CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
63. Rumah Merry


__ADS_3

Sementara itu, Riri yang sejak tadi berusaha melarikan diri dengan masuk ke dalam gang-gang kecil di sekitar situ, masih belum menemukan tempat persembunyian yang aman. Ia sengaja memilih masuk ke dalam gang kecil, agar mobil Virgo tidak bisa masuk untuk mengejar dirinya.


"Auh!" Jerit Riri Riri saat kakinya tersandung pinggiran aspal. Riri hampir saja terjatuh kalau tidak ada seseorang yang memegangi lengannya.


"Hati-hati," ucap wanita paruh baya yang mengenakan dress hitam selutut serta masker yang warnanya senada dengan dress-nya.


Menatap orang di hadapannya, Riri mengerjapkan kedua matanya polos. Membuat seseorang itu, mendengus pelan.


"Ngapain kamu bengong? Kalo jalan itu hati-hati. Ini


aspal, bukan kasur yang empuk. Kalo jatuh kamu bisa luka."


Wanita paruh baya itu menatap Riri dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lagian masih pake seragam sekolah, bukannya pulang malah keluyuran sampe sini. Mau ngapain kamu?"


Riri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Riri gak tau.


Tadi Riri kabur. Soalnya Riri mau diculik," jawabnya jujur.


"Diculik?" Ucap wanita itu kaget. "Terus mana penculiknya sekarang?" Riri menggeleng tidak tahu.


"Rumah kamu di mana?"


"Di rumah, kan gak bisa Riri bawa," jawab Riri polos.


Wanita itu menghela napas lelah. Sepertinya gadis di


Depannya ini memang benar-benar gadis yang polos.


Tidak seperti remaja lain seusianya. Pantas saja jika tadi


akan diculik oleh orang.


"Maksudnya di daerah mana?"


"Em, Riri boleh pinjem hape Ibu aja, gak?


Riri mau telfon, biar dijemput."


"Ibu-ibu, saya bukan Ibu kamu. Panggil saya Tante Merry."


Riri mengangguk. "Iya, Tante Merry."


"Ayok ikut, hape saya ada di rumah. Gak saya bawa."


Riri tetap diam di tempat semula saat Merry sudah melangkahkan kakinya.


Merasa aneh, Merry kembali menoleh ke belakang.


"Malah bengong. Kamu niat pinjem hape saya apa


enggak?" Tanya Merry cukup ketus.


"I-iya Tante," angguk Riri takut-takut.


"Gak usah takut. Saya gak bakal jual anak ingusan kaya kamu. Yang ada saya malah repot sendiri. Ini saya pake masker karena saya lagi sakit bukan karena jadi penculik."


"Ayo!" Merry mengandeng tangan Riri. Mereka


berdua terus berjalan melewati gang demi gang sempit.


Di sepanjang perjalanan yang Riri sendiri tidak tahu kemana tujuan mereka, Riri merasa sedikit risih saat orang-orang menatapnya dengan tatapan 'heran'.


Gang-gang sempit yang Riri lewati ini, di isi oleh rumah-rumah kecil yang saling berdempetan satu sama lain. Dari tembok satu ke tembok lainnya, mereka saling menyatu. Bahkan lebih mirip seperti kamar-kamar yang saling berjejeran dibanding

__ADS_1


rumah.


Hal yang membuat Riri merasa semakin aneh adalah,


sejak tadi, yang Riri lihat hanya orang-orang dewasa yang didominasi oleh perempuan. Riri sama sekali tidak melihat adanya anak-anak, atau remaja seusianya yang biasanya banyak berseliweran di gang perkampungan seperti ini.


Rasanya, Riri seperti menjadi mahkluk asing yang


memasuki dimensi lain saat mereka terus menatap Riri lalu saling berbisik satu sama lain.


"Gak usah takut, mereka orang, bukan hantu,"ucap Merry peka.


Riri menunduk, gadis itu tidak berani bertanya dan


berbicara apa-apa hingga mereka sampai di suatu tempat. Rumah Merry.


"Duduk dulu, saya ambil hape di dalem," ucapnya


mengarahkan dagu ke kursi yang tersedia di teras.


Sambil menunggu Merry mengambil ponsel ke dalam rumah, Riri sibuk memerhatikan tempat di sekitarnya. Rumah yang ia pijak sekarang, kecil, sama persis seperti rumah-rumah yang sudah ia lewati tadi. Bahkan sama juga dengan rumah yang ada di sebelah dan di depan rumah itu.


"Hai cantik," sapa seorang pria dewasa yang membuat


Riri terkejut bukan main. Spontan Riri langsung berdiri dan menjauh karena merasa pria itu menakutkan.


"Jangan macem-macem!" Merry keluar dengan membawa ponsel. Wanita itu langsung berdiri di samping Riri.


"Dia baru?" Tanya pria itu sedikit berbisik pada Merry.


Merry berdecak kasar. "Lo udah kakek-kakek bangkotan,


gak usah aneh-aneh. Dia masih kecil."


"Gak usah banyak nanya. Tuh si Ana udah nunggu lo


di dalem."


Pria itu tersenyum nakal. Lalu mengerlingkan satu


matanya pada Riri sebelum masuk ke dalam rumah.


Merry menghela napas. "Gak usah takut. Saya emang


bukan orang baik. Tapi saya masih punya rasa kasihan


buat gak macem-macemin anak ingusan kaya kamu."


"Nih, cepet hubungin keluarga atau temen kamu. Biar gak kelamaan di sini. Ngrepotin saya aja," ucap Merry sembari menyodorkan ponselnya ke Riri.


******


Bugh


Bugh


Bugh


"Anjin- lo!" Umpat Gala. "Sampe cewek gue


kenapa-kenapa, lo orang pertama yang gue cari!" Gala, Alan, Ilham dan Akbar pergi meninggalkan markas Virgo dan kedua antek-anteknya setelah menghajar mereka habis-habisan.


Meski belakang kepala Gala masih terasa sakit karena

__ADS_1


tadi Virgo sempat memukul kepalanya dengan kayu balok. Gala tetap berusaha untuk merasa baik-baik saja sampai dirinya bisa menemukan Riri.


"Gimana, Gal? Kata Virgo, tadi Riri kabur waktu mereka nyampe mana?" Tanya Alan.


"Di---"


Drttt....drtt...drttt...


Belum sempat Gala menjawab. Tiba-tiba ponsel milik


Gala berdering. Ada panggilan masuk dari nomor baru


yang membuat Gala mengernyit bingung.


Akbar bertanya ikut penasaran. Pasalnya Gala tidak langsung mengangkat telfon itu. "Siapa Gal?"


Gala mengedikkan bahu. "Gak tau. Nomor baru."


"Angkat aja. Siapa tau penting dan berhubungan sama Riri," kata Alan menyarankan.


Ilham mengangguk setuju. "Hooh, bener Bos. Angkat aja."


"Halo?"


"GALAAAAA!!!!"


Spontan Gala langsung menjauhkan ponselnya dari


telinga begitu suara cempreng Riri terdengar menggelegar dari seberang sana.


"Lo di mana?!" Tanya Gala tanpa basa-basi.


"Riri gak tau. Gala jemput Riri ya!"


"Hem, cepet bilang lo di mana, Riri!" Balas Gala sedikit emosi. "Gimana gue bisa jemput lo, kalo gue aja gak tau lo ada di mana!"


Gala hanya takut Riri akan kenapa-kenapa jika ia telat menjemputnya. Maka dari itu Gala ingin cepat-cepat mengetahui di mana keberadaan Riri.


"Nanti Riri shareloc. Riri-"


"Cepet shareloc sekarang! Gak usah banyak bacot!"


"Riri-"


Gala mengacak rambutnya frustasi saat Riri tak kunjung membagikan lokasi di mana gadis itu. berada sekarang.


"Arrgggh! Cepet, Ri! Gue itu khawatir banget sama lo!"


"Udah, ih! Gala jangan marah-marah dong!"


Saat melihat Riri telah mengirimkan lokasinya,


Gala buru-buru menutup telfon.


"Gak usah kemana-mana! Tunggu gue!"


Pesan terakhir Gala pada Riri.


"Gimana Gal?"


Gala menatap Alan. "Gue udah tau di mana Riri.


Kalian balik ke markas aja. Obatin luka-luka kalian.

__ADS_1


Biar gue jemput Riri sendirian."


__ADS_2