Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 60


__ADS_3

Rezi meremas map yang ada di tangannya, dia tak menyangka pelaku yang merusak karier kedua orang tua Diska adalah orang yang sangat dekat dengannya.


"Terima kasih atas informasinya, nanti bayaranmu langsung aku transfer," ujar Rezi.


Setelah itu dia pun melangkah meninggalkan si pria itu, dia langsung masuk ke dalam mobil.


"Siapa orang itu?" tanya Zharin penasaran dengan pria yang baru saja menemui Rezi.


"Oh, itu temanku. Ada urusan yang harus aku selesaikan," jawab Rezi.


Zharin memperhatikan perubahan sikap Rezi. Dokter tampan itu tadi masih riang, wajahnya berubah seketika setelah bertemu dengan pria itu.


Rezi melajukan mobilnya meninggalkan kawasan rumah sakit, sepanjang perjalanan Rezi hanya diam tidak seperti biasanya.


Melihat hal itu, Zharin juga memilih untuk diam, dia takut salah jika mengajak dokter tampan itu berbicara.


Dokter tampan itu menghentikan mobilnya setelah sampai di gang rumah Zharin.


"Terima kasih," ucap Zharin sebelum turun dari mobil.


Rezi hanya diam, setelah Zharin turun dari mobil dia langsung melajukan mobilnya tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Zharin. Di dalam pikirannya kini ingin cepat sampai di rumahnya.


Zharin merasa sedih dengan sikap Rezi, meskipun dia terus berusaha menenangkan dirinya.


"Ya Allah, kenapa aku jadi sedih seperti ini?" gumam Zharin di dalam hati.


Zharin memandangi mobil Rezi yang semakin menjauh dari tempatnya.


Gadis pesisir itu pun membalikkan tubuhnya, lalu melangkah menuju rumahnya.


Sesampai di rumah, Rezi langsung mencari sosok papanya.


"Pa, Papa!" teriak Rezi di rumah yang megah itu.


Mama Rezi keluar dari kamar lalu dia menghampiri putranya yang berteriak-teriak memanggil nama sang suami.


"Rezi, ada apa ini?" tanya mama Rezi heran dengan apa yang dilakukan oleh sang putra.


"Papa mana, Ma?" tanya Rezi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papanya.


"Ada apa dengan papamu?" tanya Mama Rezi.


"Di mana papa, Ma?" tanya Rezi lagi pada mamanya


Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Mamanya.


Tak berapa lama Rezi dan mamanya berdebat, Pak Sulthan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Pak Sulthan heran melihat putranya yang datang-datang sudah ribut tidak keruan.


"Apa maksud papa melakukan hal ini?" tanya Rezi pada papanya.


Rezi menyodorkan map yang ada di tangannya pada pak Sulthan.


"Melakukan apa? Kamu kalau ngomong yang jelas, dong," bantah Pak Sulthan kesal dengan sikap Rezi.


"Lihatlah isi map itu!" pinta Rezi pada papanya.


Pak Sulthan pun membuka map yang dibawa oleh Rezi, map itu berisi bukti-bukti Pak Sulthan yang menjadi dalang di balik hancurnya karir kedua orang tua Diska.


"Dari mana kamu dapat semua ini? Hah?" tanya Pak Sulthan kesal pada putranya.


Bukannya dia mendukung apa yang sudah dilakukannya sebagai wujud balas dendam sudah mempermalukan harga diri mereka, justru Rezi malah mencari tahu penyebab diberhentikannya pak Bayu dan Bu Naina dari rumah sakit tempat mereka bekerja.


"Papa tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkan ini semua, mengapa papa lakukan ini?" tanya Rezi dengan penuh amarah.


"Kamu menanyakan alasan papa melakukan hal ini?" bentak Pak Sulthan kesal dengan sikap Rezi.


Dia menganggap Rezi sebagai seorang pria yang bodoh diperlakukan oleh Diska seperti itu.


Selama 3 tahun ini Rezi adalah satu-satunya orang yang selalu ada di samping Diska.


Dia adalah orang yang menemani Diska menjalani sulitnya kehidupannya selama 3 tahun ini.


"Perbuatan yang papa lakukan bukanlah perbuatan seorang yang berpendidikan," ujar Rezi. dengan nada tinggi.


Plak.


"Papa!" pekik mama Rezi.


Pak Sulthan menampar wajah putranya, dia tidak dapat menahan amarahnya yang semakin meluap saat mendengar ucapan sang putra.


Rezi terdiam dengan apa yang baru saja dilakukan oleh papanya. Dia menatap tajam ke arah papanya.


Pak Sulthan menggenggam tangannya yang sempat menampar wajah putra satu-satunya, putra yang sangat disayanginya.


"Pa, aku ini sudah besar, aku bukan lagi seorang anak kecil. Papa tidak bisa mengatur hidupku. Aku malu memiliki seorang panutan yang memiliki pikiran yang begitu picik seperti papa," ujar Rezi penuh penekanan.


Rezi pun keluar dari rumah.


Dia yang baru saja sampai di rumah kembali keluar dari rumah megah kedua orang tuanya.


"Rezi, kamu mau ke mana?" tanya Mama Rezi.


Wanita paruh baya itu ingin mengejar langkah sang putra, tapi sang suami menghalanginya.

__ADS_1


"Biarkan dia pergi, nanti kalau dia sadar dia juga akan kembali," ujar Pak Sulthan.


Rezi masuk ke dalam mobilnya, lalu dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediaman kedua orang tuanya.


Rezi kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh papanya, dia merasa malu atas perbuatan konyol sang papa.


Sang dokter tampan itu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Dia malu pada Diska, dia tidak akan berani lagi bertemu dengan gadis yang dicintainya itu karena ulah papanya yang sudah menghancurkan masa depan kedua orang tuanya.


Kini Rezi duduk di sebuah batang yang terbaring di pinggir pantai.


Dia menatap jauh ke lautan lepas yang ada di hadapannya saat ini.


Pikiran Rezi kacau, dia bingung memikirkan cara untuk membantu kedua orang tua Diska.


Dia berniat ingin mengembalikan pekerjaan kedua orang tua Diska seperti semula, tapi dia tidak memiliki kekuatan seperti papanya.


Pak Sulthan merupakan seorang dokter yang paling berpengaruh di kota Bandung.


Dalam profesinya sebagai seorang dokter terkenal, dia juga memiliki beberapa saham di beberapa rumah sakit yang ada di pulau Jawa karena Pak Sulthan merupakan keturunan orang kaya dan seorang pebisnis handal.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang wanita yang datang menghampirinya.


Rezi tersadar dari lamunannya, dia menoleh ke arah asal suara yang mengajaknya berbicara.


"Kamu?" lirih Rezi.


Zharin duduk di samping Rezi.


"Apakah kamu ada masalah?" tanya Zharin pada Rezi.


Zharin yang tadi sedang mencari kepiting di pinggir pantai untuk makan malam tak sengaja melihat Rezi sedang duduk di pinggir pantai.


"Mhm, maaf tadi aku mengabaikanku," ujar Rezi tanpa menjawab pertanyaan dari gadis itu.


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu," ujar Zharin.


Mereka terdiam sejenak.


"Di saat kita dalam memiliki masalah, duduk di pinggir pantai sambil menatap luasnya lautan akan memberikan sebuah ketenangan bagi kita," lirih Zharin.


Rezi menoleh ke arah Zharin, dia menatap dalam pada wajah gadis cantik yang ada di sampingnya saat ini.


Rezi merasa garis pesisir itu sangat mengerti dengan apa yang saat ini dirasakannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2