Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 95


__ADS_3

Tak berapa lama seorang pelayan pun datang membawakan makanan yang dipesan oleh Ferdy.


"Silakan, Dokter," ujar si pelayan kepada Ferdy saat meletakkan makanan yang dipesannya.


Setelah itu mereka pun menikmati makanan yang ada di hadapan mereka, Awalnya mereka merasa canggung untuk memulai menjalin silaturahmi di antara mereka.


Namun, selesai mereka menghabiskan makanan yang ada di hadapan mereka akhirnya mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan yang telah mereka jalani.


Naina senang bisa berteman kembali dengan Ferdi walaupun kenangan indah bersama pria itu Masih membekas jelas di benaknya.


Naina dan Ferdy terlihat menikmati keakraban di antara mereka berdua, terlebih saat ini hati Naina sedang bersedih mengingat sang suami telah bertemu dengan istri pertamanya dan putrinya.


Hal ini juga membuat mainan merasa beban yang ada di pikirannya berkurang.


Begitu juga dengan Ferdi rasa hampa yang sempat menyelinap di hatinya kini mulai terasa gairah kehidupan.


Mereka menikmati makan siang dengan canda dan tawa serta bertukar cerita antara satu sama lain.


Naina melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya, kini jam tersebut telah menunjukkan angka 2 yang menandakan bahwa waktu istirahat sudah habis.


"Ferdy, waktu istirahat sudah habis Ayo lanjut bekerja," ajak Naina pada Ferdy.


"Aku sampai lupa, ternyata sudah 2 jam saja kita mengobrol. Ya sudah, ayo kita kembali ke ruangan kita masing-masing." Ferdi berdiri lalu dia melangkah menuju kasir membayarkan tagihan makanan yang mereka pesan.


Akhirnya mereka pun melangkah menuju ruangan masing-masing dan kembali menjalani tanggung jawab mereka masing-masing.


saat berada di ruangannya, Naina kembali mengingat pembicaraan dan cerita diantara dirinya dan Ferdy.


Kini ingatannya kembali pada beberapa tahun silam.


"Hubungan kita harus putus sampai di sini," ujar Naina pada Ferdy tanpa memberikan alasan apapun.


"Apa maksud kamu, Sayang?" katanya Ferdi tidak percaya dengan keputusan yang diambil oleh kekasihnya.


"Iya, tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan dalam hubungan ini," ujar Naina memutuskan hubungan mereka secara sepihak.


Naina sengaja tidak memberitahukan alasan dia memutuskan Ferdy karena dia tidak ingin pergi melakukan hal-hal yang tidak diinginkan setelah itu, karena setahun Naina Ferdi merupakan seorang pria yang nekat dia akan melakukan apa saja asalkan bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


Naina tidak ingin Ferdi menyakiti kedua orang tuanya maupun calon suaminya.


"Tidak bisa begitu, Naina. Kamu harus memberikan penjelasan padaku alasan kamu memutuskan hubungan di antara kita, aku masih mencintai kamu aku juga masih menyayangimu, selama ini tidak ada masalah di antara kita." Ferdy terus berusaha untuk memperjuangkan hubungan di antara mereka.


"Tidak, hubungan ini harus kita selesaikan sampai di sini. Aku harap kamu bisa melupakanku, karena aku akan menikah dengan pria lain," tutur Naina di hadapan sang kekasih.


Tak menunggu lama Naina pun langsung meninggalkan Ferdi yang hatinya hancur berkeping-keping saat mendengar wanita yang dicintainya akan menikah dengan pria lain.


"Naina tunggu aku, aku mohon jangan tinggalkan aku," teriak Ferdy.


Ferdi berusaha mengajar Naina tapi Naina sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan dirinya.


Setelah itu Ferdi tidak lagi dapat menemui Naina.


Tanpa disadarinya buliran bening kini mulai membasahi pipi Naina.


"Dokter." Seorang perawat pendamping masuk ke dalam ruangan Naina.


"Dokter," ujar perawat kembali memanggil Naina yang kini masih saja melamun.


"Dokter," panggil perawat itu sekali lagi karena Naina masih saja belum mampu panggilannya.


"Eh, iya, Sus." Naina kaget melihat perawat sudah berada di dalam ruangannya.


"Dokter, apakah anda baik-baik saja?" tanya si perawat kepada Naina.


Dia khawatir saat ini Naina kurang sehat dan pikirannya sedang kacau.


"Iya, Sus. Saya baik-baik saja, Ada apa, Sus?" tanya Naina pada perawat.


"Ada pasien yang mau melahirkan, dia butuh penanganan dokter," ujar si perawat kepada Naina.


"Apa gejala yang dirasakan pasien?" tanya Naina kepada pasien.


Setelah itu perawat pun menjelaskan gejala yang dialami oleh pasien, Naina berdiri lalu melangkah menuju ruang IGD untuk memastikan keadaan pasien yang butuh penanganan darinya saat ini.


****

__ADS_1


Diska kini sedang fokus mengikuti acara pelatihan yang sedang berlangsung, dia benar-benar tertarik dengan ilmu yang disampaikan oleh dokter-dokter hebat yang menjadi pemateri hari ini termasuk Rezi, pria yang dianggapnya sebagai kakak.


Setelah materi terakhir para dokter di suruh untuk mengerjakan beberapa lembaran tugas mengenai materi yang sudah diberikan, saat itu Diska merasa kepalanya tiba-tiba pusing.


Akhirnya dia memilih untuk izin pergi ke toilet untuk menyegarkan dirinya berharap setelah mencuci muka rasa pusing yang dirasakannya hilang, karena Diska merasa pusing yang dirasakannya saat ini karena dia merasa lelah dengan apa yang sedang dilakukannya.


Perlahan dia melangkah menuju toilet, saat itu Miko tidak sengaja melihat Diska yang melangkah keluar dari aula, tanpa pikir panjang Miko pun mengikuti langkah wanita itu.


Dia merasa mendapatkan kesempatan untuk bisa melancarkan rencananya terhadap wanita yang dikaguminya selama ini.


Miko terus mengikuti langkah Diska yang mengarah menuju toilet, Miko pun menghubungi beberapa anak buahnya untuk bersiap siaga.


Di saat Diska keluar dari toilet, Miko menghampiri Diska lalu menutup mulut Diska dengan sapu tangan yang telah diberikan obat bius sehingga Diska pun jatuh pingsan.


Miko pun mengangkat tubuh Diska yang kini tak sadarkan diri lagi, dia menggendong Diska menuju parkiran yang ada di basemant yang di sana anak buah Miko telah menunggunya.


"Diska, kali ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Aku akan menikmati tubuhmu," gumam Miko dengan senyuman yang licik.


Dia terus menggendong Diska, hingga akhirnya sebuah mobil Van berwarna abu-abu datang menghampiri dirinya.


Tak menunggu lama Miko pun memasukkan Diska ke dalam mobil tersebut, lalu menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Diska.


Setelah itu, Miko pun kembali masuk ke dalam aula tempat acara pelatihan diselenggarakan.


Dia kembali mengikuti acara tanpa ada beban sama sekali, seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa.


Pada pukul 16.00 pelatihan hari ini selesai, Rezi memperhatikan sekelilingnya dia mencari sosok Diska yang sejak tadi tidak kelihatan.


"Diska ke mana?" gumam Rezi bingung.


Dia mulai mengkhawatirkan keadaan Diska yang izin sejak tadi tidak kembali masuk.


"Ah, mungkin Diska bertemu dengan Rama di luar," gumam Rezi.


Dia berusaha menenangkan diri, meskipun ada rasa khawatir dengan keadaan Diska saat ini.


Satu per satu peserta pelatihan keluar dari aula, begitu juga dengan Rezi.

__ADS_1


Saat Rezi berada di luar aula, dia melihat Rama berdiri memperhatikan satu per satu orang yang keluar dari aula.


Bersambung...


__ADS_2