
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya kasihan sama Farel yang selalu di tinggal sama Yuyun," ujar Diska.
Dia menyampaikan alasannya yang belum siap menambah momongan.
"Sayang, kalau kamu enggak mau ninggalin anak kita nantinya, kamu bisa bawa ke klinik. Aku akan antarkan pakai mobil," ujar Rama.
"Iya, sih. Aku kasihan saja," ujar Diska beralasan lagi.
"Ini adalah resiko kita yang sudah memilih jalan hidup, sebenarnya kalau kamu tidak bekerja pun, kita masih tetap bisa hidup bahagia," ujar Rama.
Rama berusaha menyampaikan pendapatnya tanpa menyinggung perasaan istrinya.
"Jadi, kamu mau aku berhenti bekerja?" tanya Diska.
Diska memasang wajahnya yang sewot, dia terlihat kesal dengan ucapan sang suami.
"Hei, bukan begitu maksudku," bantah Rama.
Rama merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata itu.
"Terus apa maksud kamu, Ban" tanya Diska kesal.
Dia pun melepaskan lingkaran tangan sang suami, lalu dia pun kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa mempedulikan keberadaan Rama yang masih berdiri di sana.
Saat azan subuh berkumandang, Diska mematikan kompor, lalu dia melangkah ke kamar untuk melaksanakan shalat subuh.
Dia masih saja meninggalkan Rama terpaku di dapur.
Saat ini Diska belum siap memiliki momongan karena dia ingin meniti karirnya dalam bidang kesehatan.
Rama menghela napas panjang setelah sang istri masuk ke dalam kamar.
"Diska kenapa, sih? padahal aku cuma nanya momongan saja, apakah itu salah?" tanya Rama pada diri sendiri karena saat ini dia hanya seorang diri berada di dapur.
Akhirnya Rama pun melangkah masuk ke dalam kamar, dia ingin menyusul sang istri yang kini tengah merajuk.
Saat dia masuk ke dalam kamar, Rama melihat istrinya tengah melaksanakan salat subuh seorang diri.
"Ya Allah, aku harus sabar menghadapinya," gumam Rama di dalam hati.
akhirnya Rama pun masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu, dia juga bersiap-siap untuk melaksanakan salat subuh.
Ini pertama kalinya mereka tidak melaksanakan subuh berjama'ah setelah menikah kecuali Diska tengah datang bulan.
Saat waktunya sarapan tiba, Rama kembali melangkah ke dapur dia berharap sang istri tidak melupakan waktu sarapannya meskipun istrinya saat ini tengah marah padanya.
Saat di ruang makan, mendapati istrinya tengah menghidangkan makanan di atas meja.
"Alhamdulillah, ternyata istriku tidak melupakan jadwal sarapanku," gumam Rama di dalam hati sambil tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang kini masih cemberut.
__ADS_1
Rama menghampiri sang istri, dia kembali hendak melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.
Memeluk tubuh sang istri adalah hobi yang harus dilakukan saat bersama dengan sang istri.
Entah mengapa kegiatan itu menjadi satu hal yang harus dilakukannya setiap kali melihat sang istri.
Saat Rama baru saja hendak mengangkat tangannya, Diska langsung membalikkan tubuhnya.
"Jangan dekat-dekat!" ancam Diska setelah itu Diska pun ambil posisi duduk lalu dia mulai menyantap sarapan pagi tanpa mengajak sang suami ikut sarapan.
"Sayang, Apakah aku boleh ikut sarapan denganmu?" lirih Rama.
Sang Pemuda Desa itu pun tidak dapat berkutik lagi, dia memilih untuk pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh istrinya terhadap dirinya.
Rama masih menunggu jawaban dari sang istri sebelum dia duduk di samping istrinya yang kini sudah mulai menyantap sarapannya.
"jika aku tidak memperbolehkanmu sarapan, untuk apa aku memasak ini semua?" gerutu Diska pelan.
Rama tersenyum mendengarnya lalu dia pun duduk di samping Diska.
"Sayang, tolong ambilin nasi gorengnya dong," ujar Rama.
Dia berusaha tetap bersikap manja kepada istrinya agar sang istri melupakan pertengkaran kecil yang telah terjadi pagi ini.
"Ambil sendiri udah gede juga, dasar manja," gerutu Diska.
"Ya udah kalau kamu memang tidak mau mengambilkan sarapan untukku, terpaksa aku mengambil sendiri," ujar Rama.
"Sini." Diska mengambil piring yang ada di tangan suaminya.
Setelah itu dia pun mengambilkan nasi untuk suami.
"Dasar manja." Diska pun berdiri lalu dia meninggalkan sang suami seorang diri di ruang makan.
"Sayang, kamu mau ke mana?" rengek Rama manja.
"Aku mau siap-siap kerja," jawab Diska.
"Lalu, siapa yang menemani aku makan?" tanya Rama manja.
"Kamu bisa makan sendiri," jawab Diska.
Diska pun meninggalkan Rama, dia melangkah menuju kamar Farel, melihat apakah putranya sudah bangun.
Diska langsung mengganti pakaian dinasnya setelah mengetahui bahwa Farel masih tidur.
Rama hanya diam dan pasrah, dia pun menyantap sarapan paginya seorang diri tanpa ditemani sang istri.
Tak berapa lama Diska turun dari lantai dua dengan pakaian dinas yang telah dikenakannya.
__ADS_1
Rama masih berada di ruang makan, dia makan bersantai karena tahu sang istri pasti akan memanggil dirinya saat sang istrinya sudah siap berangkat karena Diska selalu berangkat ke Silaping diantar oleh Rama.
Diska melihat sang suami yang masih asyik dengan makanan yang ada di hadapannya.
"Ish, Bang Rama menyebalkan," lirih Diska.
Diska pun melangkah keluar dari rumah, dia mengintip ke rumah yang ada di samping rumahnya.
"Mbak Yuyun!" teriak Diska.
Diska sengaja berteriak lebih keras agar sang suami dapat mendengar suaranya.
"Mbak, Mbak Yuyun," teriak Diska lagi.
"Diska ngapain teriak-teriak seperti itu?" gumam Rama di dalam hati.
Rama pun keluar dari ruang makan lalu dia melangkah menuju teras rumah tempat istrinya kini berada.
"Sayang, kamu kenapa teriak-teriak seperti itu masih pagi? malu sama tetangga," tanya Rama pada sang istri.
"Ada apa, Dis? Kamu mau berangkat, ya?" tanya Mbak Yuyun juga kepada Diska.
Diska melihat Rama dan Mbak Yuyun secara bergantian, tiba-tiba dia bingung untuk menjawab pertanyaan dari Mbak Yuyun dan Rama.
"Kalian kenapa?" tanya Mbak Yuyun heran pada sepasang suami istri itu heran.
"Enggak ada, Mbak. Sebentar lagi aku mau berangkat kerja," jawab Diska.
Setelah itu, Diska menarik tangan sang suami untuk masuk ke dalam rumah.
"Kamu lama banget, sih! Aku kan mau berangkat kerja," gerutu Diska.
"Iya, Sayang. Aku kan udah siap makan," ujar Rama.
"Mhm," gumam Diska.
"Sayang, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Rama pada istrinya.
"Mhm," gumam Diska.
"Ya udah, Kalau kamu masih marah sama aku, aku minta maaf. Lain kali aku tidak akan berbicara seperti itu lagi," ujar Rama kepada sang istri.
Sebagai seorang pria Rama memilih untuk mengalah kepada sang istri daripada membiarkan istrinya merajuk.
Rama memeluk tubuh sang istri, dia melimpahkan rasa kasih sayang yang ada di hatinya kepada wanita yang selama ini dicintainya.
Semakin hari rasa cintanya kepada Diska semakin tumbuh mekar.
"Sayang, sebenarnya aku belum siap memiliki momongan karena,--"
__ADS_1
Rama menutup mulut Diska dengan telunjuknya, memotong ucapan sang istri.
Bersambung...