
Selamat siang bestie, semoga harimu siang terus
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepet memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
Selamat membaca!
....
"Kalo sekarang kamu pengen cari ibu kandung kamu, Tante bisa bantuin," kata Karisa mengusap-usap pundak Gala.
Azri mengangguk setuju. "Kita bakal bantuin kamu. Gal.
Tapi Om gak bisa menjanjikan apapun ke kamu, karena informasi yang kita miliki mengenai ibu kamu juga sangat minim. Kita cuma modal foto dan nama, sementara foto yang kamu miliki juga foto waktu ibu kamu masih muda, pasti akan berbeda dengan penampilan dia yang sekarang. Nama juga, bisa saja ibu kamu ganti nama."
Gala mendongak sambil mengerjapkan kedua mata untuk menahan air matanya yang mendesak keluar.
"Om sama Tante gak tau di mana keluarga dari ibu kandung
Gala?" tanya Gala menatap mereka bergantian.
Hening.
Beberapa detik kemudian, keduanya menggeleng pelan. Hal itu membuat Gala semakin pesimis untuk bisa bertemu dengan ibu kandungnya.
"Mending lo fokus sama masa depan lo."
Semua orang menoleh ke Agam.
"Bentar, Om."
Melihat Agam hendak menaiki anak tangga, Gala langsung menghampiri dan mencegah langkah laki-laki itu.
"Bang!"
Agam membalikkan badan santai. "Kenapa? Lo udah ambil keputusan?"
Gala berdecak. "Soal pilihan itu, kenapa lo bikin ribet sih?!
Mana janji lo dulu? Hah?!"
Agam mengangkat satu alisnya. "Janji? Janji gue buat bantuin lo nikahin Riri secepat mungkin? Em, setelah lulus SMA?"
"Gak usah sok nanya. Lo pasti masih ingat, apa janji lo ke gue
waktu itu." Agam mengangguk membenarkan. Ia memang masih mengingat janji itu. "Janji itu berlaku kalo dari awal lo nurut
sama gue, Gal. Kemaren lo gimana, hem? Nurut gak?"
"Hem, sialan. Lo boongin gue?"
"Lo belom dewasa, Gal. Gue rasa lo sama Riri belum bisa nikah dalam waktu dekat ini."
"****!"
Setelah mengumpati Agam, Gala buru-buru berpamitan pada Azri dan Karisa untuk segera pulang. Gala tidak mungkin melampiaskan kekesalannya di sana.
.....
"AAAAARRRRRGGGGGHHHHH!!!"
Sudah hampir dua jam Gala mengacak-acak kamar Abraham untuk mencari surat yang Karisa maksud tadi. Namun hingga semuanya menjadi berantakan, Gala belum juga menemukan apa yang ia cari.
Gala menjambak rambutnya sendiri lalu duduk di tepi ranjang sambil memijat pangkal hidung.
__ADS_1
Malam ini, pikiran Gala sangat kacau. Kepalanya terasa
pusing. Dadanya juga tiba-tiba terasa sesak mengingat fakta
jika dulu ibunya memang sengaja meninggalkan dirinya.
"****!"
Tidak lama kemudian, ponsel Gala berdering. Awalnya Gala membiarkannya karena berpikir itu pasti telfon tidak penting dari teman-temannya. Namun karena ponselnya terus berdering dan hal itu semakin mengganggu ketenangannya, mau tidak mau, Gala terpaksa mengecek ponsel miliknya.
Saat ingin ia angkat, telfonnya justru mati dan berganti
menjadi dentingan notif pesan bertubi-tubi.
Tangan Gala mengepal kuat melihat foto yang Ilham kirimkan padanya.
"Anjing!" umpat Gala spontan. "Lo bener-bener nantangin gue ternyata."
"AARRRRRRGHHHH!!! BAJINGAN!!!" Gala mengacak-acak rambutnya frustasi. Napasnya memburu naik turun. Rasanya saat ini ia ingin menghancurkan apapun yang ada di depannya.
Gala mengambil lampu tidur di atas nakas lalu membantingnya kencang-kencang ke lantai..
"PYAAARRRR!!!!"
Belum puas dengan hal itu, tatapan Gala beralih pada
patung-patung antik koleksi papanya yang harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta.
Gala mengambil patung-patung itu lalu menghancurkannya
satu persatu.
"BRAKK!!!"
"PYARRR!!!"
"****! Sshhhhh!!!"
Dengan napas yang semakin memburu dan tidak beraturan Gala menatap tangannya yang berdarah karena terkena pecahan patung yang terbuat dari kaca.
Gala kembali berteriak. "AAAARRRRGGHHHH!!!!
RIRI LO NGAPAIN SAMA DIA ANJING!!!"
Gala semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Ia kembali mencari-cari barang yang bisa ia hancurkan. Hal itu terus berulang sampai Gala merasa lelah sendiri.
Gala, cowok yang penampilannya sudah berantakan itu kembali duduk di tepi ranjang setelah puas membanting barang-barang di kamar papanya. la lantas mengambil sesuatu dari saku jaket lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Mata Gala terpejam untuk beberapa saat. Gala mengusap sudut matanya yang mengeluarkan cairan bening. Lalu mengumpat pelan. "Bangsat! Sialan banget hidup gue hahahaha!!!"
"Pulang."
"Pulang!" ulang Gala menarik tangan Riri.
"PULANG GUE BILANG!"
Riri menatap Gala dengan mata berkaca-kaca. Ia berharap, Danis, abangnya yang tadi izin ke kamar mandi itu segera kembali.
Namun harapan Riri hanya sia-sia. Karena sampai detik ini, Danis belum juga menampakkan batang hidungnya. Membuat Riri takut sekaligus cemas. Takut karena saat ini dirinya sedang berada di salah satu kafe dekat rumahnya yang suasananya cukup ramai dan cemas karena tidak mau terjadi hal-hal di luar dugaan seperti, terjadi keributan antara Gala dan Danis nantinya.
"Gala kenapa sih suka marah-marah?! Riri gak suka!" balas Riri setengah berteriak. Riri menghempaskan tangan Gala setelah berusaha mati-matian mengumpulkan keberanian untuk melawan Gala.
Gadis itu juga mencoba untuk biasa saja meski sebenarnya merasa kurang nyaman. Karena kini, orang-orang memerhatikan ke arah mereka sembari saling berbisik satu
__ADS_1
sama lain.
Sedangkan Gala, cowok itu tetap menatap Riri dengan tatapan yang tidak berubah sedari awal. Datar dan penuh kilatan amarah.
"Lo cewek gue! Gue berhak nyuruh lo pulang!" tekan Gala.
"Tapi Riri lagi main sama Bang Danis! Bang Danis itu abangnya Riri! Emangnya Riri salah kalo keluar sama Bang Danis?!" bantah Riri menggebu-gebu.
Riri sedikit mendorong tubuh Gala hingga cekalan tangan cowok itu sedikit mengendur. "Gala pulang aja! Katanya Gala gak mau peduli sama Riri? Kenapa sekarang ikut campur?!"
"Bacot!"
Tanpa basa-basi lagi, Gala kembali menarik pergelangan tangan Riri. Kali ini tarikan Gala lebih kuat, hingga Riri tidak bisa melawan sedikitpun.
"Gala! Riri gak mau!"
"Riri gak mau!"
"Riri gak--" Riri mengatupkan bibirnya rapat-rapat, kala orang-orang menatapnya dengan tatapan aneh.
Sesampainya di parkiran mobil, Riri kembali berusaha untuk.
pergi dari Gala. "Masuk!" titah Gala sambil menatap Riri tajam.
"Gak mau!" bantah Riri. "Lepasin atau Riri bakal teriak?!" ancam Riri berharap Gala takut dengan ancamannya.
Bukannya takut, Gala justru terkekeh remeh. "Nurut atau
Abang lo gue gebukin sampe mampus?" ancam Gala balik.
Kedua tangan Riri mengepal kuat. Sumpah demi apapun, Riri paling benci dengan sikap Gala yang seperti sekarang. Gala memang baik, namun jika sudah marah, cowok itu benar-benar berbeda. Gala akan menunjukkan sisi lain dari dirinya.
....
.
Bersambung
.
Huhuuuu rumitttt bestieee seperti cintaku pada Alan yang terhalang oleh dimensi yang berbeda❤️❤️🤣💖😁🥰💯💯
Pesan buat Riri?
Pesan buat Gala!
Pesan buat Agam?
Pesan buat Karisa (ibu Agam)?
Pesan buat Azri (ayah Agam)?
Pesan buat Asti, bunda pantinya Amora?
Pesan buat siapa aja?
Pesan buat author juga boleh:
-
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
Spam datang pake emoji :
__ADS_1