
"Diska, aku sudah mencintaimu sejak lama, kamu adalah cinta pertamaku. Diska, Diska!"
Miko masih saja berteriak. Dia tidak menyadari istrinya kini mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Lagi-lagi hati Yoland hancur saat mendengar sang suami menyebut nama seorang wanita di dalam tidurnya.
Apalagi kali ini dia jelas-jelas menyatakan cinta pada wanita itu dalam tidurnya.
Awalnya Yoland ingin mencari tahu siapa wanita yang bernama Diska itu, tapi setiap hari dia berkunjung ke klinik di waktu jam makan siang hingga sang suami pulang dia tidak menemukan kedekatan sang suami dengan siapapun.
Jadi, Yoland tidak lagi mencari tahu sosok Diska yang disebut-sebut oleh sang suami di dalam tidurnya itu.
"Kali ini aku harus mencari tahu siapa wanita yang bernama Diska," gumam Yoland di dalam hati.
Yoland bangkit dari tidurnya, lalu dia pun melangkah keluar dari kamar menuju balkon kamarnya.
"Diska, Diska, Diska." Yoland mengucapkan nama tersebut berkali-kali.
Dia mencoba mengingat nama wanita tersebut, dia merasa pernah melihat nama itu tapi dia lupa di mana Dia melihat nama tersebut.
Yoland terus berusaha mengingat-ingat nama wanita yang bernama Diska itu, dia berencana akan membuat perhitungan dengan wanita yang bernama Diska.
Seketika Yoland teringat dengan papan nama dokter yang waktu itu disamperinnya.
"Apakah jangan-jangan Diska yang dimaksud oleh Bang Miko itu, dokter yang waktu itu," gumam Yoland di dalam hati.
Yoland akan mencari tahu siapa dokter Diska tersebut, dia akan membuat perhitungan dengan wanita yang bernama Diska itu.
Dia tidak ingin rumah tangganya yang bahagia menjadi hampa dan hancur dengan hadirnya orang ketiga.
Keesokan harinya pada saat jam makan siang, Yoland sengaja melewati ruangan Diska, dia melihat papan nama Diska tertera di pintu masuk ruangan itu.
Yoland ingin bertemu dengan Diska, tapi dia tidak dapat menemui Diska karena saat ini Diska sedang tidak dinas karena dia pergi ke Padang mengunjungi kedua orang tuanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Yoland duduk di kursi ruang tunggu yang terdapat di luar ruangan Diska.
Yoland kembali berpikir panjang, dia harus mencari tahu informasi tentang Diska.
Akhirnya dia teringat sesuatu, lalu dia pun berdiri melangkah keluar dari klinik, dia langsung menemui seseorang.
Yoland pergi ke sebuah kafe, dia sudah membuat janji dengan seseorang tersebut.
Saat dia sampai di kafe tersebut, terlihat seseorang kini tengah duduk di sebuah meja dengan mengenakan kaca mata hitam dan sebuah topi.
Yoland melangkah mendekati pria itu, lalu dia duduk tepat di depan sang pria.
"Ada apa gerangan kamu mencariku?" tanya pria tersebut.
"Zain, aku butuh bantuanmu," ujar Yoland pada si pria.
"Apa, katakan padaku!" ujar Zainal.
Zainal merupakan seorang pria yang pernah menjadi kekasih Yoland, tapi sejak Yoland menikah dengan Miko, Zainal tak lagi pernah mengganggu kehidupan Yoland.
Zainal kini juga sudah menikah dan hidup bahagia dengan istrinya.
__ADS_1
Yoland sengaja mencari Zainal di saat seperti ini karena Zainal merupakan seorang preman yang memiliki pengaruh di desa Silaping.
"Suamiku, dia kini telah berubah, tidak seperti dulu lagi. Sekarang dia juga selalu menyebut-nyebut nama seorang wanita dalam tidurnya.
"Apa?" Zainal langsung marah.
Pria bertubuh kekar itu mengepalkan tinjunya. Dia tidak terima wanita yang pernah disayanginya disakiti oleh sang suami.
"Tenanglah dulu, aku sudah mencoba mengikuti suamiku setiap waktu makan siang hingga malam dia selalu bersamaku, aku tidak menemukan hal yang mencurigakan, tapi aku penasaran dengan wanita itu," ujar Yoland.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Zainal pada Yoland.
"Aku mau, kamu carikan informasi tentang wanita itu," ujar Yoland meminta bantuan pada Zainal.
"Baiklah, siapa nama wanita itu?" tanya Zainal pada Yoland.
"Aku mendengar bahwa dia menyebut nama Diska, aku ingin kamu mencari tahu sosok Diska yang disebut oleh suamiku itu," ujar Yoland.
"Diska?" tanya Zainal.
"Ya, Diska. Sepengetahuanku dia bekerja di klinik tempat suamiku bekerja," ujar Yoland.
"Baiklah, aku akan mencari tahu tentangnya," ujar Zainal.
Zainal pun berdiri dan meninggalkan Yoland. Dia tidak ingin berlama-lama di hadapan wanita yang pernah mengisi hatinya.
Zainal takut hatinya kembali mengingat kenangan indah di masa lalu bersama wanita yang dipaksa menikah dengan pria lain oleh kedua orang tuanya.
Yoland merupakan penduduk asli desa Silaping, begitu juga dengan Miko. Hanya saja kedua orang tuanya sudah lama merantau di luar daerah.
Yoland masih duduk di tempatnya sambil memandangi punggung mantan kekasihnya itu, dia mengenang masa lalunya bersama Zainal.
Kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka karena Zainal bukanlah pria yang berasal dari keluarga yang kaya.
Apalagi dia terkenal sebagai preman di desa itu sehingga kedua orang tua Yoland tidak mau putrinya menikah dengan Zainal.
Sedangkan Zainal langsung mencari tahu sosok Diska yang dibicarakan oleh Yoland.
Dia akan menyelidiki wanita itu seperti yang diinginkan oleh Yoland.
****
"Suster Gina, saya minta tolong suruh dokter Gina untuk datang ke ruangan saya," ujar Miko saat melewati ruangan Diska.
Kebetulan di saat itu, Gina sedang membersihkan bagian depan ruangan Diska.
Gina pun masuk ke dalam ruangan, diam menoleh ke arah Diska yang kini sedang sibuk dengan ponselnya.
"Dis," panggil Gina.
"Apa?" tanya Diska mengangkat wajahnya lalu menatap Gina.
"Kamu dengar nggak apa yang barusan dikatakan oleh Pak Miko?" tanya Gina.
Diska menautkan kedua alisnya, dia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh atasannya itu.
__ADS_1
"Mhm, Pak Miko menyuruh kamu untuk datang ke ruangannya," ujar Gina.
"Hah?" Diska tidak percaya Miko bisa nekat memanggil dirinya.
"Bagaimana menurutmu, Kak? Apakah aku harus datang ke ruangannya?" tanya Diska.
Dia takut untuk menemui Miko ke ruangan atasannya itu, dia takut Miko akan berbuat sesuatu yang tidak tidak kepadanya.
"Ya udah, aku temani, tapi aku menunggumu di luar, ya," ujar Gina menawarkan diri.
"Baiklah, kalau seandainya aku teriak kayak gini langsung masuk ya," ujar Diska.
"Siap," sahut Gina.
Akhirnya sebelum mereka membuka praktek, Gina dan Diska melangkah menuju lantai 2 tempat ruangan Miko berada.
Tok tok tok.
Diska mengetuk pintu ruangan Miko saat dia sudah berada di depan ruangan tersebut.
"Masuk!" Terdengar suara teriakan Miko dari dalam ruangan.
Perlahan Diska membuka pintu ruangan tersebut lalu mengulurkan kepalanya.
"Apakah Bapak memanggil saya?" tanya Diska dengan gaya formal.
Diska berusaha melupakan apa yang telah terjadi di antara dirinya dengan atasannya itu beberapa hari yang lalu.
"Iya, saya memanggilmu," ujar Miko.
"Silakan masuk," ujar Miko.
Akhirnya Diska masuk ke dalam ruangan itu dan membiarkan pintu ruangan tersebut terbuka sedikit.
Dia membiarkan Gina dapat mendengar pembicaraan mereka nantinya.
Diska duduk di sebuah kursi yang ada di hadapan Miko.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Diska langsung.
Dia tidak ingin berbelit-belit berbicara dengan atasannya itu.
Miko tersenyum, dia menatap dalam wajah wanita yang dikaguminya tersebut.
"Mengapa harus tergesa-gesa," lirih Miko.
Riska masih diam sambil memperhatikan gerak-gerik pria yang kini ada di hadapannya.
Dia berjaga-jaga jika pria itu hendak berbuat jahat padanya, meskipun ada Gina di luar ruangan dia juga harus tetap waspada.
Miko mengambil secarik kertas yang ada di laci mejanya, lalu Miko mengulurkan kertas tersebut kepada Diska.
"Bacalah surat itu," perintah Miko.
"Surat apa ini?" tanya Diska menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
Bersambung...