CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Itulah Nama-nama Burung


__ADS_3

"Ya Tuhan! Lo ngapain di sini?!"


Gala merasa jantungnya hampir copot saat hampir menabrak Riri yang tiba-tiba muncul di depannya dengan tangan bersidekap dada dan bibir mengerucut seperti bebek. Kalau boleh Gala tebak, Riri pasti sedang....ngambek.


"Gala kenapa ngasih dia permen?! Itukan permen buat Riri!"


Gala tersenyum jahil. "Lo cemburu, hm?"


"Gak!"


"Bocil gue ngambek, hm?" Tanya Gala sambil merangkul pundak Riri. Awalnya Riri sempat memberontak tapi karena merasa percuma karena tenaga Gala sudah pasti lebih kuat, akhirnya Riri diam saja. Membiarkan tangan Gala tetap melingkar di pundaknya.


Gala terkekeh gemas lalu mencuri satu kecupan di pipi kiri Riri.


Cup


"Are you jealous, baby girl? Hm?"


*******


"Soal perusahaan bokap lo, biar gue yang handle. Tapi bukan berarti lo lepas tanggung jawab gitu aja. Nanti kalo lo udah lulus sekolah dan udah siap, perusahaan sepenuhnya akan jadi tanggung jawab lo."


Gala mendengus tidak suka. "Gila lo."


Mendengar jawaban Gala, Agam berdecak pelan. "Lo satu-satunya pewaris perusahaan bokap lo, Gal. Siapa lagi yang bakal ngurusin bisnis bokap lo, kalo bukan lo?"


"Gue masih pengen nikmatin masa muda. Lulus sekolah, gue mau kuliah dulu."


"Lo bisa kuliah sambil ngantor. Tinggal lo sesuaiin aja jadwal kuliah sama jadwal masuk kerja."


Gala melongo mendengar jawaban Agam yang terlampau santai. "Jadi hidup gue cuma buat kuliah sama kerja gitu? Gak ada seneng-senengnya? Gila aja."


"Lo mau seneng-seneng kaya gimana? Nongkrong sama temen-temen geng motor lo itu? Apa faedahnya gue tanya?"


"Hem! Lo gak bakal ngerti!"


"Makanya jelasin ke gue, mau lo apa?" Agam mendengus. Adik sepupunya ini memang benar-benar sulit dimengerti.


"Ya gue gak mau ngabisin masa muda gue cuma buat kuliah sama kerja doang. Gue juga pengen ngerasain seneng-seneng." Gala menatap Agam datar lalu menghembuskan napas kasar. "Yang ada gue bakal mati muda tanpa menikmati warisan dari bokap gue."


"Lo pengen nikah sama Riri kan?" Tanya Agam


setelah mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.

__ADS_1


Kepala Gala mengangguk cepat. Mana mungkin ia tidak mau menikah dengan Riri. Gila saja. "Ya mau lah, aneh pertanyaan lo!" Semprot Gala ketus.


"Setelah lulus sekolah lo bisa kuliah sambil kerja. Lagian gue gak bakal ngelepasin lo gitu aja. Lo bakal jadi karyawan biasa dulu sambil pelan-pelan belajar. Seperti apa yang gue bilang tadi, kalo lo udah siap, baru tanggung jawab perusahaan akan gue pasrahin ke lo sepenuhnya."


"Terus apa hubungannya gue nikah sama Riri?" Gala benar-benar tidak paham dengan arah pembicaraan Agam yang terlalu berbelit-belit.


"Orang tua Riri bakal lebih cepat ngerestuin kalian, kalo lo udah kelihatan bisa mandiri. Dengan kerja, secara gak langsung lo buktiin ke mereka kalo lo bisa tanggung jawab sama Riri nantinya."


"Hem, gak kerja sekalipun, gue tetep banyak uang.'


"Lo gak bisa kaya gini terus, Gal." Agam menggeleng heran saat tak mendapat respon apapun dari Gala. Sekarang, cowok itu justru merebahkan tubuhnya di sofa tanpa rasa bersalah sedikitpun. Menganggap seolah pembicaraan Agam tadi tidak terlalu penting untuk didengarkan.


"Gue bisa aja buat lo sama Riri nikah cepet.


Tepat setelah lulus SMA. Kalo itu yang lo mau."


Karena tertarik mendengar penawaran Agam, dengan semangat empat lima, Gala mengubah posisi tidurannya menjadi duduk tegap menghadap ke Agam. Wajahnya tampak begitu serius. Gala tidak sabar ingin mendengar apa yang akan Agam katakan selanjutnya.


"Gimana caranya?"


Agam tersenyum penuh arti. Ia yakin cara ini memang akan berhasil membuat Gala berubah pikiran. Dan sekarang hal itu terbukti.


"Gue bakal bantu, asal lo mau nurut apa kata gue.


"Hem. Demi nikah cepet sama Riri," jawab Gala tanpa berpikir panjang. Yang terpenting ia dan Riri bisa nikah secepatnya. Kalau perlu besok juga tidak apa-apa.


Agam mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalo lo ingkar janji, gue juga bakal batalin janji gue."


"Y."


******


"Burung gagak, burung elang. Burung camar, burung cendrawasih."


"Cakep!" Sahut Akbar sembari menyantap mie goreng dan nasi-makanan favoritnya-di WBS.


"Itulah nama burung-burung," lanjut Ilham terpingkal. Merasa senang karena telah berhasil menjebak Akbar.


"Bangsul, gue kira mau pantun."


"Hai abang Alan," sapa Ilham tengil begitu Alan dan Gala datang. Mereka berdua langsung gabung di meja yang Ilham dan Akbar tempati.


"Ck!" Alan menyingkirkan tangan Ilham yang hendak menoel dagunya.

__ADS_1


"Galaaa!!!"


Baru saja Gala ingin pergi memesan mie ke Mbok-pemilik WBS-namun teriakan dari Riri itu menggagalkan niatnya.


"Gal, bocil lo noh," tunjuk Akbar memberitahu.


Berdecak, Gala berjalan menghampiri Riri yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Kenapa?" Tanya Gala saat Riri sudah berdiri tepat di hadapannya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


"Ck, lo ngapain nyamperin gue ke sini?!" Tanya Gala mulai kesal. "Gue udah bilang berapa kali, kalo ada apa-apa telfon aja. Jangan main nyamperin."


"Kalem bos!" Teriak Ilham.


Jarak antara Gala dan Riri berdiri dengan tempat duduk Ilham sekarang memang agak jauh. Namun karena intonasi nada bicara Gala cukup tinggi, tidak heran jika Ilham, Alan dan Akbar bisa mendengar suara Gala. Meski samar-samar.


"Kalo ditanya itu jawab."


Riri mendongak dengan tangan saling bertautan karena takut mendengar suara Gala yang penuh penekanan. "Uang Riri ilang. Riri gak bisa jajan di kantin," aku Riri sedih.


Gala menyugar rambutnya ke belakang. Ternyata hanya itu yang ingin Riri sampaikan. Ia pikir ada masalah besar. "Ya Tuhan. Kok bisa? Emang lo naroh uangnya di mana?"


"Gatau ih, Riri lupa! Pokonya uang Riri ilang!"


"Terus?"


Karena kesal melihat Gala tidak peka, Riri menghentakkan kakinya di lantai. "Ih! Riri gak bisa jajan! Riri mau pinjem uang ke Gala. Riri gak enak kalo minjem ke Nen Nen sama Choli."


"Berapa uang lo yang ilang?"


"Kalem bos!" Teriak Ilham.


Jarak antara Gala dan Riri berdiri dengan tempat duduk Ilham sekarang memang agak jauh. Namun karena intonasi nada bicara Gala cukup tinggi, tidak heran jika Ilham, Alan dan Akbar bisa mendengar suara Gala. Meski samar-samar.


"Kalo ditanya itu jawab."


Riri mendongak dengan tangan saling bertautan karena takut mendengar suara Gala yang penuh penekanan. "Uang Riri ilang. Riri gak bisa jajan di kantin," aku Riri sedih.


Gala menyugar rambutnya ke belakang. Ternyata hanya itu yang ingin Riri sampaikan. Ia pikir ada masalah besar. "Ya Tuhan. Kok bisa? Emang lo naroh uangnya di mana?"


"Gatau ih, Riri lupa! Pokonya uang Riri ilang!"


"Terus?"

__ADS_1


__ADS_2