
"Hiks, di-dia bunuh diri," lirih ibu Annisa sambil menangis.
Tangis wanita paruh baya itu semakin keras.
"A-apa, Annisa bunuh diri? Astaghfirullahaladzim," lirih Uci Desmi kaget mendengar jawaban dari ibu Annisa.
Diska menutup mulutnya tak percaya.
"Astagfirullah, apa jangan-jangan Annisa bunuh diri karena bang Rama. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?" gumam Diska di dalam hati.
Diska semakin penasaran dengan apa yang terjadi, dia sudah tak sabar untuk mempertanyakan hal ini pada Rama.
Diska pun membuka tutup wajah Annisa, dia melihat beberapa bekas pukulan di wajah gadis itu.
Diska merasa ada yang aneh pada wajah Annisa.
"Maaf, Bu. Apa alasan Annisa melakukan semua ini?" tanya Diska pelan pada ibu Annisa.
Berharap dia dapat penjelasan apa yang sudah menimpa Annisa.
Ibu Annisa terdiam sejenak. Dia pun mengingat kejadian sebelum Annisa pergi.
Flash back on.
"Bang Rama! Kamu kejam padaku! Semua itu bukan salahku! Mengapa aku yang jadi korbannya?" teriak Annisa tidak dapat mengendalikan dirinya.
Kedua orang tua Annisa hanya diam di luar kamar putri mereka.
Mereka membiarkan Annisa berteriak sepuas hati putrinya, karena saat ini tangan dan kaki Annisa sudah diikat di tempat tidur.
"Ini semua gara-gara gadis kota itu! Aku harus bunuh gadis kota itu!" teriak Annisa lagi.
Dia terus mencaci maki Rama dan Diska, kebenciannya pada dua insan itu membuat hatinya semakin hancur dan tak terkendali.
Annisa terus menarik-narik tangannya yang terikat kain panjang hingga akhirnya terlepas.
Seketika Annisa pun terdiam, dia mencari sesuatu untuk membunuh Rama dan Diska.
Di saat seperti itu, mata Annisa menangkap sebotol anti nyamuk cair.
Annisa langsung menghampiri botol tersebut lalu menyalin isi botol itu ke sebuah gelas yang ada di atas nakas di kamarnya.
"Aku akan bunuh kamu dengan ini!" ujar Annisa.
"Pak, Annisa kenapa sudah diam?" tanya Ibu Annisa penasaran karena putrinya kini tidak lagi berteriak.
Akhirnya mereka pun melangkah masuk menuju kamar Annisa.
"Annisa! Apa yang kamu lakukan?" bentak Pak Didin.
__ADS_1
"Bapak, aku akan bunuh Rama dan gadis kota itu!" bentak Annisa.
Pak Didin belum melihat putrinya yang memegangi botol anti nyamuk cair itu.
"Hentikan omong kosong kamu!" bentak Pak Didin.
"Hahahaha, bapak pembunuh jadi tidak salah aku juga menjadi seorang pembunuh," ujar Annisa.
Pak Didin hilang kendali, akhirnya dia pun menampar pipi putrinya dengan sekuat tenaga.
Hal itu membuat Annisa tersungkur ke lantai.
"Hiks, bapak kejam! Hiks." Annisa terus menangis dia merangkak menghampiri nakas.
Annisa mengambil gelas yang sudah diisinya dengan anti nyamuk cair, lalu dia pun meminum cairan tersebut.
"Pak, apa yang diminum Nisa?" teriak ibu Annisa panik.
Tak berapa lama, mulut Annisa keluar busa dan akhirnya dia pun meninggal dunia.
Flash back off.
"Mungkin karena dia tidak bisa menerima pahitnya kehidupan yang harus dijalaninya," jawab Ibu Annisa enggan menyampaikan alasan putrinya bunuh diri.
Dia malu pada Diska untuk menjawab pertanyaan gadis kota itu karena salah satu yang membuat putrinya tertekan adalah hadirnya Diska ke desa Tanjung.
Diska terdiam mendengar ucapan ibu Annisa, saat ini tidak ini bertanya lagi pada orang-orang.
Setelah duduk sebentar di rumah duka, Diska dan Uci Desmi pun pamit untuk pulang.
Begitu juga Rudi, melihat Diska dan Uci Desmi berdiri, dia pun ikut keluar dari rumah pak Didin.
Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Diska ingin cepat sampai di rumah Uci Desmi agar dia bisa bertemu dengan Rama lebih cepat.
Dia sudah tak sabar ingin mengetahui apa yang sudah terjadi pada pria yang sangat dicintainya itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Uci Desmi saat dia masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikummussalam," jawab Mbak Yuyun.
Mbak Yuyun langsung keluar dari kamar menyambut kedatangan mereka.
Mata Diska mencari sosok Rama dan putranya.
"Farel mana, Mbak?" tanya Diska.
Dia tak lagi mendapati Farel yang tadi bermain dengan Rama di ruang keluarga.
__ADS_1
"Aden Farel sudah tidur, Nona. Tadi Rama membawanya masuk ke dalam kamar karena sudah terlelap saat bermain dengan Rama," jawab Mbak Yuyun.
"Lalu, Bang Rama mana, Mbak?" tanya Diska mencari sosok yang sangat ingin ditemuinya saat ini.
"Mbak Yuyun enggak tahu, Nona. Setelah dia memindahkan Farel ke dalam kamar, dia keluar rumah. Mbak juga enggak tahu dia ke mana," jawab Mbak Yuyun apa adanya.
"Ya ampun, ke mana dia. Di saat aku ingin bertanya sesuatu yang penting dia malah menghilang begitu saja," gumam Diska di dalam hati.
Dia kesal pada Rama yang pergi begitu saja.
"Rud, ke mana aku harus mencari bang Rama?" tanya Diska pada Rudi.
Di saat ini, hanya Rudi menjadi tempat Diska bertumpu. Hanya Rudi yang bisa membantu dirinya mencari Rama.
"Aku juga tidak tahu, biasanya dia di kebun atau di rumahnya," jawab Rudi.
"Rud, bisakah kamu mengantarkan aku untuk mencarinya," pinta Diska memohon pada sahabat pria yang dicintainya.
Mau tak mau Rudi tidak bisa menolak permintaan wanita yang pernah dicintainya. Dia tahu selama ini, Diska akan mengandalkan dirinya jika dia memilik masalah dengan Rama.
"Baiklah, ayo!" ajak Rudi.
"Mbak Yuyun, aku pergi sama Rudi dulu,. Tolong jagain Farel," pinta Diska sebelum dia berangkat.
"Baiklah, Nona." Mbak Yuyun mengangguk.
"Uci aku pergi dulu, ya. Aku haru berbicara dengan bang Rama," ujar Diska berpamitan dengan Uci Desmi.
"Iya, kamu hati-hati, ya. Selesaikan masalah kalian. Jangan pikirkan masalah Farel," ujar Uci Desmi.
Wanita paruh baya itu sangat berharap, Diska dan Rama dapat menyelesaikan masalah mereka dan kembali menjalin hubungan yang sempat tertunda.
Wanita paruh baya itu sudah tak sanggup melihat anak-anak yang disayanginya tersiksa memendam rasa yang ada di hati mereka masing-masing.
"Ayo, Rud!" ajak Diska.
Setelah itu mereka pun melangkah menuju sepeda motor milik Rudi.
Rudi melajukan sepeda motornya setelah dia memastikan Diska duduk dengan nyaman di boncengan motor Rudi.
"Kita tengok dia di rumahnya dulu ya, Dia," ujar Rudi.
"Terserah kamu saja, yang penting aku bisa bertemu dengan Bang Rama," ujar Diska ingin lebih cepat bertemu dengan pria yang dicintainya.
Rudi mengarahkan sepeda motornya menuju rumah Rama.
"Sepertinya Rama tidak ada di rumah ini," ujar Rudi melihat rumah Rama yang tertutup rapat dan pintu rumahnya dengan jelas digembok.
Hati Diska merasa sedih saat melihat rumah milik Rama yang terlihat sangat buruk.
__ADS_1
Rumah itu terlihat dengan jelas tidak pernah dibersihkan oleh pemiliknya.
Bersambung...