
Setelah shalat maghrib, Rama dan Diska keluar dari kamar.
Mereka ikut bergabung dengan semua orang yang ada di ruang makan.
"Ma, papa mana?" tanya Diska saat tak melihat papanya berada di ruang makan.
"Papa lembur, hari ini banyak pasien yang operasi," jawab Bu Naina pada putrinya.
Diska pun mulai mengambil nasi, dalam keadaannya yang masih shock, Rama mengambilkan nasi dan lauk untuknya.
"Aku suapin aja, ya," lirih Rama.
Rama mendahulukan istrinya untuk makan malam, perlahan dia menyuapi istrinya.
Diska yang awalnya tidak ingin makan, akhirnya dia pun bisa menghabiskan nasi yang diambilkan oleh sang suami.
"Kamu mau nambah?" tanya Rama pada istrinya.
"Mhm." Diska menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, kalau gitu, aku makan dulu, ya," ujar Rama pada Diska.
Setelah itu, Rama pun mengambil nasi untuk dirinya.
Dia pun mulai menyuapi nasi untuk dirinya sendiri.
Bu Naina menatap dalam putrinya , dia merasa kasihan pada sang putri, di saat Diska masih belum bisa menerima keberadaan Zharin sebagai kakaknya, justru kini dia mendapatkan musibah yang tak terduga.
Naina dapat merasakan kesedihan hati putrinya saat ini.
Namun, rasa kasihan itu sudah dapat digantikan dengan sikap Rama yang sangat perhatian pada putrinya.
"Kamu benar-benar beruntung memiliki suami sebaik dan seperhatian Rama," lirih Naina.
Naina mengusap buliran bening yang sempat jatuh membasahi pipinya.
"Ma," lirih Diska membuat Naina gelagapan menghapus buliran bening yang telah membasahi pipinya.
"Ya," lirih Naina.
__ADS_1
"Apakah mama mau menceritakan semua yang telah terjadi padaku?" tanya Diska pada wanita yang telah melahirkannya.
Bu Naina menghela napas panjang, dia pun mulai menceritakan kisah yang telah terjadi sekitar 25 tahun yang lalu.
Di dalam cerita Bu Naina kehadiran Zharin di dalam kehidupan Bu Naina, dan kehadiran Diska di dalam kehidupan Pak Bayu saat ini bukanlah salah siapa-siapa.
Kehadiran Zharin saat ini juga bukan merupakan kesalahan Zharin, tapi dia hanya meminta sebuah hak yang harus diberikan Batu pada putri sulungnya.
"Tak ada yang bisa kita salahkan, saat ini hanya kelapangan hati kita untuk bisa menerima sosok Zharin sebagai putri papamu," nasehat Bu Naina putrinya.
Rama yang sedang menikmati makan malamnya pun menyelesaikan kegiatan makannya setelah Bu Naina menyelesaikan pembicaraan mengenai Zharin.
Dia mengusap air matanya, Diska mulai dapat menerima sosok Zharin sebagai kakaknya.
Apalagi saat ini Zharin akan menikah dengan Rezi, pria yang sudah jejas-jelas selama ini dianggapnya sebagai seorang kakak.
Takkan sulit bagi Diska menerima kenyataan lagi.
****
Keesokan harinya, Miko tak terlihat hadir dalam acara pelatihan yang diselenggarakan dalam 5 hari, di hari pertama dia berusaha menyakiti Rama, di hari berikutnya dia tak terlihat sama sekali.
Rama tidak membiarkan mereka hidup tenang, saat ini teman Rama telah membawanya ke suatu tempat yang sudah jelas tidak bisa dijangkau oleh siapa pun.
Diska mengabaikan ketiadaan Miko dalam acara pelatihan tersebut, dia tetap menjalani acara pelatihan dan melaksanakan tugas yang seharusnya dikerjakannya.
Saat waktu pulang, Diska menghampiri Rezi.
"Kak, bisakah aku bertemu dengan kak Zharin?" tanya Disa memohon pada Rezi
Mereka baru saja bubar acara pelatihan, Rezi tersenyum melihat Diska yang datang menemuinya dan meminta dirinya mempertemukan Zharin dengan Diska.
"Tentu saja bisa, kita akan bertemu setelah ini. Katakan pada Rama untuk menunggu sejenak, aku akan menjemput Zharin ke kamar hotel," ujar Zharin.
Setelah itu, Rezi meninggalkan Diska, dia pun melangkah menuju ruang kamarnya sedangkan Diska meminta Rama menunggu.
"Bang, kita pergi ke suatu tempat dulu, ya. Aku ingin bertemu dengan Kak Zharin," ujar Diska pada sang suami.
"Baiklah," lirih Rama mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun menunggu Rezi dan Zharin di parkiran.
Saat Zharin sudah terlihat melangkah hendak menghampiri mereka, Diska berlari menghampiri sosok sang kakak.
Dia memeluk erat kakaknya.
"Kak, maafkan aku," lirih Diska.
Zharin bingung dengan apa yang tengah dilakukan oleh Diska, tapi dia mencoba membalas pelukan yang diberikan oleh Diska padanya.
Dia mencoba menerima sosok Diska sebagai adiknya, adik yang terlahir dari rahim yang berbeda dengannya namun dengan ayah yang sama.
"Lihatlah, mereka sudah mulai akur. Itu artinya kita juga harus akur demi kebahagiaan wanita yang paling penting dalam hidup kita," ujar Rezi pada Rama.
Rama pun tersenyum mendengar ucapan Rezi, dia seakan mengembangkan bendera perdamaian di antara mereka berdua.
Dulu Rezi merupakan pria yang juga menginginkan Diska, kini Rezi hadir di kehidupan Diska sebagai seorang kakak ipar.
Setelah itu Rama mengajak Rezi dan Zharin untuk pergi ke pusat perbelanjaan yang ada di kota Padang sekaligus untuk merayakan hari perdamaian di antara dirinya dan Rezi serta Zharin dan Diska.
"Kak, maafkan aku. Awalnya aku berpikir yang tidak-tidak antara ibu Sarah dengan Papa, ternyata masa lalu orang tua kita terlalu rumit untuk dimengerti saat ini," ujar Diska pada Zharin saat mereka berdua kini melangkah mengelilingi toko yang ada di mall tempatnya mereka berada saat ini.
Sementara itu Rezi dan Rama memilih menunggu 2 wanita itu di sebuah food court yang ada di sana.
Mereka sengaja memberi ruang untuk Zharin dan Diska saling mengenal satu sama lain, begitu juga Zharin dan Diska memberi ruang untuk Rama dan Rezi agar mereka memiliki ruang untuk saling mengenal juga.
"Sejak dulu, ibu tidak pernah membahas tentang sosok ayah. Namun, di saat aku dan Rezi berencana untuk menikah di sanalah beliau membahas tentang sosok seorang ayah padaku. Meskipun aku sangat merindukan sosok seorang ayah, tapi aku tidak ingin menyakiti ibu dengan mempertanyakan keberadaan ayah." Zharin mulai menceritakan kehidupannya yang sulit tanpa sosok seorang ayah.
Kehidupan Zharin jauh berbeda dengan kehidupan Zharin, dia tumbuh dengan harta yang berlimpah.
Dia bisa mendapatkan segalanya tanpa harus mengeluarkan keringat karena apa pun yang diinginkannya selalu diberikan oleh kedua orang tuanya.
"Kamu memang wanita hebat, Kak." Diska memuji sosok Zharin yang mampu menjalani hidup yang keras.
"Ya begitulah, Dek. Namanya juga hidup. Hidup merupakan sebuah perjuangan, baik berjuang demi sesuap nasi maupun berjuang meraih kebahagiaan dalam hidup kita," ujar Zharin dengan bijak.
Diska mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Zharin.
"Lalu, bagaimana ceritanya kakak bisa bertemu dengan Kak Rezi?" tanya Diska pada Zharin mulai penasaran dengan pertemuan yang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
Bersambung...