Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 69


__ADS_3

Setelah beberapa waktu Uci Desmi menangis. Kini dia mengusap air matanya yang tadi sempat membasahi pipinya.


"Apa yang terjadi, Uci?" Diska mengulangi pertanyaannya kepada wanita paruh baya itu.


"Maafkan Uci sudah membuat kalian khawatir, Uci hanya terharu dengan kedatangan kalian dalam waktu dekat ini," tutur Uci Desmi.


"Sejak kalian pergi, Uci benar-benar merasa kesepian dan kehilangan kalian. di desa ini hanya kalian yang sudah Uci anggap sebagai anak-anak Uci." Uci Desmi pun mengungkapkan alasan dia menangis.


"Saat Diska pergi meninggalkan Uci, Rama satu-satunya tempat Uci melepaskan rasa sepi di hari, tapi di saat ramah pergi bersamamu setelah menikah, ada sesuatu yang membuat uji benar-benar merasa kehilangan. uji merasa Rama tidak akan kembali lagi ke desa ini karena kesibukannya di kota," tutur Uci Desmi jujur.


Rama tersenyum mendengar penuturan dari wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya, wanita yang selalu ada membantunya disaat kapanpun dia membutuhkannya.


"Uci tenang saja, setelah ini kami tidak akan meninggalkan Uci lagi, kami akan menetap di sini," ujar Rama.


Uci Desmi tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rama, karena menurutnya tidak akan ada orang kota yang mau tinggal di desa seperti desa mereka.


Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Diska, seakan dia mempertanyakan kebenaran apa yang dikatakan oleh Rama.


"Iya, Uci. Aku akan bekerja di klinik Silaping bersama kak Gina, dia yang menawarkan aku pekerjaan itu," ujar Diska membenarkan apa yang dikatakan oleh sang suami.


Uci Desmi langsung memeluk Diska, dia sangat senang dengan apa yang dikatakan oleh Diska.


"Alhamdulillah, Uci senang sekali mendengar apa yang kalian katakan, kalian bisa tinggal di rumah ini," ujar Uci Desmi senang.


Rama tersenyum.


"Terima kasih Uci, aku berencana untuk merenovasi rumah peninggalan kedua orang tuaku, agar rumah itu tidak lapuk," ujar Rama memberitahukan wanita paruh baya itu tentang rencananya setelah ini.


Uci Desmi terdiam sejenak mendengar apa yang dikatakan oleh Rama, setelah itu dia pun tersenyum.


"Kalau begitu rencana kamu, tak masalah bagi Uci yang penting kalian tetap ada di desa ini," tutur Uci Desmi.


Mereka pun tersenyum lega mendengar perkataan dari Uci Desmi.


"Ya udah, kalian istirahat dulu. Uci akan masak makan malam untuk kalian," ujar Uci Desmi pada mereka semua.


"Uci tidak perlu repot-repot, kami sudah membeli gulai dan lauk di jalan, di tempat biasa," ujar Diska.


Diska dan Rama tidak ingin kedatangan mereka menjadi beban oleh wanita yang juga mereka sayangi seperti ibu mereka.


Mereka pun bercerita dan mengobrol sambil bermain dengan si kecil Farel.

__ADS_1


"Sayang, aku ke rumah dulu. Mana tahu ada si Rudi di sana, ada yang harus aku selesaikan dengannya," ujar Rama pamit pada istrinya.


"Oh, ya udah kalau gitu," ujar Diska.


Rama pun berdiri dan melangkah keluar rumah, dia berjalan kaki menuju rumahnya.


Di sepanjang jalan banyak orang yang menyapa, Rama membalas dengan senyuman ramahnya seperti biasa.


Beberapa warga ikut senang dengan kebahagiaan yang didapat oleh Rama, mereka tahu betul bagaimana nasib Rama yang hidup sebatang kara setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.


Meskipun ada keluarga jauhnya, tapi Rama hidup atas bantuan para tetangganya, kini semua orang sudah tahu akan kekayaan yang di dapat Rama dari peninggalan kedua orang tuanya.


Tak berapa lama Rama melangkah melewati beberapa warga yang sedang duduk-duduk di teras rumah maupun orang-orang yang berpapasan dengannya, kini dia pun sampai di depan rumah kedua orang tuanya yang sudah terlihat sangat lapuk karena sudah terlalu lama ditinggal penghuninya.


Rama tidak langsung masuk ke dalam rumah peninggalan kedua orang tuanya itu, dia melangkah menuju rumah sahabatnya, dia ingin berjumpa dengan sahabatnya, Rudi.


"Assalamu'alaikum," ucap Rama saat dia sudah berada di depan pintu rumah Rudi.


Rudi baru saja masuk ke kamarnya, dia baru pulang bekerja.


Dia menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar.


Dia membalikkan badannya lalu melangkah keluar menuju pintu rumah.


"Rama!" pekik Rudi tak percaya sahabatnya kini berdiri di depan pintu rumahnya.


Rama tersenyum melihat wajah sumringah sahabatnya, terlihat jelas wajah bahagia sang sahabat saat melihat dirinya berdiri di depannya.


Rama pun memeluk tubuh sang sahabat dengan erat.


"Kamu datang dengan siapa? Hah?" tanya Rudi setelah dia melepaskan pelukannya.


"Diska dan Farel," jawab Rama.


"Hah?" Rudi tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rama.


Sesuai dengan apa yang dikatakan Rama sebelum berangkat ke Bandung dia akan datang sekali 1 bulan atau 3 bulan, tapi ini belum sampai mereka satu bulan di Bandung mereka sudah kembali ke desa Tanjung.


"Ada acara apa?" tanya Rudi penasaran.


"Segitunya kamu penasarannya, sampai-sampai kamu lupa menyuruhku masuk?" ujar Rama.

__ADS_1


"Astaghfirullah, ya ampun ayo masuk. Ini saking senangnya aku dengan kedatanganmu," ujar Rudi memberi alasan.


Mereka pun melangkah menuju ruang tamu yang di sana terdapat kursi rotan.


"Ibumu bagaimana kabarnya, Rud?" tanya Rama.


Ibu Rudi selama ini hanya bisa berbaring di atas tempat tidur karena sakit.


"Ya seperti itulah," jawab Rudi.


Ibu Rudi sudah lama sakit, mereka sudah berobat ke mana-mana, tapi tidak juga sembuh-sembuh, hingga akhirnya ibu Rudi menyerah dan memilih untuk membiarkan penyakitnya.


Dia memilih menanggung rasa sakit itu hingga ajal menjemput, dia tak ingin lagi menyusahkan putranya.


Rudi hanya tinggal bersama ibunya, 2 orang kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di desa sang suami, mereka jarang pulang.


Semua keperluan ibunya Rudilah yang menanggungnya.


"Jadi, apa alasan kamu balik?" tanya Rudi masih penasaran dengan apa yang menyebabkan sahabatnya kembali dalam waktu dekat.


"Mhm, kami akan tinggal di sini, dan menetap di sini," jawab Rama jujur.


Rudi menautkan kedua alisnya, dia berusaha mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya.


"Apa maksud kamu?" tanya Rudi.


"Diska akan bertugas di klinik Silaping, makanya kami akan tinggal di sini," jelas Rama.


"Alhamdulillah, kalau begitu aku akan ada teman lagi untuk berkeluh kesah, hahaha," ujar Rudi sambil tertawa bahagia.


"Dasar, kamu ya. Butuh aku hanya buat berkeluh kesah, makanya cari dong pendamping hidup," ujar Rama menyindir Rudi.


Rama juga ingin melihat sahabatnya bahagia menemukan wanita yang setia menemaninya dalam suka dan duka.


Seketika Rudi teringat dengan cintanya yang kandas sebelum dimulai.


Dia sudah patah hati sebelum berani mengungkapkan rasa yang ada di hatinya, karena wanita yang dicintainya adalah istri dari sahabatnya yaitu Diska.


"Woi, kenapa melamun?" tanya Rama pada Rudi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2