Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 44


__ADS_3

Diska dan Rama juga berangkat menuju bandara diantarkan oleh sopir pribadi keluarga Diska.


Mbak Yuyun juga sudah siap untuk berangkat. Mereka naik ke dalam mobil, seperti biasa Farel selalu dipangku oleh ayahnya.


Sejak Farel bertemu dengan Rama, pekerjaan Mbak Yuyun tidak terlalu berat lagi, bahkan dia merasa tidak enak digaji oleh Diska seperti biasanya padahal pekerjaannya sudah jauh berkurang.


Mbak Yuyun duduk di samping sopir, sedangkan Rama dan Diska duduk di bangku belakang.


Sesampai di Bandara Pak Ujang membantu Rama mengeluarkan barang-barang yang ada di bagasi mobil, tak banyak barang yang mereka bawa, barang yang banyak itu adalah barang-barang perlengkapan untuk Farel.


Setelah semua barang-barang turun darai mobil, Mbak Yuyun mengambil troli bandara, dia meletakkan barang-barang mereka di troli tersebut.


Lalu dia mendorong troli tersebut masuk ke dalam bandara.


Mereka langsung check-in karena pesawat mereka sebentar lagi akan berangkat.


Tak menunggu lama mereka pun langsung masuk ke dalam pesawat.


Mbak Yuyun sudah mulai terbiasa untuk naik pesawat, jadi dia tak lagi merasa canggung dalam perjalanan udara yang akan mereka mulai.


Pukul 10.15. pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Bandara Internasional Minangkabau Sumatera Barat.


Mbak Yuyun merasa senang kembali menginjak tanah Minangkabau yang terkenal masyarakatnya pencinta makanan pedas.


"Mbak Yuyun tak menyangka bisa kembali lagi ke sini, hehe," ujar Mbak Yuyun mengungkapkan rasa bahagianya.


Dia yang merupakan seorang wanita yang berasal dari desa terpencil di Jawa barat tak pernah bermimpi bisa menginjak tanah Sumatera seperti yang dirasakannya saat ini.


"Kalau seperti ini, Mbak. Kita akan sering datang ke sini," ujar Diska pada Mbak Yuyun.


"Iya, juga, ya." Mbak Yuyun sudah membayangkan setiap liburan mereka akan membawa dirinya ikut ke desa terpencil yang ada di ujung Sumatra barat itu.


"Iya, Mbak. Kalau seandainya, aku ajak tinggal di sini, kira-kira Mbak Yuyun mau, enggak?" tanya Rama pada Mbak Yuyun.


"Mhm, tergantung sih, Bang." Mbak Yuyun bingung menjawab pertanyaan Rama.


Rama tersenyum pada Diska.


"Mhm, kalau ada rejeki di sini, mau dong ya, Mbak? Apalagi kalau dapat jodoh orang sini," ujar Diska menanggapi ucapan Mbak Yuyun.


Saat sedang asyik mengobrol supir yang sebelumnya mengantar Rama dan Diska ke bandara sudah datang menjemput mereka.


"Eh, itu mobilnya sudah datang," sahut Rama saat melihat mobil temannya yang sebelumnya sudah disewanya.


"Bagaimana berhasil?" tanya si supir saat bertemu dengan Rama.

__ADS_1


"Dia sudah sah jadi istriku," jawab Rama dengan senyuman yang mengembang.


Tak ada kabar yang paling bahagia kecuali kebersamaannya dengan wanita yang sangat dicintainya.


"Benarkah? Selamat kalau begitu. Semoga kalian menjadi pasangan yang langgeng hingga maut memisahkan," ujar si sopir langsung menjabat tangan ramah.


Dia juga ikut bahagia dengan apa yang kini dirasakan oleh Rama, sedikit banyak dia juga mengetahui cerita tentang kisah cinta Rama selama ini.


Diska tersenyum mendengar ucapan selamat dari sang sopir.


Setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil, si sopir membantu Mbak Yuyun untuk memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil Setelah itu mereka meninggalkan bandara menuju Desa Tanjung.


Mereka sampai di desa Tanjung pada pukul 16.20.


Uci Desmi yang baru saja selesai shalat ashar heran saat mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.


Wanita paruh baya itu langsung membuka mukenanya dan mengganti mukenanya dengan songkok kepala, lalu dia pun keluar dari rumah.


Uci Desmi menunggu sosok yang keluar dari mobil tersebut, dia memperhatikan dengan seksama siapa yang akan keluar dari mobil yang kini berhenti di depan rumahnya.


Wanita paruh baya itu kaget saat melihat sosok Diska dan Rama keluar dari mobil tersebut sambil menggendong Farel.


Tak lupa juga Mbak Yuyun ikut turun dari mobil tersebut.


"Assalamu'alaikum," ucap Diska dengan wajah yang berbinar.


Ibu satu anak itu langsung menghampiri wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya, Diska langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Wa'alaikummussalam," jawab Uci Desmi.


Uci Desmi membalas pelukan wanita yang sudah dianggapnya sebagai putrinya.


"Mampir dulu, Bang," ujar Rama.


Sang pemuda desa itu melangkah masuk ke dalam rumah, tanpa menurunkan barang-barang yang ada di dalam mobil.


Dia terus berjalan masuk ke dalam rumah Uci Desmi dengan wajah yang sangat bahagia.


Senyuman yang terus mengembang di wajahnya membuat Uci Desmi yakin sudah terjadi satu hal yang tidak diketahuinya.


"Assalamu'alaikum, Uci ," sapa Rama.


Rama menyalami tangan wanita paruh baya yang kini berdiri di samping istrinya.


"Wa'alaikummussalam," jawab Uci Desmi.

__ADS_1


"Sepertinya kalian sangat bahagia, apa yang sudah terjadi?" tanya Uci Desmi tidak sabar.


Dia ingin tahu apa yang menjadi penyebab 2 anak yang sangat disayanginya kini datang dengan wajah yang bersemi.


"Uci harus tahu, ada berita yang paling penting," ujar Mbak Yuyun bersemangat ingin memberitahukan kabar bahagia itu.


"Ada apa, Mbak Yuyun?" tanya Uci Desmi semakin penasaran.


"Jadi, kami tidak diperbolehkan masuk terlebih dahulu?" tanya Diska sengaja mengulur waktu.


Dia tahu saat ini Uci Desmi sudah tak sabar ingin mendengar kabar bahagia dari Rama dan Diska.


"Ya udah, ayo masuk," ajak Uci Desmi.


Terlihat sang sopir kini tengah sibuk mengeluarkan barang-barang yang ada di bagasi mobilnya.


Melihat hal itu Rama pun berinisiatif untuk mengangkat barang-barang tersebut masuk ke dalam rumah Uci Desmi terlebih dahulu.


Uci Desmi semakin penasaran saat melihat barang-barang bawaan Rama dan Diska.


Setelah Rama selesai membantu si sopir dia pun ikut bergabung dengan Diska dan yang lainnya duduk di kursi tamu, sedangkan si sopir sudah berpamitan terlebih dahulu.


"Hal apa yang sudah terlewatkan oleh Uci?" tanya Uci Desmi tidak sabar.


Kini Rama sudah ikut duduk di kursi ruang tamu, dia duduk di hadapan Uci Desmi dan Diska.


"Uci, ada kabar gembira." Rama terdiam sejenak menggantung ucapannya.


"Apa kabar gembiranya?" tanya Uci Desmi semakin penasaran.


Diska hanya tersenyum dia ingin drama yang akan menyampaikan kabar gembira tersebut.


"Wanita yang kini duduk di samping Uci sudah sah menjadi istriku, aku sudah menikahinya satu minggu yang lalu," ujar Rama mengungkapkan kabar gembira tersebut.


"Apa?" Uci Desmi menoleh ke arah Diska.


Dia memastikan bahwa ucapan Rama itu benar pada wanita yang sudah dianggap sebagai putrinya.


Diska menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia membenarkan ucapan dari sang suami.


Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Diska dengan erat.


Dia menangis terharu mendengar kabar gembira yang diberikan oleh Rama, akhirnya Allah mengabulkan doa-doa yang dilantunkannya setiap selesai shalat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2