Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 26


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Pak Bayu yang kini sedang terbaring lemah dengan berbagai alat medis.


Diska langsung menghampiri papanya yang terbaring di sana, Rezi langsung menekan tombol panggil dokter.


Rama hanya diam di tempatnya, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, saat ini dia sedang mencoba membaca situasi yang ada di hadapannya agar dia tak salah bertindak di mata kedua orang tua Diska.


"Pa-pa, Diska di sini," lirih Diska memeluk pria yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya itu.


"Ka-kamu ke-ke-ma-na sa-sa-ja," lirih Pak Bayu terbata-bata.


"Maafin Diska, Pa. Diska pergi tidak pamit sama mama dan papa, Diska cuma ingin menenangkan pikiran saja," ujar Diska merasa bersalah pada papanya.


Diska sadar apa yang sudah dilakukannya merupakan suatu kesalahan besarnya.


Bersyukur saat ini Allah masih mengizinkan Diska untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, jika Allah mengambil mereka di saat Diska masih di desa Tanjung, maka penyesalan terbesar akan dihadapinya.


"Maafkan Diska, Pa. Hiks." Diska mulai terisak.


Air matanya mengucur dengan derasnya di dalam pelukan sang ayah.


Air mata Diska mulai membasahi dada bidang pria yang mulai berusia lanjut.


"Maaf, Dokter Diska. Kami coba periksa dokter Bayu dulu," ujar seorang dokter yang sudah berada di dalam ruang rawat itu.


Rama mendekati Diska, dia memegang tangan Diska dengan erat memberi kekuatan pada wanita yang disayanginya agar tidak lagi menangis.


Genggaman tangan Rama menarik perhatian Rezi, tatapan mata Rezi terus tertuju pada tangan wanita yang dicintainya seorang pemuda yang baru saja bertemu dengannya.


Matanya terasa panas, hatinya hancur melihat Diska berada di dekat pria itu, pikiran Rezi juga membayangkan bahwa Diska telah menyerahkan dirinya seutuhnya pada pria itu.


Rezi tak sanggup menhan emosinya, dia pun melangkah keluar dari ruangan itu. Diska dan Rama tidak memperdulikan Rezi yang keluar begitu saja.


Pak Bayu melihat Rama, dia penasaran dengan keberadaan pria asing itu di samping putrinya.


Pria paruh baya itu semakin penasaran, saat dia melihat putrinya menggenggam erat tangan si pria, Pak Bayu melihat dengan jelas ketulusan pria itu pada putrinya, meskipun saat ini dia tidak memeluk putrinya, dari genggaman tangan itu Pak Bayu dapat merasakan bahwa putrinya nyaman berada di samping sang pria asing.


"Alhamdulillah, Dokter Bayu, anda sudah melewati masa kritis anda, semoga kesehatan anda sudah lebih baik saat dokter Diska sudah di sini merawat, Dokter Bayu," ujar Dokter Gunawan pada Papa Diska sambil melirik ke arah Diska.

__ADS_1


Dokter Gunawan sengaja menyindir Diska yang sudah pergi tanpa izin kedua orang tuanya.


Berita Diska pergi dari rumah memang menyebar hampir di kalangan dokter yang bekerja di rumah sakit itu, karena dokter Bayu alias papa Diska sempat marah-marah pada direktur rumah sakit yang sudah mengizinkan Diska cuti selama 2 Minggu.


"Terima kasih, Om," ucap Diska pada Gunawan yang merupakan rekan papanya.


"Sama-sama, Dokter Diska. Lain kali kalau mau pergi liburan minta izin orang tua dulu," nasehat dokter Gunawan pada Diska.


"Baik, Om," ujar Diska.


Dari apa yang didengarnya, Rama dapat menyimpulkan bahwa Diska datang ke Desa Tanjung dengan alasan pergi liburan, Rama juga dapat mengetahui kedatangannya ke desa Tanjung tanpa izin kedua orang tuanya.


"Mhm, oh iya. Habis liburan langsung dapat pendamping hidup, Dokter," ujar Dokter Gunawan menggoda putri dari rekannya.


Dokter Gunawan sengaja berbicara seperti itu karena dia melihat genggaman tangan sepasang sejoli yang seolah tidak ingin terlepas.


Tiba-tiba Diska dan Rama melepaskan genggaman tangan mereka, wajah keduanya berubah memerah menahan malu.


"Ya sudah, kalau begitu, saya pamit dulu, ya," ujar Dokter Gunawan.


Setelah itu Dokter Gunawan melangkah keluar dari ruang rawat tersebut.


Diska menoleh sekilas ke arah Rama, setelah itu dia memilih untuk duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Pak Bayu.


Diska tidak langsung menjawab pertanyaan papanya, justru dia kini memijit tangan ayahnya dengan lembut.


"Pa, Diska minta maaf sudah pergi tanpa izin papa," lirih Diska sebelum mengungkap jati diri Rama pada papanya.


Pak Bayu masih diam, dia menunggu jawaban dari sang putri.


"Pa, kenalkan, ini Bang Rama. Dia adalah ayah kandung Farel," tutur Diska jujur.


Akhirnya Diska mengungkapkan siapa pria asing bagi kedua orang tuanya.


Pak Bayu terdiam, pikirannya campur aduk. Saat ini dia bingung harus berbuat apa.


Pak Bayu menatap dalam pria yang kini hanya diam di depan pak Bayu.

__ADS_1


Terlihat Rama menundukkan kepalanya di depan orang tua Diska.


"Om, maafkan saya atas kesalahan yang sudah saya lakukan pada Diska," lirih Rama dengan tulus tanpa dibuat-buat.


"Saya tahu, Om. Selama ini saya sudah membuat Diska menderita dan menjadi orang tua tunggal untuk Farel. Sekali lagi saya mohon maaf," tutur Rama dengan penuh pertanggungjawaban.


Dia sengaja tidak langsung mengungkapkan tujuan kedatangannya ke Bandung, saat ini dia hanya menunjukkan rasa penyesalannya yang sudah membuat Diska menderita beberapa tahun terakhir.


Pak Bayu hanya diam, dia belum bisa berbuat apa-apa, dia juga belum bisa mengambil keputusan apa-apa karena dia harus mempertimbangkan segala hal sebelum menerima permintaan maaf dari pria yang sudah merenggut mahkota putrinya itu.


Seketika suasana di ruangan itu hening, tak ada satu pun yang memulai bicara. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Bagaimana keadaan om Bayu?" tanya Rezi tiba-tiba masuk ke dalam ruang rawat itu.


Dia kembali masuk ke dalam ruang rawat itu setelah merasa dirinya mulai tenang.


"Alhamdulillah, papa sudah baikan, kok," jawab Diska.


Diska menoleh ke arah Rezi, setelah itu dia pun berdiri dan menghampiri Rezi.


"Kak, terima kasih, ya. Kalau tidak ada kamu pasti tidak akan ada yang menemani mama dan papa di sini," ujar Diska pada Rezi.


"Iya, untuk lain kali kamu harus bisa berpikir sebelum mengambil keputusan," ujar Rezi menasehati Diska.


"Iya, Kak. Aku tahu salah," lirih Diska.


****


Setelah 3 hari berada di rumah sakit, kedua orang tua Diska diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Saat mereka hendak pulang ke rumah sakit, Rama pasang badan sebagai seseorang yang membantu kedua orang tua Diska dalam persiapan untuk keluar dari rumah sakit.


Di saat itu Rama berperan sebagai sopir yang membawa kedua orang tua Diska pulang ke rumah.


Sedangkan Diska menunggu di rumah karena sejak tadi pagi Farel rewel tidak mau pisah dengan Diska.


Kedua orang tua Diska hanya diam saja dengan apa yang sudah dilakukan oleh Rama terhadap kedua orang tua Diska.

__ADS_1


Sesampai di rumah, kedua orang tua Diska langsung memanggil Diska dan Rama.


Bersambung...


__ADS_2