Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 45


__ADS_3

"Ya Allah, Nak. Akhirnya Allah mengabulkan do'a-do'a Uci," lirih Uci Desmi.


Mereka yang ada di rumah Uci Desmi tersenyum.


Mereka sangat bahagia dengan apa yang kini sudah didapat oleh Rama dan Diska.


"Uci," lirih Rama.


Uci Desmi menoleh pada Rama.


"Ada hal yang akan aku sampaikan pada Uci," ujar Rama sengaja menggantung ucapannya menunggu respon dari Uci Desmi.


"Apa itu, Nak?" tanya Uci Desmi menunggu jawaban dari Rama.


"Sebagai rasa syukur atas bersatunya aku dengan Diska, aku ingin mengadakan resepsi pernikahan di desa ini, bisakah acara resepsi itu dilaksanakan di sini?" tanya Rama meminta izin pada wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya.


Di desa Tanjung hanya Uci Desmi yang menjadi satu-satunya tempat Rama mengadu selama ini, sejak kedua orang tuanya meninggal dunia.


"Benarkah? Dengan senang hati, Uci sangat bersedia kalian mengadakan resepsi pernikahan di rumah ini," ujar Uci Desmi senang.


"Kapan acaranya?" tanya Rama.


"Kira-kira minggu depan bisa enggak, Ci?" tanya Rama meminta pendapat.


"Kenapa buru-buru? kalian baru saja sampai di sini, mempersiapkan acara pernikahan di sini butuh waktu agar acaranya berjalan dengan sukses." Uci Desmi menyampaikan pendapatnya.


"Mhm, Diska harus masuk kerja. dia tidak bisa berlibur lebih lama," ujar Rama


"Ya sudah, Kalau begitu bagaimana acara resepsinya diadakan pada hari Rabu, agar kita memiliki persiapan yang lebih matang," ujar Uci Desmi.


"Bagaimana?" tanya Rama pada Diska.


"Tidak masalah itu artinya sehari setelah acara selesai kita akan kembali ke Bandung," ujar Diska setuju dengan pendapat Uci Desmi.


"Baiklah, kalau begitu. aku minta tolong sama Uci untuk membantuku dalam melaksanakan resepsi pernikahan ini, aku juga akan meminta bantuan Rudi dalam menyiapkan hal ini," ujar Rama.


"Iya, Nak. Apapun akan Uci lakukan untuk kalian, karena Uci sudah menganggap kalian sebagai putra dan putri Uci," ujar Uci Desmi senang.


"Oh iya, Uci harus masak buat makan malam kita," ujar Uci Desmi teringat bahwa dia belum memasak sama sekali.


"Uci, tidak perlu sibuk-sibuk. Aku sudah membeli beberapa gulai dan sambal untuk lauk kita makan malam nanti," ujar Diska.

__ADS_1


"Mhm, nanti tinggal dipanaskan saja," ujar Diska lagi.


"Ya sudah kalau begitu," ujar Uci Desmi.


"Oh, iya. Aku ke rumah Rudi dulu, aku harus ngomong masalah ini pada Rudi secepatnya," ujar Rama pada semua orang di sana.


"Ya udah, kamu hati-hati, ya," ujar Diska.


Rama berdiri lalu dia melangkah menuju rumahnya, di saat Rama berdiri di depan rumahnya dia teringat ingin merenovasi rumah peninggalan kedua orang tuanya tersebut.


"Rumah ini sudah terlalu lapuk, seharusnya rumah ini diperbaiki agar suatu hari nanti jika kamu pulang ke sini aku bisa membawa Riska tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuaku," lirih Rama.


"Woi, Ram. Kamu sudah pulang?" Rudi langsung menghampiri sang sahabat yang kini masih berdiri di depan rumahnya sambil memperhatikan bentuk rumah peninggalan kedua orang tuanya yang semakin reot.


Rama menoleh ke arah Rudi, lalu dia tersenyum.


"Bagaimana misi kamu? Apakah berhasil?" tanya Rudi penasaran.


"Ayo masuk rumah dulu, nanti akan aku ceritakan semuanya padamu." Rama mengajak Rudi masuk ke dalam rumahnya.


Mereka terkini sudah duduk di sebuah kursi rotan yang terlihat sudah lapuk, Rudi duduk memperhatikan raut wajah sang sahabat dia mulai menerka-nerka apa yang sudah terjadi selama berada di Bandung.


"Menurut raut wajahmu, aku yakin misi yang kamu lakukan sudah berhasil Apakah benar apa yang aku katakan?" tanya Rudi menebak apa yang sudah terjadi.


"Aku sudah menikah dengan Diska," ujar Rama.


Perkataan Rama berhasil membuat Rudi membulatkan matanya tidak percaya, dia tidak menyangka dengan mudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Diska.


"Kamu serius? Hahaha." Rudi tertawa bahagia lalu dia langsung menghampiri sahabatnya.


Rudi memeluk erat sang sahabat sebagai ucapan selamat atas pernikahan yang telah dijalani oleh sahabatnya.


"Lalu apa rencanamu setelah ini?" tanya Rudi penasaran apa tindakan yang akan diambil oleh sang sahabat setelah menikah dengan gadis kota itu.


"Aku akan ikut bersama Diska ke kota," jawab Rama.


Seketika wajah Rudi terlihat murung, ada perasaan sedih saat mendengar jawaban sang sahabat. Jika Rama tinggal di kota itu artinya dia akan berpisah dengan sang sahabat.


"Hei, kamu kenapa kenapa wajahmu jadi sedih?"tanya Rama heran melihat perubahan raut wajah sahabatnya.


"Itu artinya kamu akan meninggalkanku di sini seorang diri," ujar Rudi mengungkapkan rasa kecewa yang ada di hatinya.

__ADS_1


"Iya, aku harus melakukan hal ini. aku tidak mungkin membiarkan Diska tinggal di kota seorang diri setelah kami menikah, masalah kebun yang ada di sini akan aku serahkan pengelolaannya kepadamu," ujar Rama menyampaikan tujuan kedatangannya ke desa itu.


Sebelum Rama menetap di kota dia harus memastikan keadaan kebun yang dimilikinya dikelola oleh orang yang dipercayainya.


Rudi masih terdiam mendengar ucapan dari sang sahabat, meskipun dirinya kecewa dan sedih tapi dia bukanlah seorang yang egois.


"Baiklah, Aku akan melakukan apapun untukmu tapi aku minta kamu jangan pernah lupa untuk kembali ke desa ini," pintar Rudi Padang sahabat.


Rudi tidak ingin Rama lupa akan Desa tempat mereka tumbuh dari kecil bersama, desa yang memiliki kenangan terindah bagi mereka berdua.


Rama tersenyum mendengar ucapan sang sahabat, dia terharu.


"Kamu tenang saja aku akan pulang satu kali tiga bulan untuk mengurus berbagai hal yang ada di sini," ujar Rama menyampaikan rencana yang sudah ada di otaknya.


"Oh iya, Aku akan mengadakan acara resepsi pernikahan di sini sebagai rasa syukur yang telah diberikan Tuhan kepadaku," ujar Rama menyampaikan tujuannya menemui sang sahabat.


"Untuk itu aku butuh bantuanmu dalam mempersiapkan berbagai hal," udah lama lagi berharap Rudi akan membantunya dalam mempersiapkan acara resepsi pernikahan yang akan mereka selenggarakan pada hari Rabu minggu depannya.


"Benarkah kalau begitu aku akan lakukan apa saja untukmu," sahut Rudi dengan senang hati.


"Ya sudah, kalau begitu. Ayo kita ke rumah Uci Desmi, kita makan malam di sana," ajak Rama pada sahabatnya.


Mau tak mau Rudi pun ikut dengan sang sahabat ke rumah Uci Desmi.


Akhirnya kedua sahabat itu keluar dari rumah Rama, mereka langsung menuju rumah Uci Desmi menggunakan sepeda motor milik Rudi.


Sebelum waktu maghrib masuk, Rama dan Rudi sudah sampai di rumah Uci Desmi.


Mereka melangkah masuk ke dalam rumah wanita paruh baya itu, di sana Rudi bertemu lagi dengan Mbak Yuyun.


"Eh, Mbak Yuyun juga ikut ke sini?" tanya Rudi menyapa Mbak Yuyun yang kini sedang menggendong Farel.


Diska sedang memanaskan gulai dan sambal yang tadi mereka beli di tengah jalan.


"Diska mana, Mbak?" tanya Rama saat mendapati Farel bersama Mbak Yuyun.


"Nona di dapur, Bang," jawab Mbak Yuyun.


Rama langsung mengambil Farel lalu melangkah menuju dapur untuk menemui sang istri.


Dia meninggalkan Rudi dan Mbak Yuyun di teras rumah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2