
Gak. Lo masih ada tanggungan sekolah, Gal.
Biar gue aja yang nyusul ke Singapur malem ini."
"Bang, tap--"
"Kali ini gue harap lo gak keras kepala dan percaya sama gue. "
Gala berdiri dari duduknya. Ia memilih mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Satu tangan bebasnya sibuk memijat pelipisnya yang terasa nyeri.
"Oke. Kabarin gue kalo ada apa-apa."
Tut. Gala mematikan sambungan telfon mereka lalu beralih mengambil sesuatu di dalam laci yang harus ia minum.
******
"Makasih, abang."
Dengan senang hati Riri menerima dua permen lolipop pemberian Danis.
"Lo gak kangen sama Gala?" Tanya Danis tiba-tiba.
Riri yang tadinya terlihat begitu semangat untuk memakan permen lolipop, kini tampak lesu setelah mendengar pertanyaan dari Danis.
"Kangen," jawab Riri jujur. Mana mungkin tidak kangen, sudah dua hari penuh ia tidak bertemu dengan Gala. Padahal di hari-hari sebelumnya, hampir setiap hari ia dan Gala bertemu. Bisa dibilang dalam hidup Riri itu tiada hari tanpa seorang Gala.
"Gue rasa cukup lo diemin Gala. Ini udah jadi pelajaran buat dia, biar dia gak seenaknya sama lo."
"Tapi bang De--"
"Lo udah boleh ketemu sama dia."
Riri dan Danis menoleh bersamaan ke arah Dewa. Cowok itu terlihat baru pulang, entah dari mana.
"Beneran gak papa?" Riri menghampiri Dewa dengan binar mata bahagia. Akhirnya abangnya yang satu ini luluh juga. Tidak sia-sia dari kemarin Riri sengaja mendiamkannya.
"Hem," angguk Dewa. "Tapi lo harus maafin gue."
__ADS_1
Kepala Riri langsung mengangguk semangat. "Iya, Riri udah maafin bang Dewa kok!"
Senyum Dewa tersungging begitu lebar. "Kalo lo beneran udah maafin gue, gue mau lo peluk gue. Gue kangen. Gue sedih gara-gara dari kemarin lo diemin gue," aku Dewa tanpa rasa malu. Hal itu tentu saja membuat Danis diam-diam tersenyum bahagia.
"Maafin Riri." Riri memeluk Dewa erat. "Riri banyak nyusahin bang Dewa."
Dewa membalas pelukan Riri sembari mengusap-usap punggungnya. "Iya, lo emang selalu nyusahin gue. Tapi itu emang udah jadi tugas gue sebagai seorang abang. Maafin gue yang egois, ya. Asal lo tahu, gue egois karena gue terlalu sayang sama lo dan gak mau lo kenapa-kenapa."
Riri dan Dewa menikmati pelukan mereka sampai akhirnya suara Danis membuat keduanya ikut menoleh.
"Kenapa, Mbak?"
"Itu, ada mas Gala di depan."
"Gala ada di depan?!" Riri melepaskan pelukannya dengan Dewa. Kedua matanya tampak berbinar bahagia. Ia sudah sangat merindukan Gala. Ingin rasanya memeluk Gala secepat mungkin. Jujur, Riri memang tidak bisa berpisah dari Gala terlalu lama.
"Hem. Belom apa-apa tuh galon air udah ganggu!"
Decak Dewa.
"Wa, biarin Riri yang nemuin dia," cegah Danis saat Dewa hendak keluar menemui Gala.
Bibir bawah Riri mencebik. "Riri kan gak jualan."
Dewa menahan diri untuk tidak melontarkan umpatan kasar. "Maksud gue itu lo--em gak jadi. Udah sana temuin si galon air!"
Tanpa menunggu lebih lama, dengan semangat empat lima, Riri berlari keluar rumah untuk menemui Gala.
Mata Riri membulat sempurna melihat keadaan Gala di depannya. "Gala..."
"Peluk gue pleaseee..."
Mata Riri membulat sempurna melihat keadaan Gala di depannya. "Gala..."
"Peluk gue pleaseee..."
Tanpa menunggu jawaban dari Riri, cowok dengan penampilan acak-acakan itu sudah lebih dulu menarik Riri ke dalam dekapannya. Gala menyamankan posisi kepalanya di ceruk leher Riri. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Riri yang membuatnya nyaman dan tenang di saat bersamaan.
__ADS_1
Meskipun Bingung, Riri tetap membalas pelukan Gala. Tangan mungilnya juga sibuk mengusap-usap punggung lebar milik Gala. Seolah ia ingin memberi ketenangan untuk Gala yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja.
"Gala kenapa?" Tanya Riri pada akhirnya. Membuat Gala mengangkat kepala dan menatap Riri dengan mata berkaca-kaca. Meski ini bukan pertama kali bagi Riri melihat Gala menangis, namun tetap saja Riri merasa aneh. Di depan anak Drax Gala selalu terlihat berwibawa dan sangar. Namun jika sudah dihadapkan dengan Riri, sikap Gala justru terlihat seperti anak kecil.
"Gue kangen sama lo, Ri. Jangan tinggalin gue lagi, ya. Jangan."
"Jangan, Ri. Pleaseee..."
Riri merasa bersalah melihat keadaan Gala sekarang. Kalau tahu Gala akan sefrustasi ini, mungkin kemarin Riri tidak akan mendengarkan saran dari abangnya untuk menjauh dari Gala sementara waktu. Sampai harus tidak masuk sekolah selama dua hari.
"Maafin gue, Ri." Gala kembali memeluk Riri begitu
erat. Seolah ia akan kehilangan Riri jika melepaskan pelukannya meski hanya untuk satu detik.
Gala tahu, mungkin jika bukan Riri tunangannya, orang itu sudah merasa bosan mendengar kata maaf yang selalu terucap dari bibirnya setiap kali ia melakukan suatu kesalahan yang sama. Beruntung, tunangan Gala sekarang adalah Riri. Gadis polos nan baik hati yang selalu bisa memaafkan dan menerima dirinya kembali.
Bukan, Gala tidak bermaksud untuk memanfaatkan
sifat polos Riri. Hanya saja, untuk saat ini Gala merasa sangat beruntung karena memiliki gadis seperti Riri. Gala mencintai Riri, sungguh. Gala juga tidak mau kehilangan Riri apapun alasannya. Kecuali maut nantilah yang akan memisahkan mereka berdua.
"Ri?"
Mata Riri mengerjap beberapa kali setelah Gala melepaskan pelukannya. Sebenarnya Gala tidak ingin melepaskan pelukan mereka, hanya saja Gala merasa kasihan pada Riri karena gadis itu terlihat kesulitan bernapas saat Gala memeluknya terlalu erat.
"Lo gak minta maaf ke gue?" Satu alis Gala terangkat heran. Karena sejak tadi Riri belum mengucapkan kata maaf.
Apakah gadis itu tidak merasa bersalah sudah membuat Gala sefrustasi sekarang?
Gala khawatir. Gala takut Riri tidak lagi peduli dengannya. Itu adalah ketakutan yang sebenernya
selalu Gala rasakan setiap saat.
Tidak langsung menjawab. Riri terdiam sebentar sebelum akhirnya membuka suara sembari menunjukkan senyum imutnya. "Emang Riri ada salah? Kan Gala yang waktu itu marah-marah sama Riri. Gala yang buat Riri takut. Gala yang buat Riri pergi."
"Maaf." Gala menghela napas kasar. Merasa sedikit menyesal dengan perbuatannya beberapa hari yang lalu saat di WBS.
Riri menatap Gala jahil. "Untung Riri ngejauh dari Gala cuma diem aja di rumah. Enggak sampek jalan sama cowok lain."
__ADS_1
Mata Gala menajam. "Emang ada yang ngajakin lo jalan?!"
"Ada," angguk Riri polos seperti tanpa dosa. Tidak tahu saja jika di dalam dada Gala sana sudah ada bara api yang siap berkobar. "Waktu itu Raf--eh!" Riri buru-buru menutup mulutnya begitu sadar dirinya hampir keceplosan.