CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Riri Sudah Kenyang


__ADS_3

"Riri tidak bisa berenang. Kapan dia akan menyelamatkanmu? Jika Riri ada di sana, dia akan tenggelam juga. Selama kamu bisa berenang, kamu harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri."


Gala mengacak rambutnya frustasi. Melelahkan memang kalau bicara dengan Riri. "Aarrghhh! Kan ini cuma perumpamaan, Sri! Astaga!"


"Gemes banget gue! Pengen geprek pala lo sampek gepeng!" Greget Gala.


"Gala jangan marah-marah!" Riri melanjutkan makannya. "Gala, Riri pengen piara bekicot, boleh gak?" Tanya Riri random.


"Becikot?" Tanya Gala tidak habis pikir. Gala heran, kenapa Riri ini hobi sekali membuatnya berpikir dua kali lipat.


Kepala Riri mengangguk. Lalu menyedot susu kotak yang Gala ulurkan. "Iya, biar kaya Spongebob. Kan Spongebob piara bekicot."


Gala menahan emosinya. "Sabar, Gal, Sabar. Ini cewek lo. Jangan dibanting," ucapnya dalam hati.


"Iya sekalian ntar lo tinggal di rumah nanas," cetus Gala kesal


Mata Riri membulat. "Emangnya Gala izinin?!" Tanya Riri begitu semangat.


Gala mengusap wajahnya kasar. "Udah, udah, capek banget gue ngeladenin lo. Cepet habisin. Keburu tuyul lo dateng."


"Gala kalo capek istirahat aja."


"Bodo amat." Mata Gala tertuju pada hidung Riri yang mengeluarkan ingus. "Belepotan banget sih! Mana ingus meler-meler lagi!"


"Ada tisu?" tanya Gala.


Riri menggeleng. "Enggak ada."


Gala menatap Riri heran sekaligus greget. "Terus lo kalo ngusap ingus pake apa, Sri?!" "Biasanya ingusnya Riri jilatin hehe..." Jawabnya nyengir.


"Anjir! Jorok banget lo!"


Gala berdiri dan membuka kancing bajunya. Kemudian cowok itu mengangkat kaos dalamnya yang berwarna hitam polos untuk mengusap bibir dan ingus Riri yang belepotan.


"Nah gini kan enak diliat."


"Gala, Riri gak abis." Riri menyerahkan sisa rotinya ke Gala.


"Abisin, Riri. Roti segitu aja gak abis.


Lo manusia apa kucing sih?!"


"Riri sudah kenyang!"


Gala menundukkan dirinya ke hadapan Riri. "Suapin. Akkk..."


Riri memasukkan sisa rotinya ke mulut Gala.


"Enak kan?" Tanya Riri tersenyum.


Gala belum mengubah posisinya. Cowok itu masih membungkukkan badannya di hadapan Riri sambil mengunyah roti yang Riri suapkan. "Iya enak, soalnya bekas lo," jawab Gala. Mata Gala menatap lekat ke wajah cantik Riri yang menurut Gala selalu terlihat imut dan menggemaskan.


"Gala?"


"Gue boleh minta ini?" Gala menyentuh bibir

__ADS_1


Riri menggunakan jarinya.


Riri membeku di tempatnya. Pasalnya jarak antara wajahnya dengan wajah Gala sekarang terbilang sangat dekat. Membuat jantung Riri berdegup tidak karuan.


"Bisakah saya?" Ulangi Gala.


Entah mendapat keberanian dari mana, tanpa menjawab apapun Riri langsung memejamkan matanya begitu saja. Membuat Gala tersenyum semangat. Seolah dirinya sudah mendapat lampu hijau dari Riri. Gala memiringkan kepalanya lalu.....


"GALA SETAN! LO KUNCIIN ADEK GUE DI DALEM KAN?! KELUAR LO!!"


"Bajin***!"


"Ada lima orang bertubuh besar, cuma pake satu payung,


tapi kenapa mereka gak kehujanan?"


"Karena udah pake jas hujan?" Tebak Akbar


"Salah."


"Karena mereka lagi di dalem rumah?" Tebaknya lagi.


"Salah, Bar!"


"Hem, terus apaan? Bikin emosi aja lo, Ham."


"Jawabannya, ya karena gak hujan hehe," cengir Ilham.


"Ba**."


Membuat orang lain kesal memang selalu menjadi kesenangan tersendiri bagi Ilham. Apalagi kalau Akbar yang jadi korbannya. Rasa puas yang Ilham dapatkan bisa berkali-kali lipat.


"Gala sama Riri belom dateng?" Tanya Alan membawa beberapa makanan dan alat untuk persiapan barbeque malam ini. Benar, malam ini mereka memang ingin membuat perayaan. kecil-kecilan karena sudah selesai melaksanakan ujian nasional dan mereka sepakat mengadakannya di halaman rumah Alan.


"Belom, padahal apart Gala ke rumah Alan kan deket ya," gumam Ilham keheranan.


"Kan jemput Riri dulu, Lot," sahut Akbar.


"Oh iye, jemput bocilnya dulu," angguk Ilham. "Nih bebeb gue sama Choline juga lagi di jalan katanya."


"Bebab bebeb, Nenda tuh gak mau sama lo. Sadar diri


dong."


"Sekarang emang gak mau, Bar. Tapi liat aja beberapa bulan ke depan," ucap Ilham dengan nada sombong.


Akbar menatap Ilham. "Bakal mau?"


"Gak mau juga sih kayanya," cengir Ilham.


"Chat lo aja jarang dibales, Ham, Ham."


"Yee, itu artinya gue udah berhasil buat Nenda jatuh cinta sama gue sampe dia gak bisa berkata-kata. Makanya chat gue jarang dibales."


Akbar tertawa. "Goblok! Teori dari mana anjir hahahahahahaha!!!"

__ADS_1


"Daripada lo berdua nganggur, mending bantuin gue. Masih banyak yang harus diambil dari dapur," ajak Alan.


"Ya elah, Lan. Tamu adalah raja. Jadi lo gak boleh nyuruh-nyuruh kita," protes Ilham.


Alan berdecak kasar. "Tamu emang raja. Tapi khusus


lo, tamunya adalah babu!"


"Buset," geleng Ilham. "Tega amat lo."


"Anjir, baterai gue abis, minjem power bank dong, Lan." Akbar mengacak rambutnya frustasi saat game yang ia mainkan kalah karena kehabisan baterai.


"Ambil. Ada di kamar."


"Gue ambilin aja ya." Dengan semangat empat lima.


Ilham berdiri. "Lo bantuin Alan, Bar. Biar gue yang


ambil power bank di kamar Alan."


"Pinter banget lo, mau enaknya doang. Bilang aja lo gak mau angkat-angkat barang yang berat!"


"Ya elah, Bar. Sekalian ini gue mau minjem sarungnya Alan."


Alan menatap Ilham bingung. "Sarung?"


"Iye, Lan. Gue kalo mau bakar-bakaran gini tuh enak


pake sarung. Biar vibes nya asyik kek bapack-bapack komplek gitu. Gue pinjem sarung lo ya?" Alan menggeleng heran. Kelakuan temannya yang


satu ini memang selalu aneh. "Di lemari banyak."


"Oke, gue ambil."


"Jangan nyolong, Ham!" Teriak Akbar saat Ilham sudah berjalan menuju kamar Alan yang ada di lantai dua. "Tapi kalo hasil nyolong nya bagi dua sama gue gak papa, Ham!"


"Kampret!" Balas Ilham.


"Ini mana sarungnya?" Ilham menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat membuka lemari baju milik Alan namun tidak kunjung melihat keberadaan sarung yang bisa ia pinjam.


"Lagian ini lemari isinya item-item semua."


"Buset, ini kolor selusin item semua?"


"Eh ini baju siapa anjir. Ya kali Alan make daster gini," heran Ilham saat menemukan daster yang biasa dipakai ibu-ibu di dalam lemari Alan.


Ilham terkekeh sambil menggeleng kagum. "Alan emang luar biasa. Siang jadi tembok. Malem jadi Mungkin."


"Nah ini yang gue cari bray!" Girang Ilham saat menemukan tumpukan sarung.


Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, tak lupa membawa power bank untuk Akbar, Ilham kembali turun ke lantai satu.


"Lan, Lan, lo kalo malem tidur make daster?" Tanya Ilham dengan wajah bodohnya.


Dahi Alan mengernyit bingung. Datang-datang temannya yang mirip jenglot itu tiba-tiba memberinya pertanyaan yang tidak masuk akal dan tidak penting. "Maksud lo?"

__ADS_1


"Tadi gue nemuin daster di lemari lo. Daster ibuk-ibuk gitu. Kaya punya nyokap gue. Itu daster lo kalo malem?"


__ADS_2