Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 61


__ADS_3

"Kamu seperti seorang peramal saja, tahu dari mana aku ada masalah?" tanya Rezi pada Zharin.


"Hehehe, kamu tidak bisa menyembunyikan hal itu dariku. Wajah kusutmu memberitahuku bahwa kamu tengah menghadapi masalah," ujar Zharin.


"Benarkah?" lirih Rezi.


"Mhm," gumam Zharin.


"Paling tidak dengan duduk di pinggir pantai ini, kamu bisa menenangkan hati yang kacau sejenak sambil mencari solusi dalam menyelesaikan masalahmu," ujar Zharin bijak.


Zharin tidak memaksa Rezi untuk terbuka dengan permasalahan yang kini dihadapinya.


Rezi menatap Zharin, dia menatap gadis itu dengan lekat sesaat Rezi melihat pancaran wajah Zharin yang tersenyum tapi menyimpan beban hidup yang berat.


"Allahu Akbar Allahu Akbar." Terdengar suara adzan berkumandang.


"Sudah maghrib, ayo kita shalat dulu. Kalau kamu mau, ayo makan malam di rumah," ajak Zharin.


Saat ini Zharin sudah menganggap Rezi sebagai seorang teman, jadi dia tidak malu lagi membawa Rezi datang ke gubuknya yang kecil.


"Mhm," gumam Rezi masih diam di tempatnya.


"Ayo." Zharin menarik tangan resi lalu mengajaknya melakukan menuju gubuk kecilnya.


Rezi menatap tangan gadis yang kini menggenggam tangannya, ada rasa tenang saat dia berada di samping gadis itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Zharin saat mereka masuk ke dalam gubuk kecil tempat Zharin dan ibunya berteduh.


"Wa'alaikummussalam," jawab ibu Zharin yang baru saja selesai berwudhu.


"Nak Rezi," seru Ibu Zharin surprise saat melihat Rezi berada di rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Bu," ucap Rezi menyapa wanita paruh baya yang pernah diselamatkannya.


"Wa'alaikummussalam," jawab ibu Zharin.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Rezi sekadar berbasa-basi.


"Alhamdulillah keadaan ibu sekarang sudah baikan, bahkan Ibu sudah mulai bekerja menjemur ikan asin di pantai," jawab ibu Zharin bersemangat.


"Syukurlah kalau begitu, Bu." Rezi tersenyum pada wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Nak Rezi, mau shalat?" tanya ibu Zharin.


"Iya, Bu. dia juga mau makan malam di sini, kebetulan aku dapat kepiting banyak sore ini," ujar Zharin menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Benarkah?" Ibu Zharin merasa tersanjung seorang dokter tampan dan kaya raya mau makan di gubuk reyot miliknya.


Rezi tersenyum melihat wajah Ibu Zharin, ada sesuatu yang membuat hatinya merasa bahagia melihat ekspresi wanita paruh baya itu.


"Iya, Bu. Ya udah, ibu shalat dulu. Aku akan siapkan bahan-bahannya kebetulan aku lagi enggak shalat," ujar Zharin berbisik di dekat ibunya.


Rezi tersenyum, meskipun Zharin berbisik dengan ibunya, dia masih bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Zharin.


"Ayo, Pak Dokter aku antar ke kamar mandi, harap dimaklumi kamar mandi kami jauh dari yang memadai," ujar Zharin.


Kamar mandi yang ada di rumah itu terletak di luar rumah dengan tampungan air Pamsimas.


Di dalam kamar mandi itu tidak ada WC nya karena di pemukiman penduduk terdapat MCK yang biasa digunakan oleh semua warga yang tinggal di pesisir pantai itu.


Rezi pun berwudhu lalu bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.


Ibu Zharin sudah menyiapkan sebuah sajadah lusuh, yang menurut mereka sajadah itu adalah saja terbaik yang mereka miliki.


Rezi pun memaklumi apa yang ada di hadapannya, dia tidak mempermasalahkan sajadah lusuh yang kini dipakainya untuk beribadah.


Rezi memperhatikan kelihaian Zharin dalam mengolah kepiting itu, dia melihat Zharin memiliki keahlian dalam memasak.


"Kamu jago masak, ya?" tanya Rezi pada Zharin.


"Hah, enggak juga, tapi aku hobi masak. Biasanya kalau Pemda pemudi bikin acara di sini, aku di suruh jadi pemandu dalam memasak, hehehe." Zharin sedikit bercerita dengan kehidupannya yang hobi memasak.


Banyak temannya yang mengatakan bahwa masakannya memang enak.


"Kalau begitu, kenapa kamu enggak buka kafe atau warung makan saja?" tanya Rezi pada Zharin.


"Mhm, mana ada modal. Dapat makan dari ke hari saja kami sudah syukur," jawab Zharin.


Mendengar jawaban Zharin, hati Rezi terketuk untuk membantu gadis pesisir yang penuh semangat menjalani hari-harinya.


"Mhm, bagaimana kalau aku beri modal buat buka warung makan gitu?" tanya Rezi menawarkan diri.


"Tidak usah repot-repot, Pak Dokter. Saya sudah merasa cukup dengan penghasilan kami yang bisa melewati hidup dari hari ke hari." Zharin langsung menolak tawaran Rezi.

__ADS_1


Zharin tidak mau semakin banyak berhutang budi pada dokter tampan yang kini sudah mulai perlahan mengubah hidupnya.


"Kalau tidak aku akan carikan tempat kerja buat kamu sebagai juru masak di kantin rumah sakit, bagaimana?" tanya Rezi pada Zharin.


Menurut Rezi lebih baik Zharin bekerja di kantin dan menghasilkan uang dan mengasah keahliannya.


Zharin diam, dia tidak menjawab pertanyaan Rezi. Sebenarnya dia ingin sekali bekerja di restoran atau rumah makan karena dari sana dia dapat menyalurkan hobinya.


Tak berapa lama, Zharin mengaduk-aduk kepiting dan bumbu-bumbu di dalam wajan penggorengan, masakan Zharin pun sudah masak.


Dia meletakkan masakannya di sebuah piring kaca yang terlihat kusam karena sudah terlalu lama.


Setelah itu membawa masakannya itu ke ruang lepas yang mana ibu Zharin sudah menggelar tikar di sana.


Zharin menghidangkan nasi putih serta hidangan kepiting yang baru saja dimasaknya.


Aroma hidangan yang dimasak Zharin menyeruak di ruangan itu membuat selera makan semua orang meningkat.


"Nak Rezi, ayo makan. Kalau makan di rumah ini hanya seperti ini, Nak. Semoga nak Rezi suka," ujar Ibu Zharin pada Rezi.


Rezi tersenyum.


"Sepertinya hidangan ini sangat lezat, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan ala chef Zharin," ujar Rezi.


Zharin memberikan sebuah piring yang sudah berisi nasi putih serta kepiting kepada Rezi.


"Cukup?" ujar Zharin.


"Cukup, nanti kalau mau lagi kan masih bisa nambah," ujar Rezi.


Zharin melirik ibunya, mereka saling melempar pandangan. Suatu kehormatan bagi mereka orang kaya seperti Rezi mau singgah dan makan di gubuk kecil mereka dengan hidangan yang sangat sederhana.


Rezi menyuapi makanan yang ada di dalam piringnya.


Dokter tampan itu terlihat menyantap makanan yang ada di dalam piringnya dengan lahap. Tak berapa lama Rezi menghabiskan makanan yang ada di piringnya lalu dia pun menambah nasi putih ke dalam piringnya.


Tanpa disadarinya Rezi sudah menghabiskan tiga piring nasi putih serta sambal kepiting yang dimasak oleh Zharin tadi.


Zharin dan ibunya hanya menatap lucu ke arah sang dokter tampan itu.


"Wah, aku udah habiskan 3 porsi makan. Padahal selama ini aku tidak pernah makan sebanyak ini," ujar Rezi saat menyadari kerakusannya makan ini

__ADS_1


Seketika Rezi melupakan masalah yang tengah dihadapinya saat ini.


Bersambung...


__ADS_2