Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 52


__ADS_3

Mbak Yuyun cemas melihat wanita hamil yang tengah kesakitan di hadapannya, melihat hal itu Rezi langsung membawa Diska ke. rumah sakit.


"Ayo, Mbak. Bantuin," ujar Rezi pada Mbak Yuyun.


Akhirnya Mbak Yuyun membantu Diska lalu ikut bersama mereka.


Di saat Diska sedang berada di ruang bersalin Rezi hanya diam memperhatikan sosok Mbak Yuyun dengan pakaiannya yang kotor dan lusuh.


"Mbak, kamu sudah makan?" tanya Rezi ramah.


Yuyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh pria yang sama sekali tidak dikenalnya.


"Ya sudah, kalau begitu. Mbaknya tunggu di sini dulu, saya akan pergi mencari makanan," ujar Rezi merasa kasihan melihat wanita yang sudah lusuh di hadapannya.


Dia meninggalkan wanita itu sebentar, lalu datang membawakan makanan.


"Ini, Mbak. Makan yang banyak, ya," ujar Rwzi menyodorkan beberapa kotak makanan pada Mbak Yuyun.


"Ya Allah, di zaman yang kejam ini masih ada orang yang baik seperti dia," gumam Mbak Yuyun di dalam hatinya.


Saat ini bagi Yuyun dunia sangat kejam terhadap dirinya. Di usianya yang sudah di atas 30, menemukan seorang pria yang akan menikahinya. Rasa syukur menyelimuti dirinya, tapi perbuatan pria itu membuat dirinya hancur dan menjadi cemoohan warga desanya. Hal itu membuat dunianya terasa sangat gelap.


Hal itu juga membuat Mbak Yuyun menganggap dunia ini sangat kejam baginya.


"Makanlah, Mbak," ujar Rezi menyuruh Mbak Yuyun untuk makan.


Ucapan Rezi membuyarkan lamunannya yang masih teringat dengan nasibnya.


Setelah Diska melahirkan, wanita itu meminta Mbak Yuyun tinggal bersama dirinya dan membantunya dalam merawat putra kecilnya.


Kehadiran Diska dalam hidup Mbak Yuyun menjadikan wanita yang baru saja mengalami hal yang buruk bagi seorang wanita membuat dia kembali memiliki semangat hidup.


Begitu juga bagi Diska, kehadiran Mbak Yuyun merupakan pertolongan Tuhan padanya dalam menjalani hari-hari sebagai orang tua tunggal untuk Farel.


"Mbak, kamu kenapa menangis?" tanya Rudi pada Mbak Yuyun yang terdiam sejenak.


Mbak Yuyun tidak sadar meneteskan air matanya saat mengingat kenangan pertemuan dirinya dan Diska.


Kehidupan Diska lebih pahit dari pada jalan hidupnya, hal itu membuat dia sadar bahwa hidup harus dijalani.


"Eh, maaf," lirih Mbak Yuyun.


"Enggak apa-apa, Mbak. Maafkan saya yang sudah membuat Mbak Yuyun bersedih." Rudi merasa bersalah.


"Tidak apa-apa," ujar Mbak Yuyun.

__ADS_1


Akhirnya Mbak Yuyun pun menceritakan perjalanan hidupnya pada Rudi.


"Jadi, Mbak Yuyun belum pernah menikah?" tanya Rudi penasaran.


"Iya, begitulah," jawab Mbak Yuyun jujur.


"Memangnya berapa umur Mbak Yuyun?" tanya Rudi pada Mbak Yuyun.


"Sekitar 35 tahun," jawab Yuyun jujur.


Saat ini dia tidak lagi malu mengetahui dirinya seorang perawan tua, karena dia yakin jodoh itu di tangan Tuhan, jika Allah mengizinkan dirinya untuk menikah maka Allah akan menghadirkan seseorang dalam hidupnya.


Diska juga mengajari dirinya hidup berserah diri pada Allah. Sehingga mereka menjadi teman yang baik dan menjadi tempat saling berbagi dalam berkeluh kesah.


Apalagi Diska sudah menganggap dirinya sebagai seorang kakak.


"Wah, berarti kita seumuran, dong. Aku panggil nama saja boleh?" tanya Rudi pada Yuyun.


Rudi merasa asing memanggil Yuyun dengan sebutan 'Mbak'.


"Boleh," jawab Yuyun.


Keasyikan mereka mengobrol, tanpa mereka sadari makanan yang ada di piring mereka pun habis, karena sudah malam Rudi mengajak Mbak Yuyun menginap di rumah keluarganya yang ada di Silaping, sebelumnya dia sudah memberitahu Diska akan hal itu.


****


Rama sudah memesankan tiket, serta dia juga sudah menyuruh temannya untuk menjemput kedua orang tua Diska di Bandara.


"Alhamdulillah, kita sampai juga di tanah Minang. Seumur hidup ini merupakan pertama kalinya mama menginjak tanah Minang, Pa," ujar Bu Naina saat mereka baru saja turun dari pesawat.


Setelah mengambil barang-barang mereka, Pak Bayu dan Bu Naina keluar dari Bandara.


Mereka mencari seseorang yang memegang papan nama atas nama mereka, tak lama mereka mencari, mereka melihat seorang pria yang seumuran dengan Rama memegang papan atas nama mereka.


"Apakah kamu temannya Rama?" tanya Pak Bayu ramah pada teman Rama yang masih memegangi papan yang bertuliskan nama orang tua Diska.


"Iya, Pak. Apakah bapak kedua orang tua Diska?" tanya si sopir itu.


"Iya," jawab Pak Bayu.


"Oh iya, Pak. Sini saya bantu bawa barang-barang bapak," ujar si sopir.


Setelah itu sopir pun membantu kedua orang tua Diska membawa barang-barang mereka menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada.


Kedua orang tua Diska melangkah mengikuti langkah sopir itu, lalu mereka pun langsung melanjutkan perjalanan menuju desa Tanjung.

__ADS_1


Seperti biasa setelah ashar, mobil yang ditumpangi kedua orang tua Diska sudah berada di depan rumah Uci Desmi.


Mereka turun dari mobil tersebut sambil menatap rumah sederhana yang ada di hadapan mereka.



Pekarangan rumah yang asri membuat Bu Naina merasa nyaman melihat tatanan taman yang indah.


Tak berapa lama Diska dan Farel keluar dari rumah tersebut.


"Nenek," teriak Farel.


Bocah balita itu berlari mengejar Bu Naina, anak kecil itu terlihat sangat merindukan neneknya setelah beberapa hari tidak bertemu.


Bu Naina langsung menggendong Farel, Pak Bayu dan sopir mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam mobil.


Pak Bayu heran melihat rumah Uci Desmi yang belum dihiasi sama sekali.


"Sayang, acara pestanya besok?" tanya Pak Bayu pada putrinya.


"Iya, Pa," jawab Diska sambil menyalami tangan papanya.


"Tapi, kenapa belum ada tanda-tanda akan mengadakan pesta di sini?" tanya Pak Bayu heran.


"Tendanya akan di pasang nanti malam, Pa. Kebetulan Wedding organizer nya masih di jalan, Pa," jawab Diska.


"Oh," lirih Pak Bayu.


"Ayo, masuk, Pa. Ini rumah Uci Desmi, tempat aku tinggal selama bertugas di sini 3 tahun yang lalu," ujar Diska memberitahukan kedua orang tuanya.


Mereka pun melangkah masuk, sementara itu Diska menghampiri sopir mobil.


"Terima kasih ya, Bang. Nanti Bang Rama langsung ke rumah Abang, ya," ujar Diska pada sang sopir.


"Baiklah," ujar si sopir itu.


Si sopir pun pergi meninggalkan rumah Uci Desmi, lalu Diska masuk ke dalam rumah.


Diska memperkenalkan kedua orang tuanya pada Uci Desmi, wanita paruh baya itu menyambut kedatangan kedua orang tua Diska dengan suka cita.


Tak banyak obrolan yang mereka bahas, karena Uci Desmi masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya.


Sedangkan Pak Bayu dan Bu Naina sudah lelah menempuh perjalanan jauh.


Uci Desmi menyediakan satu kamar lain di rumahnya untuk tempat kedua orang tua Diska.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2