Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 6


__ADS_3

Langkah Annisa terhenti begitu saja, Pak Didin heran dengan apa yang dilakukan oleh menantunya.


"Rama, apa yang kamu lakukan?" tanya Pak Didin heran.


"Saya melakukan hal yang sudah seharusnya saya lakukan, Annisa mulai hari ini aku talak kamu talak 3 sekaligus," ujar Rama menatap Annisa dan Pak Didin dengan tatapan penuh kebencian.


"A-apa?" lirih Annisa kaget.


Dunia bagaikan runtuh bagi Annisa saat mendengar talak yang diucapkan oleh suaminya.


Tidak tanggung-tanggung, Rama langsung mengucapkan talak 3 karena Rama tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga Pak Didin.


Rasa sakit saat mendengar kedua orang tua Annisa yang menuturkan bahwa merekalah yang membunuh kedua orang tua Rama membuat pria itu menyimpan dendam pada Pak Didin dan keluarganya.


"Apa yang terjadi Rama?" tanya Pak Didin tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kau!" Rama meruncingkan telunjuknya tepat di wajah pria yang baru saja berstatus mantan mertua bagi Rama.


Pak Didin kaget melihat sorotan mata Rama yang bagaikan hendak membunuhnya.


"Ra-Rama, a-apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Didin gugup.


"Iya, Nak Rama. Apa yang terjadi?" tanya Bu Yuyun ikut angkat suara.


"Kalian! Kalian pembunuh!" bentak Rama.


Pak Didin dan Bu Yuyun tak bisa berkutik, mereka kaget dengan ucapan Rama.


"A-apa maksud ka-kamu, Rama?" Pak Didin masih berusaha untuk tenang walau hatinya berkecamuk.


Dia takut tiba-tiba Rama melakukan hal yang tidak diduga.


"Rama, tenangkanlah dirimu," bisik Uci Desmi berusaha menenangkan Rama agar Rama tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


"Bang, jangan lakukan ini padaku," ujar Annisa memohon pada Rama.


Rasa bahagianya sudah mendapatkan apa yang diinginkannya hilang begitu saja.

__ADS_1


Kini dia dan Rama sudah tidak lagi memiliki hubungan apa-apa padahal mereka baru saja sah sebagai pasangan suami istri.


Hati Annisa hancur lebur tak berbentuk, gadis itu menangis sejadi-jadinya.


"Pergilah dari sini aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi," lirih Rama dengan susah payah menahan emosinya.


Rama takut, dia khilaf dan menghabisi nyawa pak Didin Yang sudah membunuh kedua orang tuanya.


"Tolong jelaskan dulu apa maksud kamu," ujar Pak Didin masih pura-pura tidak tahu.


Uci Desmi pun menarik Rama, dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Uci Desmi mengambilkan segelas air minum untuk Rama. Sejenak dia mengabaikan beberapa orang yang kini sedang berada di depan rumahnya.


Setelah memastikan Rama mulai tenang, Uci Desmi kembali melangkah keluar untuk menemui keluarga Annisa.


"Pak Didin, maaf saya harus ikut campur masalah ini," ujar Uci Desmi memulai pembicaraan.


"Uci Desmi bisa jelaskan apa yang sudah terjadi?" pinta salah satu warga yang ikut mengantar keluarga Pak Didin ke rumah Uci Desmi.


"A-apa?" lirih Pak Didin kaget.


Dia menoleh ke arah istrinya, Dia teringat dengan percakapan yang dilakukannya bersama sang istri sebelum Annisa memberitahukan Rama tidak ada di rumahnya.


"Bu, jangan-jangan Rama mendengar apa yang kita bicarakan tadi di kamar," ujar Pak Didin.


"Mungkin sekarang Pak Didin sudah tahu alasan Rama melakukan hal ini, untuk itu lebih baik Pak Didin membawa Annisa pulang. Bersyukur Rama tidak mengadukan masalah ini kepada polisi," ujar Uci Desmi.


Pak Didin dan Bu Yuyun saling berpandangan, akhirnya mereka membawa Annisa pulang dari rumah Uci Desmi.


Dua orang warga yang ikut dengan Pak Didin mulai bertanya-tanya dengan apa yang sudah terjadi.


Flash back off.


2 jam menempuh perjalanan udara, pesawat yang ditumpangi oleh Diska mendarat di Bandara Internasional Minangkabau.


Mereka pun turun dari pesawat lalu menuju tempat pengambilan barang mereka yang ada di bagasi pesawat.

__ADS_1


"Nona, bias saya yang gendong Farel. Nona pasti capek," ujar Mbak Yuyun.


"Enggak apa-apa, Mbak. Aku aja yang gendong Farel, Mbak Yuyun t tolong ambil troli yang ada di sana, supaya kita bisa bawa barang-barang kita sekaligus keluar dari bandara," ujar Diska.


"Baik, Nona," sahut Mbak Yuyun.


Wanita yang berumur lebih tua dari Diska itu pun melangkah menuju tempat troli yang ditunjuk oleh Diska tadi lalu membawanya ke dekat Diska berada, yang mana di sana sudah ada 3 koper milik mereka.


Mbak Yuyun pun meletakkan koper milik mereka ke atas troli, lalu mengajak Mbak Yuyun keluar dari bandara.


Diska pun membuka aplikasi jasa angkutan online di ponselnya, setelah itu dia memesan taksi menuju loket bus menuju desa Silaping kabupaten Pasaman Barat.


Diska sudah mengetahui letak loket Bintang Pasaman, dia juga sudah mengenal sopir maupun agen bus Bintang Pasaman tersebut, dia juga sudah menghubungi nomor ponsel agennya dan memesan kursi untuk mereka nanti.


Mereka akan berangkat pada pukul 18.00. Sebelum mereka menuju loket, Diska mengajak Mbak Yuyun untuk mencari penginapan untuk beristirahat dan mencari tempat untuk makan siang karena jam sudah menunjukkan pukul 13.30.


"Nona, kita sekarang lagi di mana?" tanya Mbak Yuyun penasaran dengan posisi keberadaannya saat ini.


"Mhm, lihatlah Mbak, kita sekarang berada di Bandara Internasional Minangkabau yaitu Sumatra Barat," jawab Diska sambil menunjuk tulisan besar yang ada di depan bandara.


"Sumatera Barat? Ya ampun, Nona. Mbak Yuyun enggak nyangka bisa menginjak tanah Sumatera. Berarti sekarang Mbak Yuyun sedang berada di kampungnya Amar Zoni ya, Nona?" tanya Mbak Yuyun menyebutkan salah satu aktor favoritnya.


"Hehehe, iya, Mbak. Di sini tempat aku bertugas 2 tahun yang lalu," ujar Diska jujur.


"Apa? Jangan-jangan kita mau ketemu ayahnya Farel ya, Nona," tanya Mbak Yuyun.


"Entahlah, Mbak. Yang jelas saat ini aku mau ketemu sama Uci Desmi. Wanita yang sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri," lirih Diska mengingat masa-masa bersama wanita baik hati yang mau menampung dirinya di rumahnya.


"Mhm, iya, Nona. Tapi, sepertinya enggak salah kalau Nona bertemu dengan Ayahnya Farel, supaya dia tahu bahwa dia memiliki putra yang tampan," ujar Mbak Yuyun.


"Mbak, aku minta nanti kalau kita sudah sampai di sana, Mbak Yuyun jangan bilang kalau Farel itu putranya Rama. Bilang saja aku sudah menikah, aku tidak ingin merusak rumah tangganya. Jika dia tahu aku memiliki seorang putra darinya, aku yakin dia akan meninggalkan istrinya," ujar Diska.


Diska masih teringat jelas video yang dikirimkan Annisa padanya, di video itu sudah jelas Rama mengucap janji pada gadis yang bernama Annisa.


"Baiklah, Nona. Mbak Yuyun akan melakukan apa yang Nona perintahkan," lirih Mbak Yuyun mengerti.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2