CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
67.Suasana Yang Mengharukan


__ADS_3

.....


Eza memegang kedua tangan Riri. "Percaya sama Papa,


ini semua memang salah Papa, tapi gak ada sedikitpun niat buruk di dalam diri Papa buat ninggalin kalian." Tatapan Eza menerawang jauh ke depan. Mengingat masa-masa pahitnya di masa lalu memang terasa begitu menyesakkan.


"Bunda Desi yang memilih pergi dari Papa, karena dia tahu kalau selama ini Papa bohongin dia. Papa bilang belum nikah, padahal Papa udah nikah dan punya anak dengan Mama Vina."


Eza menatap Riri lekat. "Semenjak saat itu,


Papa gak bisa nemuin keberadaan kalian. Papa selalu berusaha nyari-nyari kamu dan Bunda kamu. Tapi hasilnya nihil. Bunda kamu terlalu pintar untuk bersembunyi. Sampai akhirnya kamu dipertemukan dengan Danis dan Dewa. Pertemuan tidak sengaja, yang membuat Papa kembali bertemu dengan. kamu."


Eza tersenyum pahit. "Ya, meskipun Papa terlambat,


karena waktu itu Bunda kamu udah meninggal dan Papa belum sempat menyampaikan maaf."


Riri tersenyum tipis. Entah lah, Riri sendiri tidak bisa mendeskripsikan suasana hatinya sekarang. Riri sedih namun juga merasa lega.


"Andai Riri ketemu Papa lebih awal. Riri pasti bisa ngerasain punya Papa dari dulu. Riri capek dari SD sampai SMA selalu dibilang anak haram yang gak punya Papa."


Eza menatap Riri dengan mata berkaca-kaca.


Begitu juga dengan Vina yang terlihat berusaha menahan.


air mata.


"Maafin Papa. Maafin Papa karena terlambat nemuin kamu, sayang." "Maafin Papa karena baru bisa nemuin kamu setelah kamu kelas tiga SMA. Papa sadar, Papa sangat terlambat. Maka dari itu, sekarang izinin Papa buat nebus semua kesalahan Papa di masa lalu. Jangan benci Papa dan biarin Papa berusaha buat kamu bahagia, sekarang, besok dan hari-hari selanjutnya."


Eza dan Vina serempak memeluk Riri. "Papa janji, mulai sekarang kamu gak akan pernah merasakan kekurangan kasih sayang. Meski Bunda Desi udah meninggal dan gak bakal bisa terganti oleh siapapun. Tapi kamu juga masih punya Mama Vina. Mama Vina sayang banget sama kamu," kata Eza mengeratkan pelukan mereka.


"Mama sayang sama Riri. Tolong maafin Mama


dan jangan benci Mama, ya?" Tambah Vina dengan


lelehan air mata yang tak mampu ia bendung.


Mereka bertiga masih asyik berpelukan, sampai akhirnya teriakan Dewa dari luar membuat ketiganya kaget.


"RIRI! CEPET TURUN! DI BAWAH ADA COWOK LO


YANG KELAKUANNYA KAYA SETAN!"


******


"Hai Kolor Ijo, lagi ngapain?"


Riri mengusap-usap kepala dan berjongkok di


hadapan kucing yang asyik tiduran di atas karpet itu.


"Meooongg," jawabnya pelan.


Terdiam sejenak, Riri tampak sibuk mengamati penampilan Kolor Ijo. Menurutnya, saat ini Kolor Ijo terlihat lebih jelek. Kucing itu tampak begitu kucel dengan bulu-bulunya yang berantakan.


"Ih rambutnya jelek. Bentar ya, Riri ambilkan sisir dulu."

__ADS_1


Riri beranjak mengambil apa yang ia butuhkan di kamar. Setelahnya, gadis itu langsung kembali menghampiri kolor ijo dengan sisir dan jepitan berbentuk rambut palsu yang sudah ada di tangannya.


"Liat deh, Riri bawa sisir. Riri sisirin ya,


biar Kolor Ijo jadi cakep kaya Joko."


Kolor Ijo tidak memberi respon apapun.


Kucing itu hanya diam sambil menatap Riri tanpa ekspresi.


"Ih Kolor Ijo mukanya jangan jutek-jutek dong! Riri jadi inget Gala. Gala mukanya ngeselin banget kalo lagi ngomelin Riri."


Riri cekikikan sendiri menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. "Eh, tapi Gala kan ganteng, keren, gak kaya Kolor Ijo, jelek, burik, kucel."


"MEOOONGGG!!!" Teriak Kolor Ijo tiba-tiba seolah


tidak terima dengan perkataan Riri barusan.


Riri mendengus sebal. Gadis itu langsung memahami


apa penyebab kemarahan Kolor Ijo. "Iya-iya, Kolor Ijo cakep. Gala yang jelek, burik, kucel."


Kedua mata Kolor Ijo mengerjap beberapa kali.


Kemudian kucing itu mengusap-usap kepalanya ke tangan Riri. "Meooongg," ucapnya lembut.


"Sekarang Riri sisirin ya rambutnya.


Biar Kolor Ijo ganteng ngalahin Gala."


Kolor Ijo di sekitaran kepala. Setelah dirasa cukup


rapi, Riri mulai memasangkan jepitan berbentuk


rambut palsu itu tepat di atas kepala Kolor Ijo.


Sementara Kolor Ijo, entahlah kenapa pagi ini, kucing itu terlihat begitu menurut dengan Riri. Apalagi setelah Riri memuji dirinya tadi. Tidak seperti hari-hari biasanya. Mereka selalu ribut dan bertengkar dengan alasan yang tidak jelas.


"Wih, cakep banget!" Puji Riri. Bangga dengan hasil karyanya. "Kolor Ijo cakep banget! Mirip Bang Dewa!"


Namun beberapa detik kemudian, suara teriakan membuat Riri dan Kolor Ijo berjingkat kaget.


"RIRI!!! LO APAIN KUCING GUE ANJRIT?!" Teriak Dewa shock.


"Meong," jawab Kolor Ijo.


******


"Gala bangun ih!"


"Galaaaa!!!"


Sejak sepuluh menit yang lalu, Riri sibuk membangunkan


Gala yang masih terlelap. Benar, sekarang Riri memang ada di apartemen Gala. Riri datang ke apartemen Gala diantar oleh Eza-papanya.

__ADS_1


Tadi Riri sengaja menumpang Eza yang hendak berangkat


ke kantor. Karena Gala yang berjanji akan mengajaknya jalan-jalan pagi ini tak kunjung mengabari dan menjemput dirinya, akhirnya Riri berinisiatif untuk datang ke apartemen Gala terlebih dahulu. Masalah Gala akan marah, itu urusan nanti. Begitu pikir Riri.


"Gala bangun!" Suruh Riri kesal. Gadis itu terus memukul-mukul punggung polos Gala yang tak terbalut apa-apa. Namun sampai detik ini tak ada respon apapun yang cowok itu berikan.



"Gala nyebelin! Riri pulang aja deh!"


"AAAA JANGAN!" Cegah Gala cepat sembari menarik


satu tangan Riri untuk ia peluk. Riri yang hendak berdiri pun, mengurungkan niatnya.


"Gala gak mau bangun! Terus ngapain Riri di sini?"


Tanya Riri kesal.


"Lima menit lagi, gue ngantuk banget, Sri."


"Emang tadi malem Gala gak bobo?"


"Bobo," jawab Gala menciumi tangan Riri dengan kedua


mata tetap terpejam. Sebenarnya Gala berbohong. Tadi malam dirinya bergadang hingga menjelang pagi.


Riri yang duduk di tepi ranjang hanya menghela napas mendengar jawaban Gala yang tidak meyakinkan. Tangan Riri bergerak untuk mengusap-usap kepala Gala, membuat cowok itu merasa nyaman dan semakin malas untuk beranjak bangun.


"Terus kenapa sekarang masih ngantuk?"


"Gak tau," geleng Gala. "Jangan diusap."


Riri menghentikan kegiatannya dengan ekspresi bingung. "Kenapa?"


"Nanti gue makin ngantuk sayang," jawab Gala serak.


Kedua matanya yang tampak merah, sedikit terbuka, menatap lekat ke arah Riri.


"Cantik," gumam Gala pelan dengan senyum tipis.


Dahi Riri mengernyit tak paham. "Siapa?"


"Mama lo."


"Ih!" Kesal Riri memukul punggung Gala.


Gala tertawa pelan. "Ya lo lah. Lagian lo ngapain nanya? Jelas-jelas cuma ada lo di sini. Bego banget."


"Gala jangan main hp ih! Ayo bangun!"


"Galaaaaaa!"


Riri semakin kesal. Gala, cowok itu bukannya bangun


dan siap-siap, sekarang justru asyik bermain ponsel.

__ADS_1



__ADS_2