Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 115


__ADS_3

Sebelum tidur Diska dan Rama duduk di ruang keluarga, sementara itu Yuyun dan Farel sudah tidur di kamar mereka.


Mereka kini sedang asyik menonton film drama Korea, sebenarnya Rama tidak begitu suka menonton drama Korea, tapi demi mengikuti selera istrinya dia pun menemani sang istri menonton film kesukaannya.


Diska biasa mengisi waktu kosongnya dengan menonton drama Korea atau film Bollywood.


Saat Diska sedang seru-serunya menonton drama Korea, Rama mulai membuka-buka ponselnya.


Dia sedang browsing rumah yang dijual yang ada di kota Padang.


"Sayang, coba lihat! Bagaimana menurut kamu rumah ini?" tanya Rama pada Diska dengan memperlihatkan gambar yang ada di ponselnya.



Diska mengalihkan perhatiannya


"Mhm, maksud kamu, Bang?" tanya Diska heran.


"Ini kabarnya dijual, gimana kalau rumah ini kita beli untuk Mama dan papa," ujar Rama pada istrinya.


Dia ingin memberi hadiah untuk kedua orang tua dari istrinya.


Apalagi saat ini kedua orang tua Diska ingin mengajak Zharin dan ibunya tinggal bersama mereka.


Rumah kontrakan itu memang cukup untuk mereka, tapi di saat mereka nanti ingin berkunjung tak ada kamar lagi yang bisa mereka pakai.


"Kamu serius, Bang?" tanya Diska tak percaya.


"Iya," lirih Rama sambil tersenyum dan mengangguk.


Diska mengecilkan volume TV, dia menatap dalam ke arah sang suami.


"Sayang," lirih Diska.


"Kenapa? Kamu tidak suka dengan apa yang aku lakukan?" tanya Rama pada Diska.


"Bukan aku tidak suka, aku hanya tidak percaya kamu bisa sebaik itu pada kedua orang tuaku." Diska memeluk Rama dengan erat.


Rasa syukur yang berlimpah diucapkannya di dalam hati.


"Alhamdulillah wa syukurillah, Engkau memberikan hamba imam yang begitu baik hati," gumam Diska di dalam hati.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


Tiba-tiba ponsel Diska berdering, dia langsung meraih ponselnya yang terletak di atas meja.


Diska melihat panggilan masuk dari mamanya, lalu Diska pun menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.

__ADS_1


"Halo, Sayang," lirih Naina pelan saat panggilan sudah tersambung.


"Halo, Ma. Bagaimana keadaan mama dan papa? Lalu bagaimana keadaan Ibu Sarah, Ma?" tanya Diska senang mendapat telpon dari wanita yang melahirkannya.


"Sayang,--"


"Ma." Diska memotong pembicaraan mamanya.


"Ma, bang Rama ingin membeli rumah di Padang untuk mama dan papa, supaya mama dan papa serta Ibu Sarah bisa tinggal di rumah itu yang nyaman, tidak di rumah kontrakan ini lagi," ujar Diska bersemangat.


Diska tak sabar ingin memberitahukan niat baik suaminya kepada kedua orang tuanya.


"Sayang, ibu Sarah sudah meninggal dunia," lirih Naina.


Naina sama sekali tidak menghiraukan ucapan putrinya yang terlihat bahagia.


"A-apa?" lirih Diska tak percaya.


Wajah Diska seketika berubah sedih, hal ini membuat Rama heran.


"Iya, Nak. Ibu Sarah baru saja meninggal," ujar Naina mengulangi ucapannya.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," lirih Diska.


Rama semakin bertanya-tanya dengan apa yang saat ini terjadi.


"Ya sudah, Ma. Kami akan berangkat besok pagi ke Bandung," ujar Diska.


Diska pun menutup panggilan tersebut, setelah itu Dia menjelaskan apa yang telah terjadi pada suaminya.


Rama memeluk istrinya dengan erat, dia tak menyangka ibu Sarah akan pergi secepat itu.


****


Jenazah Sarah dibawa ke kediaman Pak Bayu yang ada di Bandung, sebagai suami sahnya, Bayu berhak mengurus segala hal mengenai pemakaman istri pertamanya itu.


Rama dan Diska baru saja sampai di kediaman Papanya.


Diska melihat Zharin saat ini duduk lemas di dalam dekapan mamanya, Diska dapat merasakan betapa beratnya beban yang dipikul oleh kakak seayahnya itu.


Diska langsung menghambur ke pelukan Zharin, dia memeluk erat kakaknya.


"Kak, kakak sabar, ya," lirih Diska ikut berduka dengan perginya ibu Sarah terlebih dahulu.


Zharin hanya diam, dia benar-benar tenggelam dalam kesedihannya, bertahun-tahun berjuang dengan ibunya dan kini di saat mereka akan hidup bersama dengan ayahnya,.ibunya malah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Sebelum waktu dzuhur masuk, jenazah Sarah sudah dikebumikan.

__ADS_1


"Ibu!" teriak Zharin tidak bisa menerima kenyataan yang begitu tidak adil bagi dirinya.


Rezi memeluk tubuh Zharin dengan erat, saat ini dialah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kebahagiaan gadis itu, karena dirinyalah orang yang paling dekat dengan sang gadis.


Zharin masih menangis tersedu-sedu, Rezi membiarkan wanita yang dicintainya itu meluapkan rasa sedih dan lukanya.


"Rezi, papa tunggu kamu di rumah, ya," ujar Bayu sebelum meninggalkan pemakaman.


Bayu sengaja meninggalkan Zharin dan Rezi di pemakaman tersebut agar Zharin bisa meluapkan rasa sesak yang ada di dadanya saat ini.


"Baik, Pa," sahut Rezi.


Dengan begitu Bayu telah memberi kepercayaan pada Rezi untuk menjaga putrinya.


Bayu dan Naina serta Diska dan Rama pun pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan, Bayu menggenggam erat tangan Naina.


"Ya Allah, mungkin inilah yang terbaik untukku dan istriku. Engkau tak ingin menyakiti hati istriku jika aku kembali pada Sarah, terima kasih Tuhan dengan apa yang telah engkau takdirkan untuk kami," guna Bayu di dalam hati.


Bayu yakin ini adalah takdir yang terbaik untuk dirinya dan sang istri.


****


Satu Minggu berlalu, Bayu mendatangi rumah kediaman Sulthan, rekan kerja sekaligus sahabatnya.


"Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Sulthan dengan nada tidak suka pada Bayu.


"Sulthan, aku minta maaf atas kesalahpahaman yang telah terjadi di antara kita. Aku datang ke sini ingin membahas suatu hal yang penting," ujar Bayu.


Sulthan mengernyitkan dahinya, dia terlihat bingung dan berusaha mencerna maksud dari perkataan Bayu.


"Apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan?" tanya Sulthan pada Bayu.


"Sulthan, aku tahu kamu marah padaku karena tidak membiarkan putriku menikah dengan putramu. Jika putriku yang lainnya ingin menikah dengan putramu apakah kamu akan mengizinkannya?" tanya Bayu terus terang.


Dia tidak ingin berbelit-belit menyampaikan tujuan kedatangannya pada Sulthan.


"Bayu, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu inginkan saat ini," ujar Sulthan.


Akhirnya Bayu menceritakan kisah dirinya dan ibu Zharin selama ini.


"Jadi gadis gembel yang selama ini bersama putraku itu adalah putrimu?" tanya Sulthan memastikan dia tidak salah memahami.


"Ya, Zharin adalah putriku dari istri pertamaku. Ibu Zharin baru saja meninggal, saat ini aku sudah bertugas di Padang. Aku ingin membawa Zharin bersamaku di Padang, tapi Zharin tidak ingin berpisah dengan putramu, Rezi. Sebelum aku kembali ke Pada, aku ingin Zharin menikah dengan Rezi, agar hubungan yang mereka jalani tidak menimbulkan fitnah dan dosa," ujar Bayu panjang lebar.


Sulthan terlihat berpikir, dia mencoba menimbang apa yang baru saja diminta oleh sahabatnya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2