
Budayakan Vote sebelum membaca, biar nanti ngga lupa karena keasikan baca<3 ke
"Sri keluar Lo!"
"Sri pulang apa gue bakar rumah temen Lo ini!"
Gala Arsenio Abraham atau yang bisa disapa Gala. Cowok berbadan tinggi, tegap dengan wajah dan rahang tegas itu berdiri angkuh tepat didepan sebuah rumah berdesain minimalis. Gala tidak tahu ini rumah siapa. yang jelas setelah ia mendapat kabar bahwa gadis nakal nya itu pergi kerja kelompok tanpa seizinnya, Gala langsung datang ke alamat yang anak buahnya infokan, Tanpa berpikir panjang.
Dengan posisi kedua tangan Gala menyilang menjadi satu di dada dengan sorot mata yang semakin membuat isi ruangan menjadi seram. Tatapan matanya terus menusuk ke segala penjuru sambil menunggu sosok gadis nakal yang barusan ia teriaki itu keluar.
Namun saat menyadari tak ada tanda-tanda gadis itu akan keluar, Gala berdecak tidak sabar. Cowok itu kembali berteriak kencang. Kali ini lebih kencang daripada sebelumnya.
_*"GUE HITUNG SAMPAI TIGA!!! KALO LO GAK KELUAR GUE DOBRAK INI PINTU!!!"*_
"****! Tuh bociil mulai berani sama gue!"
Umpat Gala menarik rambutnya ke belakang.
Sebenarnya Gala bisa saja langsung mendobrak pintu Masuk dan segera menyeret gadisnya keluar. Namun Gala masih ingin menghargai orang yang mempunyai rumah. Ya meskipun apa yang ia lakukan sekarang, berteriak di depan rumah orang tanpa rasa malu juga termasuk tindakan yang tidak menghargai si tuan rumah.
"SATU"
Tidak ada jawaban.
"DUA!"
Masih tidak ada jawaban.
"TI...."
"GALA!!!!"
Membuka pintu, gadis yang berlari kecil dengan napas sedikit Terputus-putus yang panjang, gadis itu berdiri tepat di hadapan Gala. Ia mengigit bibir bawahnya, merasa takut. Gadis itu langsung menunduk cepat saat Gala melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Ayo pulang!" Ajak Gala tanpa basa-basi. Namun lebih terlihat seperti memaksa daripada mengajak.
Sering Kalila atau gadis yang biasa dipanggil Riri itu mencegah saat Gala hendak menarik tangannya. "Tas Riri ada di...."
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, seolah tahu apa yang akan Riri katakan, Gala sudah lebih dulu menerobos masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas milik Riri.
"Apa lo liat-liat?!" Sewot Gala saat ketiga temen cewek Riri menatap kehadirannya terkejut. Namun di detik berikutnya mereka bertiga terlihat biasa saja. Pasalnya satu SMA Cakrawala juga tahu semua. Siapa sosok Gala Arsenio Abraham ini.
Tidak hanya itu, satu sekolah juga sudah paham, Gala dan Riri ini adalah dua manusia buciin yang tidak bisa dipisahkan. Gala buciin akut dengan Riri. Begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
Maka dari itu mereka tidak ada yang berani macam-macam atau mencari perkara dengan Riri, cewek sang _*leader Drax*_yang terkenal galak itu.
******
Begitu mereka berada di dalam mobil, baik Gala maupun Riri, keduanya terus terdiam. Sampai akhirnya sebuah pertanyaan singkat membuat Riri membeku di tempatnya.
"Puas bohongnya,HM?"
Riri mengumpat kesal. Kali ini Riri tidak merasa berbohong mengenai apapun. Tapi mengapa Gala tiba-tiba menuduhnya seperti itu. "Riri gak bohong ih!"
"Gak bohong apanya?! Lo bilang udah pulang dijemput sama abang Lo yang mirip tuyul itu.
Tapi ternyata apa?! Lo malah nyantol di rumah temen Lo!"
"Tadi Riri emang dijemput sama bang Dewa!" Balas Riri ngegas. "Tapi di perjalanan tiba-tiba Riri di telfon sama Naya! Dia ngajak kerja kelompok!"
"Kenapa gak bilang ke gue dulu?!"
"Sampek di rumah Naya, baterei Riri habis!
Gimana mau ngasih tau Gala coba?!"
"Halah ngeles aja!"
"Ya udah kalok gak percaya!" Riri memalingkan muka ke luar jendela. sejak empat tahun yang lalu Gala memang tidak pernah berubah. Selalu galak, egois, dan posesif. Itulah tiga sifat Gala yang tidak pernah Riri sukai.
"Ingat! Sekarang gue gak cuma pacar lo doang!
Tapi tunangan Lo juga! Jadi apa-apa Lo harus izin ke gue!" Kemanapun. Lo pergi harus dengan izin gue!" Ucap Gala mutlak. Tidak mau dibantah.
"Tap..."
"Ayo lanjutin!" Tantang Gala marah. "Gue nikahin Lo besok kalok Lo makin bandel dan selalu ngelawan gue!"
Riri menghela napas kasar. Memutar bola matanya malas. Selalu itu ancaman yang Gala berikan sejak mereka tunangan satu bulan yang lalu. "Ya udah ayo nikahin! Ngomong doang!"
_*CCIIITTT*_
Riri berteriak kaget saat Gala mengerem dan menepikan mobilnya mendadak.
"Ngomong apa Lo barusan?" Gala maju mendekati Riri setelah melepaskan _*seat belt-*_nya.
Demi apapun, sekujur Tubuh Riri merinding seketika saat Gala berbicara begitu dekat dengan telinganya.
__ADS_1
Bahkan bibir tebal cowok di hadapannya itu hampir menyentuh daun telinganya Riri.
"Ng-enggak!" Riri mendorong dada bilang Gala cepat.
Gala menjauhkan badannya lalu memukul stir mobilnya kasar. "_******_! Baru gue tinggal sehari aja Lo udah berulah kaya gini!"
"Kalok Sampek Lo lebih berani lagi, gue nikahi. Lo detik itu juga Sri!" Ancam Gala terdengar tidak main-main.
"Riri bukan Sri!" Protes Riri tidak mau dipanggil Sri. Namanya sudah bagus 'SerinaKalila' tapi kenapa Gala justru lebih senang memanggilnya 'Sri'.
"Gue gak pernah main-main Sama ucapan gue. Makin Lo bandel makin cepat gue nikahin Lo!"
Tekan Gala menetap Riri penuh ancaman.
Gala tersenyum miring. "Gak peduli kalaupun abang-abang lo gak kasih restu. Gue bisa bawa Lo buat nikah lari."
"Gak mau!"
"Kenap?!" Tanya Gala tidak suka. "Mau nikah sama siap Lo kalok gak nikah sama gue hah?!"
"Riri gak mau nikah lari ih! Capek!" Tolak Riri melipat tangannya di depan dada. "Masa nikah sambil lari?! Di mana-mana nikah itu sambil duduk!"
Gala menjambak rambutnya sendiri. Ia hampir lupa, pacar, eh ralat, tunangannya ini memang rada...bego.
"Gak gitu maksud gue!"
"Terus gimana?" Polos Riri. Gadis itu bertanya seperti tanpa dosa. Tidak tahu saja jika saat ini Gala sedang menahan diri untuk tidak membenturkan kepalanya ke _*dashboard*_ karena saking kesalnya.
"Dah lah terserah Lo!" Balas Gala tidak mau memperpanjang.
"Apa?!" Tanya Riri sewot saat dagu Gala tiba-tiba menunjuk ke luar jendela samping Riri. Apa Gala sedang mengusirnya untuk keluar dari mobil? Ah, jangan sampai.
"Buka, tuh ada orang jualan air."
Riri menatap nenek-nenek yang berdiri tepat di sampingnya. Lalu kembali menatap Gala. "Riri gak haus! Lagian Riri masih punya minum di dalam tas!"
Gala berdecak. tanpa banyak bicara cowok itu keluar dari mobilnya. Menghampiri nenek-nenek itu untuk membeli sebuah minumannya yang berjumlah sepuluh botol.
"Gala beli semuanya?" Mata Riri menyipit tidak percaya memiliki Gala kembali masuk ke mobil dengan membawa satu kantong plastik besar berisi beberapa botol air mineral. "Gala haus banget, ya?"
"Kadang kita gak perlu ngerasain haus dulu buat beli minum."
Riri melongo tidak paham. "Hah?"
__ADS_1
"Mereka. Orang kayak nenek-nenek tadi, jualan minuman bukan kaya.Tapi buat beli makan. Jadi apa salahnya kalok Gie bantu dengan beli semua?"
Riri tertegun mendengar jawaban Gala. Mereka ia agak lemot tapi ia paham apa yang Gala maksud.