
"Maaf..." ucap Gala memeluk Riri dari samping. Meletakkan kepalanya di ceruk leher Riri. "Kan gue lagi emosi, Cil. Maaf ya? Jangan marah ke gue. Jangan diemin gue."
Riri mengangguk. "Riri udah maafin Gala.
Tapi lain kali mending Gala ngomong gitu di
belakang Riri aja. Biar Riri gak....sakit hati dengernya."
Gala semakin merasa bersalah mendengar nada
bicara Riri yang begitu pelan. Sepertinya ucapan Gala kemarin memang benar-benar membuat Riri sakit hati.
"Aaaa maafin gue, Ri!" Rengek Gala saat Riri
mencoba melepaskan diri dari pelukan Gala. "Gue sayang banget sama lo! Sumpah demi apapun gue gak ada niat buat bikin lo sedih atau sakit hati! Gue bener bener keceplosan."
Riri tersenyum tipis. "Kalo keceplosan, berarti itu bener-bener dari hati Gala." Riri menatap Gala yang
kini sedang menatapnya dengan puppy eyes. "Gala capek ya Riri repotin terus?"
Gala menggeleng cepat. Cowok itu melepaskan pelukannya dengan wajah sedih dan merasa bersalah. Bahkan matanya sedikit berkaca-kaca karena takut Riri tidak mempercayai penjelasannya. "Enggak! Gue seneng lo repotin! Please, Ri, jangan bahas lagi. Gue minta maaf, banyak banyak banyak sama lo!"
"Maafin, gue..." Gala kembali memeluk Riri. Kali ini cowok itu tidak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba mendesak ingin keluar. "Maaf, Ri. Maaf...."
"Jangan marahin gue! Jangan tinggalin gue!"
Riri menahan senyumnya. Gala memang sangat menggemaskan kalau sudah bersikap manja seperti anak kecil begini. Merengek tanpa henti hanya untuk mendapatkan maaf dari Riri.
"Riiii.....!!!!" Rengek Gala lagi karena Riri tidak memberi respon apapun di kepalanya. selain usapan lembut.
"Iyaa, kan Riri udah bilang dari tadi kalo Riri udah maafin Gala," jawab Riri pada akhirnya.
"Tapi lo diem doang. Lo ngungkit-ngungkit terus.
Kan gue jadi sedih!" Protes Gala sembari mengusap lelehan air mata di pipinya dengan gerakan kasar.
Riri tertawa kecil. Gadis itu menatap Gala sambil tersenyum lebar. Tangan mungilnya bergerak untuk mengusap air mata di pipi Gala yang masih tersisa.
"Iya, iya, Riri gak ngungkit masalah itu lagi. Gala jangan nangis."
"Gara-gara lo!" Semprot Gala galak. Cowok itu mengangkat bahunya untuk mengelap pipinya sampai bersih dari sisa air mata. Bisa panjang urusannya kalau sampai kepergok orang lain, kalau dirinya baru saja menangis hanya demi mendapatkan maaf dari Riri.
"Ayo berangkat!" Ajak Riri semangat. Semangat karena kini, ia dan Gala sudah baikan lagi. Dan Riri merasa lega, karena Gala sudah meminta maaf dengan tulus.
Riri mengernyitkan dahi heran saat Gala tak kunjung menyahuti ajakannya. "Ih ayo!" Ulang Riri menarik tangan Gala sedikit memaksa.
Gala menggeleng lucu. Membuat Riri bingung.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Peluk duluuuu...." Pinta Gala dengan suara yang dibuat-buat agar Riri mau melakukannya. Tidak lupa kedua tangannya juga sudah ia rentangkan.
Riri menghela napas. Tanpa pikir panjang gadis itu mendekatkan dirinya untuk memeluk Gala. Dari pada menolak dan ujungnya mereka akan kembali bertengkar, lebih baik Riri turuti saja permintaan Gala kali ini.
"Pilik diliiii...."
Suara itu berhasil membuat Gala dan Riri menoleh secara bersamaan. Alhasil Riri tidak jadi memeluk Gala.
Gala berdecak kasar saat tahu siapa yang menggagalkan aksi modusnya. Siapa lagi kalau bukan calon kakak iparnya yang menyebalkan itu, Dewa.
"Pilik diliii...halah modus lo!" Sindir Dewa.. "Buaya kampret!"
"Hem! Lo ngapain sih! Ganggu aja!" Balas Gala tidak kalah sengit.
Dewa melotot tidak terima. "Ya lo ngapain pake minta peluk-peluk adek gue?! Modus banget! Suaranya pake dimanja-manjain, dih najis!"
Gala merangkul Riri yang hanya diam di sampingnya. "Serah gue lah, Riri cewek gue! Tunangan gue! Iri bilang jomblo!"
Dewa mendengus. "Berisik setan!"
"Udah ih! Bang Dewa! Gala! Jangan berantem mulu!" Lerai Riri. "Riri pusing tau gak?!"
Gala memutuskan tatapan tajamnya dari Dewa.
Beralih menatap Riri lembut. "Kita berangkat aja sayang, Abang lo ini emang syirik! Soalnya gak laku-laku!" Ajak Gala menarik tangan Riri. Untungnya Riri menurut karena gadis itu tidak mau melihat pertengkaran Gala dan Dewa semakin membesar. Jadi, lebih ia dan Gala harus pergi secepat mungkin.
"Gala ih! Jangan marahin Kolor Ijo!"
"Dia ngeselin, kemarin muka gue dicakar! Nih bekasnya!"
"Riri udah tau! Kemarin Riri ngintip dari jendela kamar waktu Gala berantem sama Kolor Ijo."
"Lo gak kasian apa sama bekas cakaran di pipi gue? Sakit tau Sri."
Riri mendengus. Tangannya naik untuk mengusap
bekas cakaran Kolor Ijo di pipi Gala. "Riri usap-usap."
"Hem! Usap-usap doang?" Protes Gala membuat Riri tidak mengerti apa kemauan Gala yang sebenarnya.
"Terus mau Riri apain?"
"Ciuummm..."
"Woi gue denger!" Teriak Dewa dari belakang.
__ADS_1
"Adek gue jangan lo modusin mulu!"
Gala menoleh ke belakang sambil menjulurkan
lidahnya untuk mengejek Dewa. "Tercium tidak laku!" Teriak Gala.
Dewa menurunkan kepalan tangannya saat Danis
keluar dan mencoba menenangkan Dewa. Dewa dan Gala itu memang seperti kucing dan tikus, tidak pernah bisa akur. Bahkan masalah-masalah sepele saja, bisa menjadi besar jika dihadapkan pada mereka berdua.
"Udah, Wa, yang gila ngalah."
"Hem, untung gue-" Dewa menatap Danis yang sudah berjalan ke arah motornya dengan mata melotot. "Maksud lo gue gila, hah?!" Tanya Dewa tidak terima.
Danis mengendikan bahu cuek. "Gak gila, cuma agak setres."
"Gal! Gal!" Teriak Ilham histeris.
Gala yang baru saja kembali ke kelas setelah
mengajak Riri ke kantin, menoleh malas. "Paan?"
"Itu, Gal! Em-"
"Apa? Am-em-am-em, mau beranak lo?!"
"Hem! Itu di WBS ada Virgo!"
Gala mengerutkan dahi. "Virgo? Virgo siapa?"
Bingung Gala.
"Virgo! Abangnya Leo!"
Gala semakin tidak paham. "Virgo! Leo! Apaan sih?!
Lo mau ngeramal zodiak?!"
Ilham mengusap wajahnya kasar mendengar jawaban Gala yang tidak serius. "Lo inget kita pernah gebukin cowok yang udah lecehin adek pantinya Dio, Amora?"
Gala terdiam sejenak kemudian mengangguk.
"Iya, gue inget."
"Itu namanya Leo. Dan sekarang Abangnya Leo, si Virgo dateng ke WBS buat nyerang kita!"
Gala menatap Ilham kaget. "Lah? Gak waras tuh Abangnya? Adeknya salah, udah paling bener dipenjara, kok malah ngamok."
__ADS_1
"Gue juga gak tau. Mending sekarang lo ikut gue ke WBS."
Gala dan Ilham berjalan cepat menuju ke gerbang belakang, di sana, mereka bisa memanjat pagar untuk sampai di WBS-warung belakang sekolah.