Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 68


__ADS_3

Diska dan rombongan sudah sampai di kota Padang, setelah mereka sampai di kota Padang, mereka langsung berangkat menuju rumah kedua orang tua Diska.


"Assalamu'alaikum," ucap Diska saat mereka sampai di depan rumah kontrakan kedua orang tuanya.


Bu Naina keluar dari dapur untuk memeriksa tamu yang datang, dia seperti mengenali suara tamu tersebut tapi, dia tidak yakin Diska datang berkunjung karena dia tahu kesibukan putrinya.


"Wa'alaikummussalam," jawab Bu Naina dari dalam rumah.


Dia melangkah keluar lalu membukakan pintu rumah.


"Diska?" ujar Bu Naina kaget saat melihat putrinya beserta keluarga kecilnya sudah berada di depan rumahnya.


"Iya, Ma. Surprise," seru Diska dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Bu Naina menautkan kedua alisnya, dia penasaran apa gerangan yang membawa putrinya datang.


"Aku enggak dibolehin masuk?" tanya Diska pada mamanya.


"Eh, iya. Ayo, masuk!" ajak Bu Naina.


"Farel sayang," lirih Bu Naina sambil mengambil Farel dari gendongan menantunya.


"Nenek, aku rindu," ujar Farel dengan gaya yang sangat menggemaskan.


Bu Naina tersenyum melihat cucu satu-satunya itu.


"Papa mana, Ma?" tanya Diska pada mamanya.


Diska tidak melihat keberadaan papanya di rumah.


"Papa sedang ada operasi, mungkin pulangnya malam," jawab Bu Naina.


"Oh, nanti papa pulang pakai apa, Ma?" tanya Diska pada mamanya.


Diska tahu, papa dan mamanya belum memiliki mobil di kota Padang karena mobil yang ada di Bandung baru saja diantar oleh sopir pribadi Pak Bayu esok hari karena teman sopir Pak Bayu baru ada kesempatan berangkat ke Padang esok hari.


Perjalanan dari pulau Jawa menuju ujung sumatera seperti Sumatera Barat harus memiliki keahlian, karena perjalanan menuju Sumatra barat menempuh beberapa titik yang rawan kejahatan, sehingga setiap melewati jalan tersebut harus beriringan dengan beberapa mobil atau pada waktu yang ramai kendaraan melintas jalan tersebut.


"Biasanya papa pesan ojek online," jawab Bu Naina.


"Oh begitu," ujar Diska.


"Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan di sini? Apakah kamu ada acara di sini?" tanya Bu Naina heran dengan kedatangan putrinya yang tiba-tiba.

__ADS_1


Diska menoleh ke arah sang suami, lalu dia tersenyum.


"Ma, aku sudah memutuskan untuk pindah tugas ke desanya Bang Rama," jawab Diska dengan penuh keyakinan.


"Apa Mama nggak salah dengarkan, Nak?" Bu Naina tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh putrinya.


"Iya, Ma. Aku sudah mengambil keputusan, untuk apa aku bekerja dan sukses di Bandung tapi aku jauh dari kalian, lagian kalau aku bertugas di desanya Bang Rama, otomatis Bang Rama ada kegiatan setiap harinya tidak hanya berdiam diri di rumah. aku yakin Ayah Farel ini pasti bosan setiap harinya menjaga Farel di rumah," tutur Diska mengungkapkan alasan dia mengambil keputusan tersebut.


"Baguslah kalau begitu, mama senang itu artinya kamu bisa mengunjungi mama sesering mungkin," ujar bu nina dengan senang hati.


Diska dan keluarga kecilnya pun menginap di rumah kedua orang tuanya selama satu malam.


Saat mereka baru saja selesai menunaikan ibadah shalat maghrib, Pak Bayu pun sampai di rumah.


Dia heran saat mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Pak Bayu saat membuka pintu rumah.


"Wa'alaikummussalam," jawab semua orang yang ada di dalam rumah.


"Diska," seru Pak Bayu surprise melihat putrinya berada di rumah kontrakannya.


"Papa, bagaimana dengan pekerjaan papa di sini?" tanya Diska pada papanya.


"Alhamdulillah, papa mulai nyaman bekerja di sini," jawab Pak Bayu.


Keesokan esok harinya mereka pun berangkat ke desa Tanjung menggunakan mobil yang sudah disewa oleh Rama, yaitu mobil teman Rama yang biasa menjemput mereka.


"Ma, Pa. Aku berangkat dulu ke desa untuk mengurusi pindah tugasku ke desa. Setelah itu kami akan datang lagi untuk mengunjungi Mama dan Papa," ujar Diska berpamitan.


"Iya, Sayang. Kamu hati-hati di jalan, ya. Kamu tidak usah repot-repot datang, kalau pekerjaan di sana memang padat. Mama tidak mau kamu jadi susah," ujar Bu Naina pada putrinya.


"Iya, Ma." Diska memeluk erat tubuh mamanya.


Mereka berangkat pagi dari kota Padang, mereka pun sampai di rumah Uci Desmi seperti biasa setelah waktu ashar masuk.


Uci Desmi mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Dia penasaran dengan siapa yang datang, Uci Desmi berpikiran bahwa Diska yang datang bersama keluarganya.


"Mana mungkin mereka datang? Diska pasti sibuk dengan pekerjaannya," gumam Uci Desmi tidak ingin berharap lebih karena dia takut kecewa.


Dia pun melangkah keluar, lalu dia membuka pintu rumah, wanita paruh baya itu menyipitkan matanya saat melihat orang yang turun dari mobil yang kini berhenti di depan rumahnya.


Uci Desmi mengucek-ngucek matanya tak percaya saat melihat Diska dan Rama turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


"Ya Allah, mimpi apa aku semalaman bisa menghayal akan kedatangan anak-anak yang sangat aku rindukan," lirih Uci Desmi masih tidak percaya dengan penglihatannya.


"Assalamu'alaikum," seru Rama bersemangat.


"Wa'alaikummussalam," lirih Uci Desmi pelan.


Dia masih saja ragu dengan penglihatannya saat ini.


Rama meraih tangan wanita paruh baya itu lalu menyalaminya dan mencium punggung tangannya.


"Apa kabar, Uci?" tanya Rama menyapa wanita yang sudah mengganti peran ibunya yang sudah tiada.


Diska pun menghampiri Uci Desmi, dia juga melakukan hal yang sama dengan sang suami.


"Uci, bagaimana kabarnya?" tanya Diska pada Uci Desmi.


"Di-dis-ka?" lirih Uci Desmi.


Wanita paruh baya itu pun langsung memeluk tubuh dengan sangat erat. Dia senang melihat kedatangan Diska kembali ke desa itu.


Dia tidak pernah menyangka gadis kota itu akan datang lagi ke Desa Tanjung untuk menemuinya.


"Ayo, masuk," ajak Uci Desmi.


Uci Desmi membawa Diska masuk ke dalam rumah.


"Uci kira kalian tidak akan pernah datang lagi mengunjungi Uci di sini," ujar Uci Desmi setelah mereka duduk di ruang tamu.


"Kenapa Uci bisa bicara seperti itu?" tanya Rama.


Uci desmi pun menitipkan air matanya, hari-hari ini dilewatinya dengan merasa kesepian sepanjang hari.


Diska heran saat melihat wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya meneteskan air mata di hadapannya.


Diska langsung pindah duduk dan menghampirinya lalu memeluk tubuh renta itu dengan sangat erat.


"Uci kenapa? Apakah ada masalah yang sedang Uci hadapi?" tanya Diska heran melihat Uci Desmi menangis.


Uci Desmi pun kini mulai menangis tersedu-sedu, dia meluapkan rasa yang ada di hatinya.


Diska dan Rama saling berpandangan mereka heran dengan apa yang terjadi pada Uci Desmi.


Begitu juga dengan Mbak Yuyun, wanita itu ikut heran dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


mereka membiarkan Uci Desmi meluapkan rasa sedih yang ada di hatinya, mereka menunggu Uci Desmi tenang dan menceritakan masalah apa yang sedang dihadapinya.


Bersambung...


__ADS_2