CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
59.Ngapain Ngintip


__ADS_3

"Kok rame ya?" Gumam Riri heran. Karena tidak biasanya taman belakang ramai. Kadang hanya ada beberapa siswa


dan siswi saja yang ada di sana. Apalagi sekarang, hanya kelas dua belas saja yang masuk.


Riri mengintip dari balik tembok. Benar dugaannya, Gala memang sudah ada di sana. Namun cowok itu tidak sendirian. Gala sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya, anak Drax.


"Bos itu Riri kan?"


Gala menghisap batang rokok yang terselip di jarinya lalu mengikuti arah pandang Ilham. Mata cowok itu langsung memincing ketika mendapati objek yang Ilham maksud.


"SRI!" Panggil Gala berteriak. "SINI LO! NGAPAIN NGINTIP?!"


Gadis yang Gala panggil itu perlahan mendekat


dengan bahasa tubuh yang terlihat ketakutan.


Tatapan Gala mengedar pada semua teman-temannya


yang masih terdiam. "Pergi lo semua," usir Gala. Tanpa diminta dua kali mereka langsung berbondong-bondong pergi karena paham situasi.


"Duduk."


"Hem! Siapa yang nyuruh lo duduk di situ?" Decak Gala melihat Riri duduk di sebelahnya. "Sini!" Gala menepuk pahanya.


"Riri malu, inikan di seko-Gala ih!"


Gala mengeratkan pelukannya di pinggang Riri saat gadis itu hendak beranjak dari pahanya. Kini, dengan amat terpaksa Riri hanya bisa diam di atas pangkuan Gala dengan posisi duduk menyamping.


"Gala!" Protes Riri saat Gala meniupkan asap rokok ke wajah Riri.


Gala terkekeh pelan lalu membuang dan menginjak puntung rokoknya.


"Kenapa baru dateng, hem? Lupa?"


Riri mencebik kesal. Bukannya menjawab pertanyaan


dari Gala, Riri justru membahas hal lain. "Gala kenapa rokok?! Katanya gak rokok lagi?! Dasar tukang boong!"


"Gue gak rokok kalo di depan lo."


"Tapi barusan rokok di depan Riri!" Nyolot Riri dengan


mata melotot sok galak. Bukannya terlihat menakutkan.


Di mata Gala Riri justru tampak begitu menggemaskan.


"Kegep," jawab Gala santai. Kedua mata Gala sibuk mengamati wajah imut Riri dengan tatapan kagum.


Seolah di dunia ini hanya Riri ciptaan Tuhan yang paling indah. "Gue kira lo gak bakal dateng ke sini. Gue udah nunggu lama sampe bosen dan akhirnya tadi gue nyuruh mereka ke sini."


"Di sekolah gak boleh rok--"


"Sssttt..." Gala meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Riri. "Gak usah banyak ngomong. Gue gak suka."


"Lagian gue gak bakal rokok kalo gak lagi banyak pikiran."


"Gala kenapa?" Riri bisa menangkap sorot kesedihan

__ADS_1


yang terpancar dari kedua mata Gala.


"Gak papa, gue cuma lagi keinget Papa sama Mama Anita. Mereka pergi sebelum lihat gue lulus. Harusnya mereka bahagia hari ini."


Riri memeluk leher Gala erat. "Mereka pasti bisa lihat kalo sekarang Gala udah lulus. Bunda Riri juga, kata Gala gitu kan? Meskipun Bunda udah gak ada, Bunda bakal bahagia juga kalo liat Riri bahagia. Nah Papa sama Mama Gala pasti gitu juga. Mereka sekarang bahagia lihat Gala bahagia."


"Gue udah kehilangan Bunda Desi, Papa dan Mama Anita, Ri. Gue gak mau kehilangan lo." Gala melepaskan pelukan Riri di lehernya lalu menatap gadis itu dengan tatapan takut kehilangan. "Jangan pergi, ya? Gue gak mau sendirian."


Riri mengangguk cepat. "Iya, Riri bakal temenin Gala terus. Sampe Gala kuliah, sampe Gala kerja, sampe Gala tua, dan sampe Gala bisa nemuin Mama kandung Gala."


Gala tersenyum getir. "Semoga Mama kandung gue masih ada. Gue pengen banget ketemu dia, Ri. Seenggaknya sekali seumur hidup."


Riri mengusap-usap pipi Gala lembut untuk menenangkan Gala dan hal itu berhasil.


"Riri punya sesuatu biar Gala gak sedih lagi."


"Apaan?"


Riri mengambil toples kecil dari dalam tas ranselnya.


Dua toples itu masing-masing berisi lima kue kering berbentuk Singa dan Kura-Kura.


"Kue Singa buat Gala dan kue Kura-Kura buat Riri."


(Kue Singa)



(Kue Kura-kura)



Dahi Gala mengernyit heran saat Riri menyodorkan kue itu. "Dapet dari mana lo?"


"Riri bikin sama Mama. Riri gak mau kalah


sama Amora yang bisa bikin kue!"


Kemarin, waktu Gala mengajak Riri ke panti asuhan untuk bertemu dengan Bunda Asti dan Amora, Riri sangat kesal karena dua orang itu sibuk memamerkan pada Gala jika mereka pandai membuat kue, terutama Amora. Hal itulah yang mendorong Riri untuk belajar membuat kue agar tidak kalah dengan Amora.


Mendengar jawaban Riri, diam-diam Gala menahan


kedutan di kedua sudut bibirnya yang ingin tersenyum.


"Gala tau gak kenapa bentuknya gini?"


Gala menggeleng tidak tahu. "Kenapa?"


"Kue bentuk Singa untuk Gala yang suka marah-marah, menyeramkan kaya Singa. Terus kue Kura-Kura untuk Riri


yang kata orang-orang otak Riri lemot kaya jalannya Kura-Kura, hehe."


Gala mengusap lembut kepala Riri. "Apapun yang mereka bilang tentang lo, gak usah dipikirin, ya. Mau gimanapun yang penting gue tetep sayang sama lo. Gue tetep membutuhin lo di setiap hari-hari yang bakal gue lalui ke depannya."


"Sini gue suapin kuenya." Gala mengambil alih kue Kura-Kura dari tangan Riri lalu menyuapkannya pada gadis itu.


"Suapin gue," titah Gala memberikan kue Singa nya pada Riri.

__ADS_1


"Enak," angguk Gala membuat senyum Riri mengembang lebar.


"Nanti Riri buatin yang banyak ya? Kemarin Riri sama Mama buat pertama kali makanya cuma dikit. Takut gak enak."


"Kenapa tadi lo gak ke sini? Bukannya gue udah bilang,


habis liat pengumuman temui gue di taman belakang?"


Tanya Gala di sela-sela kunyahan kue di mulutnya.


"Riri lupa. Tadi Riri ngobrol dulu di kelas. Abis itu baru liat pengumuman, terus ngobrol lagi, baru inget kalo Riri ada janji sama Gala."


Gala mengangguk-anggukan kepalanya. "Gitu doang?"


"Bisa."


"Tapi lama."


Riri mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. "Oh ya, Nen Nen


dan Choli berpelukan tadi, jadi agak lama."


Gala bedecih. "Alay. Kaya teletubbies."


"Tapi Gala juga suka peluk Riri!"


"Beda."


Drttt....drttt....drttt...


Gala merogoh ponselnya yang ada di saku celana


dengan raut wajah kesal.


"Pa?"


"Penting, Gal. Mending lo langsung ke WBS.


Gue tunggu di sini."


Suara Ilham di seberang sana terdengar panik.


"Hem, ganggu lo monye-!"


"Sumpah, Gal. Gak becanda gue. Ini penting banget."


"Ya, gue ke sana."


"Gala mau ke mana?"


"Ke WBS." Tangan Gala bergerak untuk merapikan


anak rambut Riri yang berterbangan tertiup angin.


"Lo ke kelas dulu ya. Kalo laper langsung ke kantin.


Ntar gue susul. Gak usah aneh-aneh. Gak usah deket-deket sama cowok. Gak usah senyum ke cowok. Gak usah liatin cowok. Gak usah ngomong sama cowok."

__ADS_1


"Paham?"


"Iya, ih! Gala mau ngapain ke WBS? Gala gak bakal coret-coret baju kan? Kata Mama itu gak baik. Gak boleh dilakuin. Mending bajunya disumbangin ke orang yang membutuhkan."


__ADS_2