
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
"Kak Gala?!"
Mata Amora berbinar bahagia melihat kedatangan Gala ke panti asuhan. Gadis itu langsung berlari kecil menghampiri Gala.
"Cih!" decak Gala menyingkirkan tangan Amora yang dengan
lancang berani menyentuh lengannya. Perlu diingat, Gala tidak suka melakukan kontak fisik dengan gadis lain selain dengan Riri. Kecuali dalam kondisi tertentu.
"Mana Rafa?!" tanya Gala menatap Amora datar.
Dari info yang Gala dapatkan dari Dio, Rafa memang sering datang ke panti asuhan. Selain karena rumah cowok itu dekat dengan panti asuhan, Rafa juga cukup akrab dengan anak-anak di panti asuhan ini. Rafa sering mengajak mereka bermain atau sekedar mentraktir mereka es krim.
"Kak Rafa ada di--"
"Kenapa?"
Gala dan Amora menoleh ke sumber suara. Rafa, cowok itu terlihat berdiri di ambang pintu sambil menggendong anak perempuan yang dulu sempat Gala beri permen lolipop sewaktu Drax mengadakan acara di panti asuhan ini.
"Lo nyari gue? Ada urusan apa?"
Rafa mendekat. Cowok itu menurunkan Starla dari gendongannya setelah memberitahu Starla agar masuk ke dalam karena dirinya ada urusan penting dengan temannya.
Tak mau banyak basa-basi, Gala langsung to the point. "Ngapain kemarin lo sok-sokan ngelindungin cewek gue? Sampai rela bohong biar dia gak dihukum. Apa maksud lo kaya gitu? Mau sok jadi pahlawan kesiangan buat cewek gue?"
Rafa terkekeh santai. "Cuma gara-gara itu lo sampai nyamperin gue ke sini?"
"Gak usah banyak bacot. Cukup jawab pertanyaan gue!" tekan Gala mulai emosi.
RAfa bersidekap dada. "Lo pikir aja sendiri. Mana ada cowok yang diem aja ngelihat cewek yang dia suka hampir dihukum."
"Maksud lo?!" Gala menarik kerah jaket Rafa.
__ADS_1
Gala jelas sangat paham apa maksud Rafa. Akan tetapi Gala ingin memastikan kalau kali ini telinganya tidak salah dengar.
"Gue rasa telinga lo masih cukup berfungsi buat memahami ucapan gue barusan," balas Rafa menyingkirkan tangan Gala dari kerah jaketnya. "Kalo kedatangan lo ke sini cuma mau nyari ribut sama gue. Sorry gue gak minat."
Rafa menatap Gala sekilas lalu beralih menatap Amora yang sejak tadi hanya diam membisu menyaksikan perdebatan di antara mereka. "Masuk, Mor. Apa sih yang lo harapkan dari cowok emosian kaya gini?"
Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, Rafa berjalan meninggalkan keduanya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia sama sekali tidak peduli bagaimana respon Gala ketika mendengar sindiran pedasnya barusan. Yang jelas Rafa hanya ingin jujur kalau dirinya memang mempunyai perasaan lebih pada Riri dan Rafa tidak takut pada Gala.
Sementara itu, Amora yang melihat Gala masih diam di tempat sambil mengepalkan kedua tangan, berinisiatif untuk menenangkan cowok itu. Sayangnya yang Amora dapat justru kemarahan Gala.
"Jangan pegang tangan gue!" marah Gala menghempaskan tangan Amora dari lengannya."
Gala menyusul Rafa, menarik tubuh Rafa agar menghadapnya. Kemudian mengangkat kepalan tangannya ke udara. Berancang-ancang memberi Rafa pukulan di bagian rahang.
"Kak--"
Bugh!
"Anjin* lo!"
"Kak Gala jang--Kak udah!" teriak Amora berusaha melerai. Namun sayang suara teriakannya terabaikan.
Bugh!
"Berani-beraninya lo suka sama cewek gue bangsat!" amuk Gala menatap Rafa tidak terima. Lagi pula, cowok mana yang terima jika ada cowok lain secara terang-terangan mengaku
kalau menyukai ceweknya.
Bukannya takut, Rafa justru tertawa pelan mendapati amukan Gala. Dua pukulan dari Gala barusan sama sekali tidak membuat Rafa kesakitan atau takut.
"Setakut itu lo saingan sama gue, Gal?" tanya Rafa remeh.
Napas Gala memburu naik turun. Rafa benar-benar memancing jiwa iblis nya yang sudah lama tidak muncul.
Rafa maju, cowok itu melangkah dua langkah untuk mendekati Gala. Tepat di hadapan Gala, Rafa menepuk-nepuk pundak Gala beberapa kali sebelum berujar dengan begitu tenang. "Bahkan cewek lo sendiri yang nyuruh gue buat gak nutupin perasaan gue yang sebenarnya. Jadi apa salahnya kalo gue jujur?"
Dahi Gala mengernyit tidak paham. Apa maksudnya? Riri meminta Rafa untuk jujur mengenai perasaannya? Ah, mana mungkin. Gala tidak mau percaya begitu saja. Bisa saja Rafa sengaja ingin mengadu domba dirinya dengan Riri agar hubungannya renggang lalu Rafa bisa masuk dan merebut Riri.
Gala terkekeh sinis. "Lo pikir gue bodoh? Gue gak bakal semudah itu percaya sama omong kosong lo!"
"Omong kosong?" balas Rafa tak kalah sinis. "Nih lihat kalo gak percaya!"
__ADS_1
Gala yang tadinya hendak melayangkan pukulan pada Rafa untuk ketiga kalinya, gagal, kala Rafa menunjukkan room chat-nya bersama Riri.
....
.
Bersambung
.
.
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Akbar?
Pesan buat Alan?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Danis?
Pesan buat Amora?
Pesan buat Nenda?
Pesan buat Choline?
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1