
"Hahaha, Mbak Yuyun boleh tinggal di sini. Biar bisa makan durian yang banyak," ujar Rama menanggapi.
"Mhm, Mbak Yuyun mau tinggal di sini kalau seandainya ada jodoh Nona Diska di sini," ujar Mbak Yuyun.
Seketika suasana menjadi hening mendengar ucapan mbak Yuyun.
Rama dan Diska saling menatap, mereka masih berharap untuk bisa bersama.
"Dis, andaikan kamu tahu aku saat ini sudah bercerai dengan Annisa, apakah kamu mau menikah denganku?" gumam Rama di dalam hati.
"Andai saja saat ini kamu bukanlah suami orang, aku akan menerimamu menjadi imamku, kita akan hidup bahagia dengan buah hati kita," gumam Diska di dalam hati.
"Kita do'akan saja, Mbak. Semoga Diska memiliki jodoh di sini, tuh si Rudi masih jomblo. Mana tahu Rudi mau menikah dengan Diska," ujar Uci Desmi bercanda.
"Aku sih, mau banget nikah sama Bu dokter, Ci. Tapi, sayangnya Bu Dokter enggak mau sama aku, karena aku enggak setampan ayahnya Farel," ujar Rudi.
Deg.
Lagi-lagi perkataan Rudi membuat Diska gugup. Diska yakin Rudi tengah mencurigai dirinya.
Rama hanya diam mendengar candaan dari sahabatnya, sebenarnya Rama juga merasa ada ikatan yang tersimpan di hatinya saat dia bersama Farel, dia merasa Diska menyimpan sesuatu yang tidak diketahuinya.
"Ayo, Mbak Yuyun. Kita buka duriannya," ujar Uci Desmi.
Rudi pun ambil andil membantu membuka durian itu, mereka pun menikmati durian segar yang baru saja mereka buka.
"Ternyata menikmati duren langsung dari kebun itu enak banget, ya. Sayangnya di kampung mbak Yuyun enggak ada kebon duren, kalau mau duren harus nabung dulu s cara buah duren itu buah yang paling mahal, hehehe," oceh mbak Yuyun.
Wanita yang berumur tak jauh di atas Diska itu sudah merasa akrab dengan Uci Desmi, Rama, dan Rudi karena sikap ramah mereka membuat mbak Yuyun merasa nyaman.
"Farel mau?" tanya Diska pada putranya sambil mencicipkan sedikit durian di tangannya ke mulut Farel.
Rama hanya diam sambil memangku Farel. Dia tidak terlalu antusias memakan durian yang dinikmati semua orang yang ada di sana.
Rama menikmati kehangatan yang terjadi di hadapannya.
Setelah puas menikmati durian, Uci Desmi ingin berkeliling kebun. Dia masih ingat waktu dia masih muda sering berkebun di dekat kebun Rama, tapi sayang tanah miliknya yang ada di samping kebun peninggalan kedua orang tua Rama itu sudah dijualnya.
"Rud, ikut Uci keliling, yuk. Dulu Uci sama ibu Rama sering bekerja di sini," ujar Uci Desmi mengajak Rudi.
"Aku ikut ya, Ci." Mbak Yuyun tidak mau kalah.
__ADS_1
Dia ingin memberi waktu dan ruang untuk Rama dan Diska agar mereka bisa berduaan.
"Boleh, Uci mau ke mana? Atau kita menjala anak ikan di sana," ujar Rudi semangat.
"Memangnya masih ada ikan di sana?" tanya Uci Desmi.
Dia mengenang masa-masa indahnya dulu bersama kedua orang tua Rama.
"Masih, Ci. Ayo, ikut aku! Mana tahu cukup buat makan malam nanti," ajak Rudi.
"Diska, kamu di sini aja sama Rama. Kasihan Farel kalau ikut, dia masih kecil kasihan dia," ujar Uci Desmi sengaja meminta Diska untuk tidak ikut.
Mereka pun melangkah meninggalkan pondok sederhana milik Rama.
Pondok kecil itu sudah dibangun Rama seperti rumah kecil yang memiliki teras, meskipun lantainya masih tanah, di sana terasa sangat nyaman.
Mereka pun kini duduk dalam diam, sementara itu Farel duduk di pondok bangku panjang yang tersedia di sana sambil memegang mainannya.
"Bang," lirih Diska.
"Mhm," gumam Rama yang sedang asyik memperhatikan Farel yang bermain.
Rama takut Farel terjatuh dari bangku panjang itu.
Diska mulai penasaran dengan kehidupan rumah tangga pria yang masih dicintainya itu.
"Tidak, dia tidak pernah datang ke sini," jawab Rama.
Rama masih enggan untuk memberitahukan Diska tentang hubungannya dengan Annisa.
"Aku selalu bekerja seorang diri di sini," ujar Rama lagi.
"Mhm, lalu apakah kamu selalu pulang ke rumah setiap hari?" Diska melihat perlengkapan Rama di pondoknya sangat lengkap.
Seolah Rama selalu bermalam-malam di pondoknya itu, sama seperti saat dia dan Rama bertengkar sebelum mereka berbaikan.
"Ya, aku lebih sering menginap di sini." Rama menjawab pertanyaan Diska seadanya.
"Lalu sekali berapa Minggu kamu kembali ke desa?" tanya Diska semakin penasaran.
Dia merasa sedih melihat Rama sekarang. Dia yakin hubungannya dan Annisa mungkin sedang tidak baik-baik saja. Melihat penampilan Rama, Diska yakin Annisa tidak pernah mengurus Rama dengan baik.
__ADS_1
"Setiap hari Jumat aku akan kembali ke desa, jika ada keperluan aku juga akan kembali ke desa menjual hasil kebun," jawab Rama.
Mendengar jawaban dari pria yang sangat dicintainya itu, Diska merasa Rama tidak memiliki komunikasi yang baik dengan Annisa.
"Mhm, lalu apakah kalian sudah dikaruniai seorang anak?" tanya Diska pada Rama.
Melihat dia yang sangat berhati-hati menjaga Farel, Diska yakin Rama sudah memiliki anak dari perempuan itu. Sikap Rama pada Farel memperlihatkan bahwa dia seorang ayah yang baik.
"Aku sama Nisa tidak memiliki seorang anak pun," jawab Rama jujur.
"Apa?" lirih Diska.
"Apakah Annisa memiliki penyakit?" tanya Diska lagi.
"Tidak," jawab Rama menggelengkan kepalanya.
"Lalu? Apakah hubungan kamu dan Annisa baik-baik saja?" Diska khawatir Rama tidak memperlakukan Annisa dengan baik karena cinta pria itu masih teruntuk dirinya.
"Hingga saat ini hubungan kami biasa saja, tidak ada masalah besar yang terjadi di antara kami," jawab Rama.
Ingin rasanya Rama mengungkapkan kenyataan yang sudah terjadi dalam hidupnya, tapi untuk saat ini dia masih ragu.
Rama belum yakin, Diska akan mau menjalin hubungan kembali dengannya.
"Bang, jujur aku merasa sedih melihatmu saat ini. Kamu memiliki istri tapi seperti tidak memiliki istri sama sekali." Akhirnya Diska pun mengungkapkan rasa sedihnya melihat Rama yang tidak terurus sama sekali.
"Jika kalian tidak memiliki masalah, sebagai seorang istri Annisa harus mengurusmu dengan baik, tidak seperti ini," ujar Diska kesal pada Annisa.
Menurut Diska, Annisa sudah beruntung mendapatkan Rama, tapi dia justru menyia-nyiakan pria yang baik hati itu.
Rama dapat melihat dengan jelas wajah kesal Diska yang tidak terima Annisa memperlakukan pria yang dicintainya itu dengan baik.
Rama tersenyum melihat wajah wanita yang disayanginya itu ditekuk karena kesal pada Annisa.
"Memangnya kamu melihatku seperti seorang yang tak terurus, ya?" tanya Rama dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Dia merasa tersanjung melihat perhatian Diska terhadap dirinya.
"Lihatlah wajahmu yang kusam, rambut yang berantakan. Apakah kamu tidak merasa jauh perubahan di diri kamu?" ujar Diska begitu saja.
Dia memperlihatkan perhatian yang lebih untuk Rama.
__ADS_1
Bersambung...