CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
52.Sejak Pagi


__ADS_3

"Kenapa nangis?" Danis berdiri di depan Riri. Namun


bukannya menjawab pertanyaan dari Danis, Riri justru menangis semakin kencang.


"Nih kelakuan calon adik ipar lo yang selalu lo belain." Dewa menyodorkan ponselnya ke Danis untuk memperlihatkan foto Gala yang sedang memeluk seorang gadis di pinggir jalan.


"Breng***."


Danis memejamkan mata sejenak lalu duduk bersimpuh


di depan Riri. "Jangan nangis, Riri. Itu juga belum tentu bener, kan? Kalo pun iya, gue yang bakal habisin Gala. Berani -beraninya dia nyakitin lo," tenang Danis mengusap-usap kedua tangan Riri.


"Lagian, lo kenapa langsung kasih liat ke Riri sih, Wa?"


Kesal Danis. "Kalo kaya gini kan makin ribet."


Dewa mengangkat bahu santai. "Emang kenapa? Gue salah? Biar aja Riri tahu. Kenapa harus ditutup-tutupin? Lo masih mau belain Gala?"


"Masalahnya itu belum tentu bener."


Dewa menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangannya. Memang foto itu belum tentu kebenarannya,


tetapi jika diamati lagi, foto itu terlihat sangat real. Tidak mungkin jika itu hanya foto editan.


"Dah lah, biar gue samperin aja Gala." Dewa berdiri dari duduknya. Sementara itu, Danis langsung ikut berdiri untuk mencegah.


"Gak usah gegabah, bisa gak sih? Emang lo mau nyamperin


ke mana? Lo aja gak tau sekarang Gala ada di mana!"


Dewa diam. Benar juga apa kata Danis.


"Gala gak sayang lagi ya sama Riri?" Riri menatap kedua abangnya bergantian dengan wajah sembab dan berlinang


air mata. "Gala jahat! Gala bohongin Riri huaaa...!!!


Danis dan Dewa kembali mengalihkan atensi mereka ke Riri. "Udah, udah, yuk masuk, nunggu Gala di dalem aja," ajak Danis lembut.


Riri menggeleng. "Gak mau! Riri mau nungguin Gala di sini!"


"Masuk, Riri," suruh Dewa. "Percuma lo nungguin dia.

__ADS_1


Gue rasa dia gak bakal dateng."


"Makasih ya, Gala. Ini kesekian kalinya lo bantuin Amora.


Gue gak tau harus bales kebaikan lo dengan cara apa."


Dio menghela napas kasar. Jika tidak ada Gala, Dio tidak tahu bagaimana nasib adiknya-Amora. Sejak pagi, Amora memang kabur dari panti karena ada masalah. Beruntung sebelum hari terlalu larut, Gala yang tidak sengaja bertemu Amora di pinggir jalan, langsung membawa gadis itu pulang ke Panti Asuhan.


Gala menepuk-nepuk punggung Dio. "Santai aja, Yo. Awalnya gue juga gak tau kalo itu Amora. Dia nangis-nangis di pinggir jalan. Terus posisinya tiba-tiba hujan gede, jadi gue gak tega, gue samperin. Gue ajak dia pulang."


"Kalo boleh tau, emang masalah apa sampe dia kabur?"


Tanya Gala penasaran.


"Dia bertengkar sama temen sekamarnya yang seumuran,


Gal. Karena egonya sama-sama gede, gak ada yang mau ngalah. Terus ketahuan sama Bunda, mereka di nasehatin. Tapi Amora ngerasa kalo dia disudutin sama semua orang. Makanya dia milih kabur."


Gala mengangguk paham. Saat dirinya berniat untuk pamit pulang, justru Bunda yang dimaksud Dio. muncul ke ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi minuman dan makanan ringan.


"Oh ini nak Gala yang sudah bantuin Amora dulu, ya?" Tanyanya ramah. Wanita paruh baya bernama Asti yang berusia sekitar 45 tahun itu mendudukkan dirinya di hadapan Gala.


"Iya, Bun. Ini Gala yang dulu pernah bantuin kasusnya


"Dio, kamu tolong liatin Amora di kamar bentar, ya,"


suruh Asti pada Dio.


Dio mengangguk patuh. "Iya, Bun. Gal gue tinggal


bentar, ya."


"Aduh, nak Gala. Bunda jadi gak enak sama kamu. Dulu kamu udah bantu Amora, sekarang dibantuin lagi. Makasih banyak ya. Bunda bersyukur banget Amora ketemunya sama kamu, bukan orang lain. Kalo orang lain, bisa aja Amora malah dijahatin."


Gala tersenyum tipis. "Sama-sama Tante."


Asti balas tersenyum lebar. "Panggil Bunda aja, ya. Biar sama kaya yang lain. Bunda udah anggep kamu kaya anak-anak panti Bunda yang lain."


5


"Oh iya, ini diminum dulu tehnya."

__ADS_1


"Gak usah repot-repot, Bunda. Sebenarnya saya mau pamit pulang. Soalnya ada keperluan lain."


"Kenapa buru-buru? Masih hujan loh. Udah, di sini aja dulu," cegah Asti.


Gala menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tapi, saya pake mobil kok, Bunda. Jadi kalo hujan juga gak papa."


Asti tertawa pelan. "Bunda cuma basa-basi biar kamu di sini dulu. Kalo bisa, kamu sering-sering main ke panti ini. Bunda, Dio, Amora sama yang lain pasti seneng karena merasa punya anggota keluarga baru."


"I-iya, Bunda," jawab Gala kaku.


"Oh iya, Bunda itu kagum banget sama kamu loh.


Kamu orang baru tapi bisa luluhin Amora yang keras kepala."


Gala menatap Asti bingung. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan Asti. "Maksudnya gimana, Bun?"


"Nak Gala, Amora itu anaknya keras kepala sekali. Susah diatur. Bunda dan pengurus yang lain, kadang sampe gak


tau mau nasehatin dengan cara apa. Soalnya Amora juga anaknya sensitif. Kalo gak tepat nanganin nya, ya kaya tadi. Dia tersinggung terus milih kabur."


"Tapi sama kamu kok kayanya Amora nurut banget. Kalo Bunda boleh tau, tadi kamu nasehatin gimana sampai Amora mau pulang ke panti?"


Gala terdiam sejenak untuk mencerna apa yang Asti sampaikan. Menasehati Amora? Bahkan Gala tidak melakukannya sama sekali. Gala hanya menghampiri


Amora, menenangkan gadis itu lalu mengantarnya pulang


ke panti. Ya, hanya sekedar itu. Gala juga sama sekali tidak bertanya apa masalah Amora dan justru baru tahu setelah Dio menceritakan semua.


"Sebenernya saya gak nasehatin Amora apa-apa, Bun.


Saya cuma bilang mau nganter dia pulang ke panti. Terus Amora nya juga gak nolak. Langsung mau, jadi ya langsung saya anterin," jelas Gala membuat Asti semakin terkejut sekaligus kagum.


"Nah, kan. Gak diapa-apain aja Amora udah nurut banget sama kamu. Bunda jadi semakin yakin kalo kamu bisa bantu Bunda."


Entah kenapa perasaan Gala mulai tidak enak.


"Maaf, Bun. Bantu gimana? Saya gak paham."


Menghela napas, Asti menatap Gala serius. Seolah apa yang akan ia sampaikan selanjutnya adalah hal yang sangat penting. "Sebenarnya Bunda gak enak juga nyamperin nya. Takut ngerepotin kamu. Cuma ya, Bunda rasa kamu orang yang tepat." Asti menjeda ucapannya.


"Nak Gala, Bunda cuma mau minta sedikit bantuan sama kamu buat nasehatin Amora. Gak sekarang, tapi nanti, semisal Amora keras kepala atau ada masalah apa, Bunda bakal minta tolong ke kamu. Bunda yakin, dia pasti nurut kalo sama kamu."

__ADS_1


"Tap-"


"Bunda tau kamu anak baik. Kamu pasti mau bantu Bunda, kan? Bunda minta tolong banget sama kamu. nak Gala. Soalnya Amora itu bener-bener keras kepala," sela Asti membuat bibir Gala mengatup rapat.


__ADS_2