Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 27


__ADS_3

Suasana di ruang keluarga itu seketika terasa mencekam, Rama dan Diska tengah duduk di hadapan kedua orang tua Diska.


Mereka masih diam sibuk dengan pikiran masing-masing.


Diska dan Rama saat ini hanya bisa berdo'a agar ayah Diska merestui hubungan mereka.


"Rama," lirih Pak Bayu dengan suara baritonnya.


Rama mengangkat wajahnya, dia menatap pak Bayu dengan mata sayu.


"Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Pak Bayu terus terang tanpa ada basa-basinya.


"Maaf, Om, Tante, jika menurut Om dan Tante kedatangan saya sudah lancang. Saya datang ke sini hanya untuk bertanggung jawab atas Diska dan Farel," jawab Rama dengan tegas.


Nada yang diucapkan Rama teratur sehingga ucapannya membuat hati Pak Bayu dan Bu Naina merasa Rama serius dengan ucapannya.


"Kenapa kamu baru datang sekarang? Kenapa kamu tidak datang setelah merenggut kesucian putriku?" ujar Pak Bayu terus terang.


Rama terdiam mendengar perkataan dari Ayah wanita yang dicintainya.


"Kamu sudah membiarkan putriku menderita selama 3 tahun, mengapa kamu baru datang sekarang?" tanya Pak Bayu lagi.


Sebagai orang tua, Pak Bayu dan Bu Naina ikut tersakiti dengan apa yang sudah dilakukan oleh Rama.


Tidak ada orang tua yang bisa bahagia melihat putrinya berselimutkan kesedihan.


"Maafkan saya, Om, Tante. Saya tahu saya salah, tapi saat itu Saya tidak memiliki keberanian untuk menemui om dan tante," tutur Rama jujur.


"Jadi, saat ini apa alasanmu berani datang menemui kami?" tanya Pak Bayu.


Pak Bayu terus menyerang Rama dengan berbagai pertanyaan. Kali ini Rama diam dan berpikir.


"Saat itu, saya belum memiliki keberanian untuk bertemu dengan Om dan Tante karena saya masih takut sebuah penolakan dari Om dan Tante, tapi sekarang saya berani karena apa pun keputusan Om dan Tante nantinya, saya hanya ingin meminta pada Om dan Tante jangan pisahkan Farel dari ayahnya, karena Om dan Tante dapat merasakan bagaimana sakitnya berpisah dengan Diska beberapa hari ini," ujar Rama dengan berani.


Pak Bayu dan Bu Naina teringat keakraban Farel dengan Rama.


Mereka melihat ketulusan Rama yang menyayangi Diska dan Farel selama beberapa hari ini.


"Om, Tante, demi Diska dan Farel saya siap tinggalkan kampung saya. Saya akan tinggal di sini untuk menjaga Diska dan Farel," ujar Rama lagi memohon pada kedua orang tua Diska yang saat ini masih terdiam memikirkan keputusan apa yang harus mereka ambil.

__ADS_1


"Baiklah, jika kamu mau tinggal di sini bersama Diska. Apa yang bisa kamu berikan pada Diska dan Farel? Sementara itu kamu saat ini tidak memiliki pekerjaan di sini?" tanya Pak Bayu.


Sebagai seorang ayah, Pak Bayu juga harus memastikan putrinya akan dinafkahi oleh Rama, jika mereka menikah nantinya.


Pak Bayu tidak akan memberikan putrinya begitu saja pada pria yang tidak memiliki pekerjaan, dia tidak mau putrinya bekerja sementara itu Rama bersantai menunggu uang keringat putrinya.


Rama terdiam sejenak, Diska mulai khawatir. Diska tahu betul keuangan Rama saat ini. Setahu Diska uang yang sudah dikumpulkannya selama 3 tahun ini sudah diserahkan Rama pada Diska.


"Pa, Ma. Bang Rama bisa buka usaha di sini," jawab Diska.


Akhirnya Diska angkat suara yang mana sejak tadi Diska hanya menjadi seorang pendengar yang baik.


"Buka usaha pakai modal dari mana, Diska?" tanya Pak Bayu pada putrinya.


"Bang Rama ada tabungan, uangnya udah sama aku. Nanti kita akan pikirkan usaha yang cocok untuk Bang Rama." Diska terus berusaha membela Rama.


"Aku akan bertanggung jawab atas semua kebutuhan Diska, Om dan Tante jangan khawatir," ujar Rama dengan mantap.


Diska cemas dengan apa yang diucapkan Rama.


"Apa pekerjaan yang akan kamu lakukan?" tanya Pak Bayu terus saja menginterogasi Rama.


"Tanpa bekerja, saya akan menghasilkan uang, Om. Saya tidak akan membiarkan Diska dan Farel hidup susah," jawab Rama.


"Bang," lirih Diska.


Diska takut, Rama berbohong dengan apa yang sudah dikatakannya saat ini.


Rama menoleh pada wanita yang sangat dicintainya.


"Dek, kamu tenang saja," lirih Rama menghapus kecemasan yang ada di wajah wanita itu.


"Baiklah, kalau kamu memang sanggup membahagiakan putriku, saya akan memberikan satu syarat," ujar Pak Bayu menguji kemampuan Rama untuk membahagiakan putrinya.


"Saya terima syarat apa pun itu, asalkan saya bisa hidup bersama orang yang saya sayangi," ujar Rama dengan keberanian.


"Baiklah, sebelum kalian menikah. Saya ingin kamu menyediakan tempat tinggal yang layak untuk putri saya," ujar Pak Bayu mengungkapkan syarat yang dimintanya.


"Baiklah, kalau begitu besok tunjukkan pada saya rumah yang layak menurut Om, kita akan beli besok," jawab Rama dengan berani tanpa ragu.

__ADS_1


Diska kaget mendengar pernyataan Rama. Dia tak menyangka Rama akan berani menerima tantangan dari kedua orang tuanya.


"Baiklah, kebetulan teman om ada yang ingin menjual rumah," ujar Pak Bayu pada Rama.


"Siap, Om," ujar Rama menyanggupi persyaratan tersebut.


Diska terlihat pucat mendengar ucapan Rama.


"Baiklah, besok kita langsung lihat rumahnya," ujar Pak Bayu.


Pak Bayu pun berdiri dan mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar, meninggalkan Rama dan Diska di ruang tamu.


"Bang," lirih Diska menoel siku Rama setelah melihat kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar mereka.


Rama menoleh pada Diska tanpa merasa ada yang salah sedikitpun.


"Bang, kamu jangan main-main." Diska terlihat khawatir.


Rama tersenyum pada Diska, dia menatap dalam pada Diska.


"Dek, kamu yakin 'kan sama Abang?" tanya Rama.


"Tapi, Bang. Dari mana kamu akan mendapatkan uang untuk membeli rumah yang diinginkan papa," ujar Diska mulai risau.


Diska mengingat tabungannya selama 3 tahun saja tidak akan cukup untuk membeli rumah mewah, mungkin uang tabungan Diska cuma cukup untuk membeli rumah sederhana saja.


"Kamu tenang saja, aku akan menyelesaikan semua persyaratan yang diberikan oleh kedua orang tuamu," ujar Rama penuh keyakinan.


Yang Diska tahu saat ini uang Rama yang ada di rekeningnya sisa 90 jutaan, dari mana Rama akan mendapatkan tambahannya.


"Baiklah, kalau begitu." Akhirnya Diska pun terdiam.


Meskipun Diska saat ini merasa risau dengan apa yang akan terjadi esok hari.


"Ya udah kalau begitu, kita tidur, yuk! Atau kamu mau tidur bareng aku?" Rama menggoda Diska.


"Ish, kamu. Belum muhrim. Halalkan aku dulu," ujar Diska.


Wajah Diska memerah menahan malu, setelah itu dia berdiri lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Rama yang masih duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Setelah memastikan Diska masuk ke dalam kamarnya, Rama pun melangkah menuju kamar tamu Yangs udah disediakan Diska tempat Rama beristirahat selama berada di Bandung.


Bersambung...


__ADS_2