
"Untung kamu cepat ke sini, Gal. Jadi bisa langsung saya obati. Kalau enggak, luka di kepala kamu ini bisa infeksi serius," ucap seorang dokter wanita setelah mengobati luka
di bagian belakang kepala Gala.
"Bagian belakang kepala kamu berdarah. Langsung obatin.
Itu bisa menimbulkan infeksi yang serius."
Mendengar penuturan sang dokter, Gala jadi teringat dengan ucapan wanita yang tadi menolong Riri. Entah kenapa, Gala merasa sangat penasaran dengan wajah wanita yang tadi tertutup rapat oleh masker hitam itu. Gala merasa aneh saat menatap matanya. Seperti...
"Kamu masih sering berantem?"
Gala membuyarkan lamunannya lalu spontan
menggeleng untuk menjawab pertanyaan sang dokter.
Jawaban Gala yang terlalu ambigu itu membuat dahi
dokter yang duduk di hadapan Gala, mengernyit tak paham.
"Gak pernah?"
"Gak sering," koreksi Gala dengan wajah santai.
Dokter bernama Liana itu menggeleng heran.
Ia sudah cukup mengenal Gala, karena dulu, Liana pernah menjadi dokter pribadi keluarga Abraham. Jadi, Liana cukup tahu bagaimana seluk beluk kehidupan Gala.
"Kamu tahun ini lulus SMA, kan? Kurang-kurangi hal-hal kaya gitu. Fokus ke masa depan kamu. Buat ayah kamu bangga."
Gala mengangguk. "Iya."
"Ini obat yang harus kamu tebus. Nanti kalo lukanya
masih nyeri dan ngeluarin darah. Datang ke sini lagi, ya."
Gala menerima selembar kertas berisi resep obat
yang harus ia tebus. "Makasih, Dok. Saya permisi."
"Gala," panggil Liana membuat Gala mengurungkan
niatnya untuk membuka pintu.
Gala menoleh ke belakang. "Iya?"
"Kamu masih sering mengkonsumsi obat itu?"
"Obat itu?"
"Obat anti-depresan."
Gala terdiam sejenak. Bagaimana bisa Liana tahu akan
hal itu? Selama ini yang tahu hanya Anita-almarhumah mama tirinya-dan Alan. Bahkan. papanya saja, tidak tahu akan hal itu hingga beliau meninggal.
__ADS_1
Menyadari raut kebingungan di wajah Gala. Liana buru-buru menjelaskan. "Saya tahu dari almarhumah mama sambung kamu, Bu Anita. Tiga hari sebelum berangkat ke Singapura dan terjadi kecelakaan itu, beliau menceritakan semua pada saya."
.......
Di sepanjang koridor rumah sakit, Gala berjalan sambil memikirkan apa yang Liana ucapkan tadi. Gala tidak paham, kenapa bisa Anita menceritakan penyakit gangguan mentalnya pada dokter Liana? Apa memang sedekat itu Anita dan Liana?
Entahlah, Gala pusing jika harus memikirkan hal itu.
"Itu...?"
Dari kejauhan, Gala bisa melihat seseorang yang wajahnya tidak asing. Seorang wanita dengan dress berwarna coklat muda itu berjalan keluar dari area rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa. Karena takut kehilangan jejak, Gala buru-buru mengejarnya.
Namun sayang, tepat saat Gala sampai di area parkiran,
Gala tidak lagi menemukan keberadaan seseorang itu. Seseorang yang terlihat cukup mirip dengan foto ibu kandung Gala yang saat ini sedang Gala cari-cari.
Gala menghela napas kesal karena langkahnya tadi kurang cepat hingga harus kehilangan jejak.
"Gal!"
Gala menoleh terkejut mendapati Digo dan Arjun-dua orang yang membantu Virgo menculik Riri-berdiri di hadapannya dengan bantuan teman-temannya.
"Kenapa?" Tanya Gala dengan ekspresi tidak santai.
Apa dua cowok itu belum puas ia buat babak belur?
Untung saja Gala masih berbaik hati, hanya menghajar mereka. Tidak sampai melaporkan mereka ke kantor polisi atas kasus penculikan.
"Kurang? Mau gue haj--"
"Gak-gak, Gal! Kita berdua mau minta maaf. Gak lagi-lagi
Digo yang wajahnya babak belur paling parah ikut menambahkan. "Iya, gue juga minta maaf. Lain kali kalo
ada apa-apa antara cewek lo dan Virgo, itu udah gak ada hubungannya sama kita."
Gala menatap mereka berdua ragu. "Gue pegang omongan lo berdua."
"Gal! Gal!" Panggil Digo saat Gala hendak pergi.
Gala, cowok itu sebenarnya malas untuk kembali menoleh ke belakang, tapi karena penasaran, Gala tetap melakukannya.
"Apa?" Tanya Gala sembari menoleh.
"Em-"Digo terlihat ragu untuk mengucapkan sesuatu.
Namun jika tidak ia tanyakan sekarang, dirinya pasti akan dilanda rasa penasaran hingga seumur hidup.
Gala menatap Digo kesal.
"Hem, cepat! Gue gak ada waktu!"
"Itu, Gal, anu. Cewek lo, Riri, em--"
Seketika ekspresi wajah Gala langsung terlihat seperti
__ADS_1
orang marah. Ia tidak suka jika ada cowok lain membicarakan tentang Riri.
"Kenapa?!"
Gala mendekati Virgo. Gala juga hendak mencengkram
kerah baju Digo jika saja teman-teman Digo dan Arjun tak menghalangi Gala.
"Kenapa bangsat?!"
Digo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aduh, jangan marah-marah, Gal. Gue cuma mau nanya. Cewek lo beneran keturunan penyihir?"
******
"Namira Anzani."
Gala membaca nama yang tertera di buku nikah, papa dan ibu kandungnya. Gala baru saja menemukan buku nikah itu di laci kamar Abraham. Sebenarnya, sudah sejak lama Gala berusaha mencari buku pernikahan itu sebagai informasi tambahan untuk mencari keberadaan ibu kandungnya, namun baru hari ini Gala menyempatkan diri datang ke rumah papanya.
Semenjak Abraham dan Anita meninggal, rumah itu memang dibiarkan kosong. Hanya ditempati oleh asisten rumah tangga dan satpam penjaga rumah yang sudah sejak lama bekerja di sana.
Gala sendiri memang sengaja tidak mau tinggal di rumah itu. Bukannya apa, menurut Gala, rumah papanya terlalu besar, sementara ia hanya tinggal seorang diri. Maka dari itu, Gala tetap memilih tinggal di apartemen pemberian almarhum kakeknya yang sudah ia tempat sejak kelas satu SMA.
"Maaf, Den, itu hapenya yang ada di ruang tengah bunyi terus."
Gala membuyarkan lamunannya. "Oh, iya, Bi. Makasih, ya."
Setelah memasukkan buku nikah ke saku jaket, Gala segera meninggalkan kamar Abraham. Cowok itu menuju ke ruang tengah untuk melihat siapa yang menelfon nya hingga berkali-kali.
"Hem, bocil jamet."
"Paan?" Tanya Gala begitu panggilannya terhubung dengan Riri.
"Om! Om! Culik aku dong!"
"Hem!" Decak Gala tidak suka. Lagi-lagi Riri menyanyikan
lagu yang membuat telinganya terasa sakit.
"Berhenti nyanyi lagu sialan itu atau gue matiin nih telfon lo?!" Ancam Gala kesal.
Riri mendengkus sebal. "Ih! Kata Ilham, Gala suka lagu itu, cuma Gala gengsi buat ngaku. Ilham pasti gak bohong. Gala beneran suka banget sama lagu itu, kan?"
"Bohong!" Bantah Gala cepat. "Lagian omongan Jenglot
lo percaya. Udah jangan bahas dia. Panas telinga gue."
"Gala, Riri bosen. Mau jalan-jalan."
"Gak, gue males. Gue ke rumah lo aja.
Tapi gak usah jalan-jalan."
"Gala ih! Riri maunya jalan-jalan!"
"Gak bisa, entar sore gue ada urusan. Kalo jalan-jalan sekarang, gak bakal keburu. Jadi gue main ke rumah lo aja. Bentar."
__ADS_1
"Ya udah jangan ke rumah Riri sekalian!"
"Oke."