
Rama memang menginginkan mereka tinggal di desa, tapi bukan berarti dia tidak suka tinggal di Bandung.
Dari segi ekonomi, Rama akan bolak balik sekali berapa bulan ke desanya untuk memantau hasil kebunnya di desa, maka itu akan menghabiskan biaya setiap bulannya.
Meskipun kepergiannya bolak balik Desa dan Bandung tidak akan menghabiskan uangnya tapi dia lebih senang menetap di desanya karena jika mereka tinggal di desa, Rama bisa melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakannya.
"Bukan terpaksa, Sayang. Jika, mama dan papa kamu sudah pindah ke kota Padang. Kenapa kamu enggak pindah juga ke daerah sini, supaya kamu bisa mengunjungi mama dan papa kapanpun kamu mau," ujar Rama.
Rama berusaha memberikan masukan-masukan agar istrinya dapat berpikir bahwa apa yang dikatakannya sangat masuk akal.
"Ya, sudah. Aku coba pikirkan dulu masalah ini," ujar Diska.
Diska tidak mau membantah dan juga tidak mau menerima masukan yang diberikan oleh sang suami begitu saja.
Diska akan mencoba untuk mempertimbangkan baik buruk apa yang sudah disampaikan oleh suaminya tadi.
"Ya udah kamu coba mikir dulu, Aku tidak mau memaksamu. aku hanya memberi saran yang terbaik untuk kita, kamu dan aku," ujar Rama.
Diska dan Rama kembali sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, Diska asyik berbalas pesan dengan Gina meminta pendapat kakak senior yang sudah menjadi sahabat baginya, sedangkan Rama sibuk membuka aplikasi game yang ada di ponselnya.
Sang Pemuda Desa itu tidak mengerti dengan dunia media sosial, bahkan dia tidak tertarik untuk membuka Fa**book, Tik **k, Inst**ram dan lain-lain berbagai media sosial yang dapat menghubungkan dirinya dengan orang lain yang ada di dalam dunia maya.
Setelah shalat ashar Pak Bayu dan keluarga keluar dari hotel menggunakan mobil yang disewa oleh Rama dari salah satu kenalannya yang ada di kota Padang.
Kali ini Rama meminta pemilik mobil untuk mengantarkan mereka berkeliling kota Padang mencari rumah kontrakan untuk kedua orang tua Diska.
Lokasi pertama yang mereka cari adalah perumahan yang ada di dekat rumah sakit semen Padang, mereka memilih lokasi tersebut agar Pak Bayu dan Bu Naina tidak mengalami kesulitan dalam transportasi menuju rumah sakit.
"Di kawasan ini masih banyak rumah yang dikontrakkan, Bang." Sopir yang membawa mobil tersebut memberitahukan.
"Benarkah?" tanya Rama memastikan.
"Iya, Bang. Kebetulan yang punya rumah saya kenal," ujar si sopir tersebut menawarkan bantuan pada Rama dan rombongan.
"Ya sudah, coba kita lihat terlebih dahulu rumah tersebut," ujar Rama menerima tawaran dari sopir yang mengendarai mobil yang disewanya.
__ADS_1
Si sopir pun langsung mengarahkan mobilnya menuju rumah yang tadi dimaksudnya.
Tak berapa lama mereka menempuh perjalanan akhirnya si sopir menghentikan mobil di depan rumah yang sederhana, rumah itu tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil,. menurut Rama rumah tersebut bisa digunakan untuk kedua orang tua Diska.
Mereka turun dari mobil untuk memeriksa kondisi rumah tersebut.
Kebetulan si sopir sudah memberitahu pemilik rumah bahwa dia sudah membawa orang yang ingin menyewa rumah.
Sehingga mereka pun bisa langsung melihat-lihat keadaan rumah tersebut.
Saat mereka berada di depan rumah, pemilik rumah langsung mempersilakan mereka masuk untuk melihat kondisi rumah.
Rumah itu terdapat 2 kamar 2 kamar mandi, dapur sederhana, ruang tamu dan ruang keluarga.
"Sepertinya rumah ini nyaman, Ma, Pa," ujar Diska menyampaikan pendapatnya.
"Bagaimana, Ma. Apakah mama suka dengan rumah ini?" tanya Pak Bayu kepada istrinya.
Baginya di manapun mereka tinggal asalkan istrinya merasa nyaman maka Pak Bayu akan setuju.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku akan mengurus segala sesuatunya," ujar Rama.
"Bang, kami suka dengan rumah ini. Bagaimana caranya?" tanya Rama terus terang.
"Rumah ini harga kontrakannya 10 juta per tahun,": ujar si pemilik rumah.
"Ya sudah, kami akan menempati rumah ini hari ini juga," ujar Rama.
"Iya, Kak. Mama dan papa akan tinggal di rumah ini langsung," ujar Diska juga setuju.
"Baiklah, kalau begitu." Si pemilik rumah setuju.
Rama langsung melakukan proses pembayaran rumah tersebut.
Malam itu, mereka masih tidur di hotel, sebelum mereka meninggalkan rumah tersebut, Rama pun mengurus semua barang-barang yang dibutuhkan oleh kedua orang tua Diska.
__ADS_1
Sesudah semua barang-barang yang dibutuhkan sudah ada di rumah itu, mereka pun kembali ke hotel.
"Untuk hari ini cukup ini saja dulu, jika di kemudian hari ada yang kami butuhkan di sana kami lengkapi," ujar Bu Naina pada Rama.
Bu Naina merasa tidak enak hati pada menantunya itu, mulai dari biaya keberangkatan ke kota Padang hingga biaya kontrakan ditanggung oleh sang menantu.
Pak Bayu dan Bu Naina merasa bersyukur sudah mendapatkan menantu seperti Rama.
Rama sama sekali tidak menganggap kedua mertuanya sebagai mertua, tapi dia menganggap kedua orang tua Diska sebagai orang tuanya sendiri.
"Ma, Pa." Diska meminta perhatian dari kedua orang tuanya saat mereka sedang berada di dalam perjalanan pulang dari rumah kontrakan menuju hotel.
"Ada apa, Sayang," ujar Bu Naina menanggapi panggilan sang putri.
"Aku dapat tawaran kerja di desanya Bang Rama untuk menjadi dokter di klinik desa, bagaimana menurut mama dan papa?" tanya Diska pada kedua orang tuanya.
"Apa, benarkah? Kami setuju kalian pindah ke sini, itu artinya kamu bisa mengunjungi mama dan papa kapan pun kami inginkan." Bu Naina terlihat sangat setuju putrinya pindah ke desa Rama agar mereka tidak memiliki jarak yang jauh dengan putrinya.
Rama senang melihat ekspresi dan tanggapan dari ibu mertuanya, hal ini membuat Rama yakin istrinya akan mengambil keputusan pindah ke desa.
Jika Rama ingin jujur, dia merasa bosan, tidak bekerja sama sekali selama di Bandung.
Bermain dengan Farel juga bisa dilakukan setelah dia selesai bekerja jika dia bekerja.
"Kalau menurut papa bagaimana?" tanya Diska meminta pendapat dari ayahnya.
"Mhm, bagaimana ya? Kalau menurut papa, apa yang dikatakan oleh mamamu ada benarnya juga, toh papa dan mama juga sekarang sudah menetap di sini, kalau kamu juga tinggal di daerah sini, maka kita masih bisa saling bertemu kapan pun kita mau," ujar pak Bayu juga mendukung pendapat sang istri.
Diska terdiam mendengar ucapan kedua orang tuanya, dia tak menyangka kedua tuanya akan sependapat dengan suaminya.
Diska mulai galau dan ragu, awalnya dia ingin tetap tinggal di Bandung karena karier Diska di rumah sakit tempat dia bekerja.
Jika di rumah sakit tempat dia bekerja, kemungkinan besar namanya akan naik daun, sedangkan di desa, dia tidak melihat jenjang karirnya.
Bersambung...
__ADS_1