
Ibu Annisa pun mulai membersihkan kamar putrinya yang sudah hancur lebur ulah putrinya yang mengamuk.
Meskipun di dalam hatinya sangat kesal dengan apa yang terjadi dalam hidupnya, tapi dia tetap membersihkan kamar Annisa.
Ibu Annisa menatap dalam ke arah Annisa kini yang sudah terlelap.
"Sebenarnya, ini semua karena kebodohanmu, Nisa. Andai saja kamu tidak terlalu mencintai anak yatim piatu itu, maka hal ini tidak akan terjadi padamu," gumam Ibu Annisa.
Pak Didin keluar dari rumah, dia ingin pergi dari rumah sejenak untuk menghilangkan rasa suntuk yang dirasakannya saat ini.
"Annisa kenapa lagi, Pak?" tanya salah satu tetangga saat melihat Pak Didin hendak melajukan sepeda motornya.
"Bukan urusan kamu, Bu. Urus saja kehidupanmu!" bentak Pak Didin kesal.
"Ye, orang cuma nanya doang, malah ngegas," cibir si tetangga tidak terima dibentak oleh Pak Didin.
"Lagi panik tuh, Buk. Mending jangan diajak ngomong, nanti ibuk malah dibunuhnya," bisik si tetangga lainnya.
Rasa penasaran mereka bukan sebagai rasa simpati, tapi terlebih ingin mencari tahu kekurangan keluarga pak Didin untuk cemoohan di saat mereka berkumpul.
Begitulah ibu-ibu yang ada di desa Tanjung, kebanyakan mereka lebih senang melihat orang susah, apalagi orang tersebut orang seperti pak Didin.
****
Pada suatu sore di kebunnya, Rama dan Rudi menikmati secangkir kopi sambil menghirup udara sejuk sore yang menerpa wajah mereka.
"Rama," lirih Rudi memulai pembicaraan di antara mereka.
"Mhm," gumam Rama menanggapi Rudi.
"Apakah kamu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Diska?" tanya Rudi pada Rama.
"Mhm, apa? Aku tidak terlalu memperhatikan," jawab Rama.
"Aku merasa pernah melihat wajah yang sama dengan Farel sebelumnya," ujar Rudi.
"Apa maksudmu?" tanya Rama bingung.
"Rama, kamu tahu aku memiliki foto seseorang yang usianya sama dengan Farel. Seseorang itu sangat mirip dengan putra Diska," ujar Rudi lagi.
Rama menatap heran pada sahabatnya, dia mencoba mencerna ucapan sahabatnya.
__ADS_1
"Rud, apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?" tanya Rama semakin penasaran.
"Kamu kenal anak ini?" tanya Rudi sambil mengulurkan sebuah foto lama yang disimpan Rudi di dalam dompetnya.
"Coba kamu perhatikan foto anak ini, dia sangat mirip dengan Farel." Rudi menekan ucapannya.
Rama menautkan kedua alisnya, dia mencoba menerka foto siapa yang ada di alam dompet sang sahabat.
Deg.
"Ya Allah, apa jangan-jangan ini fotoku?" gumam Rama di dalam hati.
Rama mulai mengingat apa yang diceritakan Diska tentang ayah Farel.
"Astaghfirullah, aku baru menyadari hal ini. Apakah Farel itu adalah anak kandungku. Anak yang terlahir dari perbuatan dosa besar yang sudah kami lakukan?" gumam Rama di dalam hati.
"Ram," lirih Rudi memanggil sahabatnya yang kini sibuk dengan berbagai pikiran yang ada di benaknya.
"Apakah kamu tidak merasakan kontak batin dengan anak kecil yang selalu ingin berada di dalam dekapanmu?" tanya Rudi pada Rama.
Rudi sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu.
"Apa pun yang sudah terjadi kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi dariku, karena aku sudah mengetahuinya dengan sikap Diska," ujar Rudi.
Perkataan Rudi membuat Rama terdiam, mau tidak mau akhirnya dia mengakui apa yang sudah dilakukannya dengan Diska.
"Aku harap cukup kamu saja yang tahu masalah ini. Aku malu sudah berbuat hal yang sangat dibenci oleh Allah," lirih Rama.
Rama memohon pada sahabatnya untuk menyembunyikan hal itu, dia tidak ingin nama baik dirinya dan Diska tercemar karena perbuatan dosa yang sudah mereka lakukan.
"Tapi, mengapa Diska menyembunyikan hal ini dariku?" tanya Rama pada sang sahabat.
"Karena kamu tidak jujur padanya bahwa kamu sudah bercerai dengan Annisa," jawab Rudi.
"Benar, aku belum berani memberitahukan hal itu pada Diska," lirih Rama jujur.
"Jika saja kalian saling terbuka, mungkin kalian masih bisa berjodoh," ujar Rudi menyampaikan pendapatnya.
"Tapi, Rud. Diska itu sudah menjadi dokter terkenal di kotanya. Itu semua adalah cita-citanya dan impiannya. Aku tidak mungkin merusak semua yang sudah diraihnya," ujar Rama.
Lagi-lagi jiwa pesimis yang ada di diri Rama muncul, dia selalu lemah dalam masalah memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
Dia selalu merasa kalah sebelum berperang.
"Hal ini yang paling tidak aku suka darimu, kamu selalu lemah dalam memperjuangkan cintamu. Seharusnya apa pun kamu lakukan demi mendapatkan wanita yang kamu cintai, dan demi putramu yang sangat membutuhkan sosok seorang ayah." Rudi menasehati sahabatnya.
Rama terlihat termenung memikirkan perkataan sang sahabat.
"Ya sudah, kamu berpikirlah! Aku mau pulang dulu, udah sore," ujar Rudi.
Rudi berdiri lalu melangkah meninggalkan Rama seorang diri di pondok kecilnya di tengah hutan.
Rama masih termenung memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya hingga dia tak menyadari azan maghrib mulai berkumandang, gelapnya malam kini mulai menutupi langit biru.
"Astagfirullah, sudah gelap. Waktu maghrib sudah masuk," lirihnya.
Rama pun berdiri lalu dia melangkah menuju anak sungai untuk berwudhu'.
Setelah itu dia pun masuk ke dalam pondoknya dan menutup pintu pondok kecil itu.
Pria desa itu mulai menunaikan kewajibannya yaitu shalat maghrib, dia bersujud di atas sajadahnya memohon ampun atas dosa yang sudah dilakukannya.
Usai shalat Maghrib Rama mendirikan shalat sunah ba'diyah lalu disambungnya dengan shalat taubat.
Rama kembali melakukan shalat taubat, dia menangisi atas perbuatannya.
Rama menangisi perbuatannya yang tidak bertanggung jawab, dia menangisi penderitaan yang dijalani Diska selama mengandung sang membesarkan putranya, benih cinta yang ditanamkannya di dalam rahim wanita yang dicintainya itu sebelum mereka berpisah.
Rama membayangkan betapa beratnya beban yang dipikul oleh Diska selama 3 tahun terakhir ini.
"Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku, ampunilah segala kesalahanku. Aku sudah memberi beban dalam kehidupan seorang wanita yang sangat aku cintai. Aku sudah membuat wanita yang aku cintai itu memikul beban berat mengandung, beban berat membesarkan anak yang terlahir dari perbuatan dosa yang sudah aku perbuat terhadapnya. Aku mohon, Tuhan! Ampunilah dosa besar yang sudah hamba lakukan," lirih Rama mulai terisak.
Saat ini dia merasa dirinya sebagai seorang yang sangat kejam. Seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab atas perbuatan hina yang sudah dilakukannya.
Rama menangisi semua perbuatan dosa yang dilakukannya, setelah selesai berdo'a dia pun sujud di atas sajadahnya.
Dia terus memohon atas kesalahannya.
"Ya Allah, jika engkau memberikan kesempatan padaku untuk memperbaiki hubungan dengan wanita yang aku cintai itu, maka aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakannya sedikitpun. Aku akan membuat Diska dan putra kami bahagia," lirih Rama dalam sujudnya.
****
Bersambung...
__ADS_1