
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepet memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
Selamat membaca!
....
"AAAAA GAK GITU SAYANG! POKONYA GAK GITU! HIKS!"
Ilham tertawa terbahak-bahak setelah menirukan kalimat yang tidak sengaja ia dengar dari mulut Gala beberapa hari yang lalu saat Gala dan Riri ada di apartemen miliknya.
"Hahahahahaha! Sumpah gue capek ketawa, Ham!" tawa Akbar menggema di segala penjuru markas. "Masa si Bos kaya gitu? Ahahahaha!"
Sementara di sisi lain, Gala yang duduk di pojokan masih diam. Diam-diam cowok itu melepas satu sepatunya lalu melemparnya ke arah Ilham.
"Eits! Gak kena!" ucap Ilham girang saat berhasil menangkap
sepatu milik Gala.
"Lo gak bisa diem, gue sumpal mulut lo pakai kaos kaki!" ancam Gala.
"Ampun! Ampun! Gal!" kekeh Ilham menyatukan kedua tangannya di depan dada. "Lagian gue juga gak sengaja kan dengar lo ngerengek gitu. Niat gue waktu itu cuma mau ngecek, lo jadi make apartemen gue apa kagak. Taunya jadi, eh gak sengaja denger lo lagi ngerengek-ngerengek manjah! Hahahahaha!"
"Bukannya lo udah nanya lewat telfon? Terus ngapain pakai ngecek ke sana langsung?" tanya Gala emosi. "Nyesel gue minjam apart lo bangsat."
"Hehehe sorry Bos! Gue bener-bener cuma bentar kok.
Abis itu langsung pulang lagi karena takut ganggu."
Akbar bertanya sok serius. "Jangan-jangan apart yang dipake Gala kemarin, lo pasang CCTV juga, Ham?"
"Anying! Kenapa gue baru kepikiran ya? Coba kalo ada CCTV-nya, pasti kita bisa lihat gimana ekspresi si Bos pas bilang, AAAAA GAK GITU SAYANG! POKONYA GAK GITU! HIKS!"
"Bangsat! Gak ada harga dirinya gue gara-gara kalimat sialan itu!"
Ilham beralih menatap Alan. "Eh, Alan diem aja. Apa Alan yang sejak tadi sibuk bermain rubik mengangkat kepala. "Kalo iya, kenapa? Masalah?"
.....
"Kenapa Ri? Lo gak nyaman sama baju lo?" tanya Nenda menatap Riri yang terlihat gelisah.
Riri menggeleng cepat. Bukannya ia tidak nyaman dengan baju yang ia kenakan sekarang, Riri hanya merasa tidak terbiasa dengan suasana ramai seperti di dalam gedung ini.
Meskipun rata-rata orang yang mengisi gedung saat ini adalah teman satu angkatannya sendiri, karena ini adalah acara prom night yang diadakan oleh SMA Cakrawala, namun tetap saja Riri merasa aneh.
Hidup bertahun-tahun dalam lingkaran pengawasan Gala, membuatnya tidak bebas mengeksplor dunia luar. Alhasil Riri tumbuh menjadi gadis polos yang kurang mengetahui apa saja yang sedang gadis seumurannya nikmati di luaran sana.
"Gala mana, Ri? Dia udah berangkat, kan?" tanya Choline
__ADS_1
celingukan.
"Udah," angguk Riri. "Tadi waktu kita berangkat, Gala bilang ada di jalan kok."
"Eh, itu Ilham sama Akbar. Kayanya Gala di sana juga," tunjuk Nenda ke meja paling depan dan pojok. Terlihat adal Ilham dan Akbar yang sedang tertawa bersama di sana.
Choline tersenyum menggoda. "Hem, giliran Ilham aja,
lo langsung bisa lihat, Nen."
Nenda berusaha menetralkan ekspresi wajahnya yang mulai panik. "Gak gitu! Tapi Ilham sama Akbar emang keliatan jelas dari tadi!" bantahnya.
"Em, iya deh," kekeh Choline mengalah. Ia tidak mau Nenda semakin salah tingkah karena ia goda terus-terusan. "Ya udah, yuk kalo mau ke sana," ajak Choline.
"Lo mau kemana, Ri?" Choline menatap Riri heran saat melihat gadis itu hendak berjalan ke lawan arah. Tangan Riri menunjuk ke arah pintu masuk gedung. "Itu ada Gala, Riri mau samperin Gala aja. Kayanya Gala baru dateng."
Nenda dan Choline mengikuti arah yang Riri tunjuk. Benar, di sana memang ada Gala yang sedang berbincang bersama teman satu kelasnya. Cowok itu terlihat begitu tampan dan gagah mengenakan tuxedo berwarna hitam yang senada dengan celana bahannya.
"Kita temenin, ya?" tawar Nenda.
Nenda khawatir jika Riri pergi ke sana sendiri. Sekalipun jaraknya begitu dekat. Pasalnya, tadi Gala sudah berbaik hati mau mempercayakan Riri untuk berangkat bersamanya dan Choline. Jadi Nenda ingin menjaga kepercayaan yang Gala berikan. Agar lain waktu jika mereka ingin mengajak Riri jalan-jalan atau pergi entah kemana, mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti sebelum-sebelumnya karena tidak diberi izin oleh cowok itu.
Riri menolak tawaran Nenda. "Gak usah. Riri bisa sendiri, kok. Nanti Riri nyusul ke sana sama Gala. Kalian ke sana duluan."
Choline berdecak. "Udah deh, lo gak usah bawel. Kita gak mau ambil resiko. Kalo lo ilang kepala kita yang ditebas habis sama Gala."
"Ish! Kan Riri cuma ke situ! Deket kok." Riri tersenyum lebar, berusaha menyakinkan kedua sahabatnya kalau dirinya akan baik-baik saja. "Riri beneran berani sendiri."
"Bye!"
"Buset, main lari aja tuh bocah. Untung gak pakai heels," geleng Choline melihat Riri langsung berlari ke arah Gala.
"Kalo pakai heels bakal nyungsep kaya lo dulu, Lin," tambah Nenda. Nenda menahan tawanya mengingat kenangan buruk Choline beberapa bulan yang lalu saat gadis itu sok-sokan pergi ke mall memakai heels yang ujung-ujungnya nyungsep di eskalator.
"Ck, jangan dibahas!" sewot Choline. "Yuk, kita nunggu di sana," ajaknya.
Berbeda dengan Nenda dan Choline yang sudah beranjak
dari tempat mereka, Riri, gadis itu justru bingung karena Gala tiba-tiba tidak ada di tempat tadi.
"Ih! Kok gak ada!" kepala Riri menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun nihil, Gala tetap tidak ia temukan.
"Eh, dia ceweknya ketua Drax itu, kan?"
"Masa sih? Tapi yang ini cantik banget. Kalo ceweknya Gala gak secantik ini deh perasaan."
"Cantik juga ceweknya Gala, cuma kalo sekolah emang dandannya kek anak TK, haha."
__ADS_1
Mendengar bisikan-bisikan tersebut, dengan cepat Riri menoleh ke belakang. Tepat sekali, di belakangnya terdapat segerombolan cowok-cowok yang tidak ia kenal. Lagipula, sejak kapan Riri mengenal cowok lain selain cowok yang ada di kelasnya dan teman-teman Gala. Sekalipun itu teman satu angkatannya sendiri, Riri tidak akan mengenal mereka.
"Nyari Gala, ya?" tanya salah satu dari mereka. "Cik, cantik beneran," decaknya kagum.
Cowok itu terus menatap Riri dari bawah sampai atas dengan tatapan tidak biasa. Tepat di bagian pundak dan dada atas Riri yang terbuka, cowok itu menggigit bibirnya. Membuat teman-temanya yang lain bersorak.
"Hem, anjing, bayangin apa lo? Jangan macem-macem. Ingat, dia ceweknya Gala. Bisa abis lo."
"Sayang sih kalo gak dinikmati," jawabnya terkekeh. "Mau
gue bantu nyari Gala, gak?" tawarnya sambil memainkan
lidah di dalam mulut.
Sok ganteng. Pikir Riri.
Riri menggeleng cepat. "Gak usah! Kamu jelek! Riri alergi sama orang jelek! Nanti bisa gatel-gatel!"
"Lagian Riri bisa nyari Gala sendiri kok!" tambah Riri cepat.
"Bajingan gue dikatain jelek!" umpatnya yang justru mendapat sahutan gelak tawa dari teman-temannya.
"Hahahahahaha!"
....
Bersambung
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Alan?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Akbar?
Pesan buat Nenda?
Pesan buat Choline?
__ADS_1
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.