farel.


Mereka menghela Napas lega saat melihat pangeran kecil itu masih tertidur dengan nyenyak.


"Hehehe." Mereka terkekeh dengan apa yang terjadi.


Rama dan Diska pun keluar dari kamar Farel, setelah itu mereka pun melangkah masuk ke dalam kamar mereka yang ada di samping kamar Farel.


Sebelum tidur, Diska mengirimi Mbak Yuyun pesan bahwa mereka sudah keluar dari kamar Farel.


****


Satu minggu sudah berlalu, Pak Bayu dan Bu Naina mulai merasa bosan dengan kegiatan mereka yang hanya berdiam diri di rumah.


Sepasang suami istri itu pun kini tengah duduk di kursi panjang yang terdapat di taman belakang rumah mereka, mereka menikmati waktu sore memandangi Farel yang bermain dengan Mbak Yuyun.


"Ma," lirih Pak Bayu memanggil sang istri.


Bu Naina menoleh ke arah sang suami yang duduk di sampingnya.


"Ada apa, Pa?" tanya Bu Naina pada sang suami.


"Bagaimana kalau kita menerima tawaran dari teman Papa yang ada di kota Padang?" Pak Bayu meminta pendapat sang istri.


"Mhm," gumam bu Naina mulai berpikir.


"Aku sudah berusaha mencari lowongan kerja di semua rumah sakit yang ada di Bandung, dan beberapa rumah sakit yang ada di Jawa, tapi hasilnya sama saja tidak ada satupun yang mau menerima kita sebagai dokter di sana," ujar Pak Bayu panjang lebar.


"Tapi, Pa. semua keluarga kita ada di Bandung. Jika kita pindah ke Padang otomatis kita akan jauh dari keluarga," ujar Bu Naina merasa keberatan untuk pindah ke kota Padang.


"Apalagi saat ini Diska juga bekerja di sini, apa Papa yakin berada di tempat yang jauh dari Putri kita?" ujar Bu Naina lagi.


Dia memberikan alasan keberatannya untuk bekerja di rumah sakit yang ada di kota Padang.


"Sayang, jika yang menjadi masalahnya adalah keluarga, kita bisa pulang ke sini satu kali setahun atau satu kali dalam 6 bulan," ujar Pak Bayu.


Kelihatannya pak Bayu mulai menerima tawaran dari temannya yang ada di kota Padang.


Sepasang suami istri itu pun terdiam, mereka mulai memikirkan nasib karir mereka yang tiba-tiba bermasalah.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita buka klinik di sini?" Bu Naina memberikan usul.


"Tidak bisa, aku sudah mencoba mencari tahu prosedur dalam membuka klinik. sepertinya memang ada seseorang yang ingin menghancurkan karir kita, sehingga kita tidak dapat melanjutkan karir kita di sini maupun di pulau Jawa ini." jelas Pak Bayu.


Pak Bayu sudah menyelidiki alasan beberapa rumah sakit yang ada di kota Bandung tidak mau menerima mereka, nama mereka di blacklist oleh semua rumah sakit yang ada di pulau Jawa.


Kalaupun mereka mendirikan klinik maka mereka tidak akan mendapatkan izin operasional klinik tersebut.


Pak Bayu mulai menjelaskan informasi yang sudah didapatnya. hanya saja Pak Bayu tidak tahu siapa dalang di balik semua ini.


Pak Bayu yang selama ini tidak pernah merasa ada memiliki musuh, dia tidak ingin mencari siapa orang dibalik semua ini, lebih baik dia pergi daripada mempermasalahkan karena yang tiba-tiba hancur.


Pak Bayu mulai membujuk istrinya untuk menerima tawaran dari sahabatnya yang ada di kota Padang.


"Baiklah kalau begitu, Pa. aku ikut keputusan papa, lalu bagaimana dengan Diska?" Naina mengkhawatirkan keadaan putrinya.


"Sayang, Dika sudah menikah Ma dia sudah memiliki seorang suami yang akan menjaganya, Rama tidak akan menyia-nyiakan istrinya karena Rama sangat menyayangi Putri kita," ujar Pak Bayu.


Bu Naina mengangguk paham, dia pasrah dengan apa yang sudah diputuskan oleh suaminya.


"Kita akan bicarakan hal ini pada Diska di saat dia sudah pulang nanti," ujar Pak Bayu.


Sepasang suami istri itu pun langsung melangkah menuju taman belakang di mana kedua orang tua Diska dan Putra mereka sedang bermain di sana.


"Assalamu'alaikum," ucap Diska saat mereka sudah berada di taman.


mendengar suara wanita yang sangat disayanginya, Farel langsung menghentikan permainannya dia berlari menuju wanita yang selalu menjaganya.


"Bun-nda," seru Farel.


Bocah kecil itu langsung menghambur ke dalam pelukan bundanya.


"Anak Bunda lagi ngapain?" tanya Diska menyapa putranya.


"Main mobil-mobilan, tadi aku jatuh," cerita Farel dengan gaya yang sangat imut.


Diska menciumi pipi Putra kecilnya, dia gemes dengan aksi Sang putra kecil.


Semua orang yang ada di sana pun tertawa mendengar celotehan Farel yang mengadu pada sang Bunda.

__ADS_1


Diska menggendong putranya, dia ikut duduk bergabung dengan kedua orang tuanya.


"Mama dan Papa lagi ngapain di sini?" tanya Diska.


Diska melihat raut wajah kedua orang tuanya tengah membicarakan hal yang sangat serius.


"Tidak ada, Sayang. Mama dan papa cuman duduk santai di sini sambil melihat Farel bermain," jawab Bu Naina.


"Diska," lirih Pak Bayu.


Pria paruh baya itu meminta perhatian Sang Putri.


"Iya, Pa," lirih Diska.


Riska menatap wajah serius papanya, dia yakin papanya ingin mengungkapkan suatu hal yang penting.


"Bagaimana menurutmu jika mama dan papa menerima tawaran teman Papa yang ada di kota Padang?" Pak Bayu meminta pendapat dari putrinya.


Diska menoleh ke arah sang suami yang kini berdiri di sampingnya, Rama masih saja diam dia belum bisa mengeluarkan pendapatnya.


"Menurut aku, semua itu terserah papa dan mama. jika Papa dan Mama menganggap tawaran mereka lebih baik daripada di sini, kenapa tidak," ujar Diska menyampaikan pendapatnya.


"Apakah kamu tidak keberatan jika mama dan papa menetap di Kota?" tanya Bu Naina.


Wanita paruh baya itu ingin memastikan keadaan putrinya saat ditinggal oleh kedua orang tuanya.


"Jika mama dan papa menanyakan aku keberatan atau tidak, aku sangat keberatan karena hal itu akan membuat aku berada jauh dari mama dan papa. Tapi, jika memang tidak ada jalan keluarnya aku tidak bisa menghalangi langkah mama dan papa," tutur Diska jujur.


Pak Bayu dan Bu Naina saling melempar pandangan, mereka tahu bahwa keputusan ini akan membuat putrinya sedih.


"Sayang, papa dan mama sudah berusaha mencari tempat yang baik buat kami di kota pulau Jawa, tapi tak ada satupun rumah sakit yang menerima kami di sini." Pak Bayu pun menyampaikan informasi yang sudah didapatnya.


"Siapa yang berani melakukan hal ini kepada Papa dan Mama?" tanya Diska tidak percaya ada orang yang merusak jalan karir kedua orang tuanya.


"Untuk saat ini kita tidak perlu tahu siapa yang sudah melakukannya, usaha yang harus kita lakukan adalah mencari solusinya," ujar Pak Bayu dengan lapang dada.


Diska terdiam dengan ucapan papanya, dia tahu saat ini papanya sedang berusaha untuk berlapang dada dalam menghadapi ujian yang kini ada di depan mata mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2