
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepet memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca*!
.
....
Alhasil ia tidak masuk ke dalam lift yang sama dengan Riri. Setelah berhasil menyusul Riri, satu sudut bibir cowok itu terangkat ke atas melihat Riri hanya diam di depan pintu unit apartemennya karena tidak bisa masuk.
"Kenapa gak masuk?"
"Gak bisa, password-nya salah," jawab Riri tanpa mau menoleh ke Gala.
Gala berdecak pelan. "Bego banget, padahal password-nya
tanggal lahir lo terus tinggal balik dari tahun ke tanggal."
"Mana Riri tau kalo diganti."
"Mini Riri tii kili diginti."
"Nyenyenye," balas Riri. Gadis itu langsung masuk ketika pintu berhasil Gala buka.
"Heh! Diajarin siapa lo?!"
Riri mendudukkan dirinya di sofa. "Kepo deh!"
"Mata lo, Ri! Gue congkel tau rasa!" kesal Gala melihat mata
Riri berputar seolah sedang meledek dirinya.
Berbeda dengan Riri yang duduk di sofa panjang, Gala memilih duduk di single sofa. Cowok itu mengangkat kakinya ke atas seraya terus mengarahkan tatapan mata elangnya ke Riri. Memerhatikan setiap gerak-gerik yang gadis itu lakukan.
"Masih mau ikut prom night?"
Riri mencebik. "Kalo Riri bilang mau juga Gala tetep gak bakal bolehin."
"Kata siapa?" satu alis Gala terangkat. "Gue bolehin, tapi kalo ada cowok yang goda lo kaya tadi, gue gak bakal nolongin."
Gala berdiri dari duduknya. Menghampiri Riri lalu memegang pergelangan tangan gadis itu. "Gue anter. Abis itu gue tinggal pulang."
Riri masih diam di tempatnya. Gadis itu mencoba berpikir, jika Gala tidak ada di sana, lantas siapa yang menjaga dirinya kalau ada hal buruk terjadi?
"Ayo."
Riri menggeleng. Ia tidak mau mengambil resiko. Apalagi mengingat tatapan nakal cowok yang menggodanya tadi membuat dirinya merasa sangat jijik dan Riri tidak mau membuat hal itu terulang.
"Kenapa?"
"Kenapa? Takut?" ulang Gala.
Gala berjongkok di hadapan Riri. Tangannya bergerak untuk menarik ujung baju Riri yang sedikit tersingkap. Membenarkan agar paha Riri kembali tertutup dengan benar.
Gala berdiri dan kembali duduk di tempat semula. "Gue udah tawarin, tapi lo gak mau. Ya udah."
"Sini!" panggil Gala setelah mereka saling diam untuk beberapa saat.
Entah kenapa, Riri langsung menurut. Riri menghampiri Gala. Berdiri di hadapan Gala dengan ekspresi cemberut.
__ADS_1
Gala menepuk tempat di ujung sofanya yang masih tersisa sedikit. "Duduk."
"Gue tanya sekali lagi, masih mau ikut prom night, hem?"
Riri menggeleng, ia berusaha membenarkan duduknya yang kurang nyaman karena sempit. Satu sofa diduduki oleh dua orang, bagaimana tidak sempit?
Gala tersenyum. Cowok itu merapikan rambut Riri yang tergerai. Merangkumnya menjadi satu lalu membawanya ke sisi kiri. Hingga sisi kanannya kosong. Hanya memperlihatkan leher putih mulus milik Riri.
Cup
Gala memberi kecupan ringan di leher kanan Riri.
"Siapa yang nyuruh lo pake baju ini, hem?" tanya Gala sembari meletakkan dagunya di atas pundak polos Riri.
"Gak ada," geleng Riri. "Riri sendiri yang pengen pake."
Alis Gala terangkat sebelah. Tangannya yang tadi ada di bahu Riri, kini melingkar ke depan. Memeluk tubuh mungil Riri dari belakang.
"Kenapa gak pake baju yang gue pilihin kemarin, hem?"
Riri terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Bajunya
terlalu panjang, kata Bang Dewa Riri kaya mau kosidahan."
Gala mengangkat kepalanya dari pundak Riri. Kemudian mengumpat pelan. "Dewa bangsat!"
"Lo tau kan kenapa gue larang lo ikut prom night?"
"Karena baju Riri terbuka?"
"Hm," angguk Gala membenarkan. "Kalo lo nurut, mau make baju yang gue pilihin kemarin, kita pasti masih ada di gedung sekarang."
"Berhubung lo bandel, gak mau nurut apa kata gue, ini
"Iya."
Gala mengedikan bahu lalu kembali meletakkan dagunya di atas pundak Riri. "Gue juga udah nawarin lo buat balik ke sana, tapi lo gak mau. Ya udah."
"Riri sempit! Gala duduknya jangan maju-maju terus dong!" marah Riri memukul paha Gala. Kesal karena cowok itu membuatnya hampir jatuh dari sofa.
"Gak bakal jatuh sayang, udah gue peluk nih."
Gala mengeratkan pelukannya dan mulai memejamkan matanya. Dari kemarin malam, sebenarnya Gala belum tidur. Ia sibuk mengerjakan tugas kantor yang diberikan oleh Agam.
"Sempit ih! Riri mau pindah."
"Enak sempit-sempitan gini."
"Ish! Tapi Riri gak bisa ger--"
"Ri! Lo jangan gerak mulu ntar--aaarrrghhhh diem deh lo! Gue pengen peluk lo bentar!"
Gala tidak mau diganggu. Gala ingin memeluk Riri dalam keadaan tenang. Gala merindukan masa-masa di mana ia sering menghabiskan waktunya bersama Riri. Karena sejak pertengkarannya dengan Dewa dan perdebatannya dengan Agam malam itu, Gala merasa susah sekali jika ingin menghabiskan waktu berdua bersama Riri. Selain karena sekarang ia sudah sibuk belajar tentang perusahaan, ia juga malas untuk berdebat dengan Dewa. Alhasil dalam seminggu ini, ia hanya dua kali bertemu Riri. Pertama, kemarin waktu ia memilihkan baju untuk Riri dan yang kedua, sekarang.
Riri tidak mendengarkan perkataan Gala. Gadis itu tetap tidak bisa diam. Apalagi saat Gala menggesekkan hidungnya di pundak polos Riri yang membuat Riri merasa geli setengah mati.
"Gala geli tau!" protes Riri sebal.
Gala membuka matanya dengan ekspresi kesal. Ia juga melepaskan pelukannya. "Ck, ya udah, ya udah. Sana ambilin kolor Spongebob gue di kamar."
"Kolor Spongebob?"
__ADS_1
"Budek?"
"Gala mau ganti pake kolor Spongebob? Gala mau ngapain?"
Riri menatap penampilan Gala dari atas sampai bawah. Gala sudah terlihat keren dengan pakaiannya sekarang. Lantas kenapa cowok itu malah mau mengganti penampilannya dengan kolor Spongebob? Padahal Riri masih ingin berlama-lama melihat penampilan Gala yang sekarang. Hanya saja, Riri gengsi untuk mengatakannya.
"Mau unboxing lo!" jawab Gala asal. "Cepet ambilin, Ri! Ck!"
Riri hampir saja terjungkal ke depan saat Gala mendorong tubuhnya. Untungnya tumpuan kaki Riri kuat. Jadi hal tersebut tidak terjadi.
"Iya! Iya!"
"Sekalian kaos item gue!" teriak Gala pada Riri yang sudah berjalan ke arah kamar cowok itu.
"Gerah banget, padahal ada AC," gumam Gala melepas kancing tuxedo-nya.
"Nih!" Riri memberikan apa yang Gala minta. "Gala mau
mandi?"
"Iya."
"Tapi ini udah malem. Riri aja kedinginan. Kok Gala malah mandi sih?" tanya Riri heran.
"Gue gerah liat lo!" jawabnya lalu pergi ke kamar mandi. Meninggalkan Riri yang masih bingung karena tidak paham maksud Gala.
"Kok bisa? Emang Riri ngapain Gala?"
"Loh balik lagi?"
Riri sedikit terkejut melihat Gala kembali lagi. Namun kali ini cowok itu kembali dengan penampilan yang berbeda. Bagian tubuh atasnya shirtless. Sementara bagian tubuh bawahnya hanya terbalut handuk sebatas lutut.
....
Bersambung
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri (Serina Kalia)?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Vina(mama Riri)?
Pesan buat
Pesan buat
Pesan buat
Pesan buat
Pesan buat
__ADS_1
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.