
Rama tak percaya wanita yang disuruhnya menjauh dari kehidupan Miko itu kini tengah bergelayut manja di lengan seorang pria yang umurnya tertaut jauh lebih tua darinya.
"Apa yang dilakukan Yoland di sini?" gumam Rama di dalam hati.
Mata Rama terus tertuju pada mantan istri pria yang telah mengganggu hidup istrinya.
Diska heran melihat sang suami yang asyik menatap seorang wanita yang jelas-jelas tengah duduk bersama seorang pria.
"Sayang," lirih Diska setelah mereka berdiri di sebuah tempat duduk yang sudah dipilih oleh Diska.
Rama masih menatap ke arah Yoland, Diska kini mulai mengikuti arah pandangan sang suami, dia mulai menyadari bahwa wanita yang kini dipandang oleh sang suami adalah wanita yang waktu itu pernah menjumpai dirinya di klinik.
"Wanita itu," gumam Diska di dalam hati.
"Sayang," lirih Diska lagi.
Kali ini Diska menggoyangkan lengan sang suami.
"Eh, maaf, Sayang," lirih Rama.
Rama tersadar dari beberapa pertanyaan yang kini mulai menghantui di benaknya.
"Kamu mengenali wanita itu?" tanya Diska penasaran.
Diska merasa tatapan sang suami berbeda terhadap wanita yang kini duduk bersampingan dengan seorang pria tua.
Rama pun mengajak istrinya untuk duduk terlebih dahulu.
"Sayang, wanita itu adalah istri Miko," jawab Rama jujur.
Rama sengaja langsung memberitahukan istrinya siapa wanita tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
Rama juga menceritakan apa yang sudah dilakukannya terhadap wanita itu, dia memberitahukan bagaimana hubungan rumah tangga Miko dengan istrinya saat ini.
"Jadi kamu memaksa wanita itu saat suaminya butuh dukungan?" tanya Diska terlihat tidak suka.
"Mhm, begitulah," jawab Rama santai.
"Tapi, Sayang. Tidak seperti itu juga kali," ujar Diska.
"Sayang, kalau dia benar-benar wanita yang tulus mencintai suaminya meskipun aku susah payah memaksanya meninggalkan suaminya dia tidak akan mau melakukan hal itu," ujar Rama lagi santai.
"Sayang," bantah Diska.
"Sayang, lihatlah, mereka itu menjalin hubungan pernikahan bukan dengan ketulusan tapi memiliki niat dan tujuan masing-masing," ujar Rama lagi.
Rama pun memberi pengertian kepada sang istri.
"Jika memang dia tulus mencintai pria bre**sek itu, dia tidak akan mudah berpaling pada pria lain, lihat saja pria yang digandengnya kali ini, jauh lebih tua dari usianya," jelas Rama.
__ADS_1
Rama berharap Diska dapat mengerti penjelasan darinya, karena Rama tidak ingin sang istri mengira dirinya seorang pria yang tak memiliki hati nurani.
Diska tampak menghela napas panjang, dia mencoba memahami apa yang dikatakan sang suami, tapi dirinya tetap tidak setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh suaminya.
"Sayang, lain kali tidak perlu berbuat sejauh ini dalam memberi pelajaran pada orang yang berbuat jahat pada kita," ujar Diska menyampaikan pendapatnya.
"Baiklah," lirih Rama.
Setelah itu mereka pun memesan makanan yang ada di sana, lalu menikmati makanan tersebut.
****
Zharin dan Rezi kini tengah berada di ruang rawat inap rumah sakit yang ada di Bandung.
Ibu Sarah masih dirawat inap di sana karena penyakit yang dideritanya masih belum sembuh.
Bayu terpaksa meninggalkan istri pertamanya itu demi menjaga hati Naina.
Dia meminta Rezi dan Zharin menjaga Sarah di rumah sakit selama dirinya kembali ke Padang.
Dalam waktu dekat, dia akan kembali untuk menjemput Sarah dan tinggal bersama dirinya dan Naina di rumah kontrakannya.
"Ri-rin," lirih Sarah dengan susah payah.
Dia merasa dadanya sesak dan sulit untuk bernapas.
Selesai praktek, Rezi langsung menuju ruang inap calon ibu mertuanya itu kebetulan, ibu Sarah dirawat di rumah sakit tempat dia bekerja.
"Bu, ibu kenapa?" tanya Zharin pada ibunya.
Rezi langsung memeriksa kondisi ini Sarah.
Melihat kondisi ibu Sarah yang saat ini memburuk, Rezi langsung menekan tombol panggil darurat.
Tak berapa lama seorang perawat dan dokter masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memeriksa kondisi ibu Sarah.
Zharin menatap sedih pada dokter yang kini sedang menjalankan tugasnya.
Rezi memeluk tubuh Zharin memberi kekuatan pada wanita yang kini dicintainya itu.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Rezi pada dokter yang bertugas setelah sang dokter selesai melakukan pemeriksaan.
"Kondisi Bu Sarah saat ini mulai melemah, kami akan memberikan obat dan penanganan yang lebih intensif untuk pasien," jawab dokter tak banyak bicara.
"Baiklah, Dok. Terima kasih," ujar Rezi.
Rezi mengerti dengan kondisi calon ibu mertuanya saat ini, makanya dia memilih untuk banyak diam agar Zharin tidak terlalu mencemaskan keadaan ibunya.
Saat ini, terlihat perawat memasangkan selang oksigen untuk ibu Sarah, agar ibu Sarah dapat bernapas lebih mudah.
__ADS_1
Perawat juga mengganti tabung infus yang kini digunakan oleh pasien.
Zharin menoleh ke arah Rezi, dia menatap pria yang sudah melamarnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Bang, apa yang terjadi pada Ibu?" tanya Zharin pada Rezi yang juga terlihat mengkhawatirkan keadaan ibu Sarah.
Rezi tidak menjawab pertanyaan dari wanita yang dicintainya itu, dia hanya diam lalu menarik tubuh Zharin dan memeluknya dengan erat.
"Apa yang terjadi? Aku mohon jelaskan padaku." Zharin mulai menangis.
Dia tahu saat ini ibunya sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu sabar, ya. Kita harus banyak bersabar dan berdo'a agar Ibu cepat melewati masa kritisnya," ujar Rezi sambil mengelus punggung Zharin.
Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Rezi, pria itu membawa Zharin untuk duduk di sebuah kursi yang terletak di samping tempat tidur ibu Sarah.
Setelah itu Rezi pun memberitahu Pak Bayu apa yang kini terjadi di rumah sakit, Rezi berharap Pak Bayu bisa datang sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Papa kamu akan datang, kamu harus kuat," ujar Rezi pada Zharin setelah dia Selesai menghubungi pak Bayu.
Zharin menatap sendu pada wajah ibunya yang terlihat semakin kurus dan kini wajahnya terlihat pucat pasi.
Hatinya terasa hampa, Zharin tidak sanggup hidup tanpa kehadiran ibunya itu. Gadis itu belum siap untuk kehilangan wanita yang telah melahirkannya serta merawat dan membesarkan dirinya hingga dia tumbuh dewasa seperti saat ini.
Buliran bening terus jatuh membasahi pipi Zharin, tanpa adanya Isak tangis terdengar.
Saat ini Zharin merasa putus asa, dia merasa bimbang dan gamang akan menjalani hidup tanpa adanya sosok sang ibu.
3 jam berlalu.
Zharin terus menatapi wajah renta sang ibu, tak berapa lama Zharin melihat ibunya sadarkan diri dan membuka matanya.
"Ibu," lirih Zharin langsung menghampiri ibunya.
Zharin menggenggam erat tangan ibunya yang kini tinggal tulang.
"Ibu, ini Zharin. Ibu," lirih Zharin menciumi tangan sang ibu.
"Hei, anak ibu kenapa nangis," tanya Ibu Sarah sambil tersenyum.
Wanita renta itu sengaja berlagak kuat di hadapan putrinya karena dia tidak ingin melihat putrinya menangis.
Tok tok tok tok.
Terdengar suara pintu ruangan tersebut diketuk oleh seseorang.
Tak berapa lama terlihat tamu yang datang, mata Sarah tertuju pada tamu yang datang, dia menggelengkan kepalanya tak percaya melihat sosok yang kini berdiri di ambang pintu masuk.
Bersambung...
__ADS_1