
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
Gala menghela napas pelan. Ada-ada saja. Tapi kalau tidak dituruti nanti Riri pasti tidak mau makan. "Tapi beneran harus lo makan. Awas aja gak dimakan."
"Minumnya es--"
"Teh anget aja," sela Gala cepat. Gala meraih tangan Riri lalu menggenggamnya erat. "Liat, tangan lo dingin banget. Lo gak biasa pagi-pagi gini montoran jauh. Teh anget aja biar badan lo enakan."
"Kalo badan Riri dingin, angetin lah, Gal," celetuk Ilham
ambigu. "Tinggal angetin aja susah."
Mata Riri mengerjap. Ia menatap Ilham penasaran. "Emang Gala bisa buat badan Riri anget?"
"Bisa dong," angguk Ilham. "Jago banget dia, Ri."
Akbar di sebelah Ilham hanya tertawa melihat ekspresi Gala yang seolah ingin menelan Ilham hidup-hidup. Karena cowok itu dengan beraninya berbicara macam-macam di depan Riri.
"Mulut lo mau gue robek, Ham?"
Ilham menggeleng cepat. "Gak, Gal. Gue aja belum ngerasain ci--"
"Cepat pesenin!" potong Gala sebelum Ilham melanjutkan ucapan laknatnya. "Bubur ayam yang kaya Riri pengen satu, teh anget dua. Kalian terserah pesen apa. Ntar gue yang bayarin."
"Jangan dengerin ucapan Ilham," nasihat Gala setelah kepergian Ilham dan Akbar untuk memesan makanan.
"Tapi Riri denger."
"Hem, pokoknya pura-pura gak denger aja apa susahnya sih?!"
"Gala gak pesen makanan? Kok bubur ayamnya cuma pesen satu?"
Gala menyelipkan anak rambut Riri sambil menatap gadis itu lekat. Betapa tidak relanya Gala kehilangan Riri. "Gak, gue gak lapar."
"Nanti Gala lemes kalo nyetir motor."
Terkekeh, Gala mengigit pelan pipi Riri lalu mengeratkan pelukan mereka. Gala tidak selemah itu. Lagi pula ia memang sedang tidak lapar dan malas sarapan. "Gak lah, gue kan kuat. Gak kaya lo yang lemah. Apa-apa gak kuat. Dikit-dikit capek. Mleyot mulu kaya jelly."
"Ish! Riri gak git-
"Kak Gala, aku boleh gabung duduk di sini kan?
Selain Riri yang langsung mengatupkan bibirnya, Gala juga menghentikan tawanya dan mengubah ekspresinya menjadi datar begitu mendengar pertanyaan dari seorang gadis yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Belum sempat Gala menjawab, Riri lebih dulu membuka suara. Menjawab pertanyaan Amora dengan nada ketus. Ralat, sangat ketus. "Itu kursinya Ilham sama Akbar!"
Amora mengangguk paham. "Ya udah, aku ambil kursi yang
__ADS_1
lain, ya. Nanti aku bawa ke sini. Soalnya di sana cuma ada
kursi, mejanya dipake sama yang lain buat digabung jadi
satu."
"Gak ***--"
"Eh, adiknya Dio?" tanya Ilham yang sudah kembali bersama Akbar. Kedatangan Ilham membuat Riri cemberut karena ucapannya terpotong oleh pertanyaan cowok itu.
"Iya, Kak. Aku boleh gabung di sini, kan?"
Ilham menatap Gala dan Riri bergantian. Ilham tahu siapa Amora dan bagaimana sikap gadis itu pada Gala selama ini. Jadi Ilham takut salah menjawab.
"Kak?"
"Bolehin aja, cuma duduk aja, kan?" Akbar menengahi. Bukannya Akbar ingin membela Amora, Akbar hanya ingin mencairkan suasana yang sempat menegang. Lagi pula Akbar yakin, kalau Amora berbuat macam-macam, Gala tidak akan tinggal diam saja. Akbar tahu bagaimana Gala.
"Ya udah deh, sebagai cowok yang baik. Lo duduk di kursi gue. Biar gue ambil kursi yang lain."
Amora yang merasa tidak enak pada Ilham langsung mencegah niat baik cowok itu. "Eh, gak usah, Kak! Aku aja yang ambil."
Dengan cepat, Ilham mengangguk setuju. "Oh gitu? Syukur deh. Lagian gue juga agak mager sih kalau ambil kursi ke sana."
Perlahan Amora memudarkan senyumnya, ia kira tadi Ilham akan tetap memaksanya untuk duduk di kursi itu. Namun
ternyata tidak.
Tak selang berapa lama setelah kepergian Amora, Amora kembali ke meja mereka dengan membawa satu kursi lalu disusul Dio dan pelayan kafe yang membawakan pesanan mereka.
Baru saja tiga suapan masuk ke dalam mulut, sekarang, Riri sudah menyatakan jika dirinya kenyang. Hal itu membuat Gala berdecak malas.
"Abisin, itu request lo sendiri, kan?"
Riri mendorong mangkuk buburnya. "Tapi kenyang."
"Kalo makan itu harus dihabisin, Kak. Gak baik tau. Banyak orang di luaran sana yang gak bisa makan. Jadi kita harus bisa menghargai makanan."
Riri memutar bola matanya. Ia tahu ucapan Amora memang benar. Tapi Riri juga tahu, Amora sengaja mengucapkan itu hanya untuk menarik perhatian semua orang. Terutama Gala.
"Tapi kalo gak lapar terus dipaksa makan juga gak baik. Nanti malah sakit perut. Mual terus muntah," balas Riri.
"Ya kalo tau gak lapar, tadi kenapa Kak Riri pesan makanan?" jawab Amora lagi. Amora menatap Riri santai sambil menyendok nasi goreng miliknya.
"Mor," tegur Dio pelan namun tak dipedulikan oleh Amora.
"Riri gak salah. Tadi gue yang maksa Riri buat pesen makanan, bela Gala tetap memasang wajah datarnya. "Sekarang biar gue yang habisin." Gala memakan bubur ayam sisa Riri dengan begitu lahap. Meski sebenarnya ia tidak lapar sama sekali.
"Katanya Gala gak lapar?"
Gala menghentikan kunyahan nya mendengar pertanyaan Riri. "Sekarang lapar," bohongnya.
Gala mengusap-usap puncak kepala Riri.
"Cepat minum teh angetnya, biar badan lo gak terlalu dingin."
__ADS_1
Melihat interaksi Gala dan Riri tepat di depan matanya, Amora merasa sedikit tidak nyaman. Gadis itu menghela napas lalu melanjutkan memakan nasi gorengnya tanpa minat.
"Uhuk!"
"Ini!" ucap Riri dan Amora bersamaan sambil menyodorkan gelas minum mereka masing-masing ke hadapan Gala.
"Ini aja, Kak. Punya Kak Riri tinggal dikit.
Punyaku belum aku minum sama sekali kok," ujar Amora.
Gala menatap keduanya tanpa ekspresi. Cowok itu tidak
mengambil minuman milik Riri ataupun minuman milik
Amora. Gala lebih memilih mengambil minumannya sendiri.
"Punya gue masih ada," kata Gala seraya mengusap puncak kepala Riri. Membuat senyum Amora kembali memudar. Bahkan Gala sama sekali tidak memedulikan tawarannya.
"Pengen pipis," adu Riri beberapa saat kemudian.
"Gue anterin." Gala hendak berdiri dari tempat duduknya namun terhenti begitu Riri kembali membuka suara.
.
Bersambung
.
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Akbar?
Pesan buat Alan?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Danis?
Pesan buat Amora?
Pesan buat Nenda?
Pesan buat Choline?
Pesan buat siapa aja?
__ADS_1
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.