
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
"Ada yang lupa."
"Apa?"
Gala merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum tipis. "Belum minta bocil gue buat peluk gue. Sini, peluk gue dulu."
"Ini gue semua yang harus kerjain?!"
Agam mengangguk. "Ini gak seberapa. Kalo lo bener-bener udah masuk ke dunia kerja, ini semua gak ada apa-apanya sama hal-hal yang harus lo tanggung nantinya."
"hek, bisa gila gue."
Agam terkekeh. "Lo terlalu banyak ngeluh sebelum mencoba.
Buktinya kemarin bisa selesai, kan?"
"Selesai sih selesai. Tapi gue gak tidur. Gak ngapel pula." Agam menepuk-nepuk pundak Gala. "Nikmatin aja karena
setelah ini tanggung jawab lo bakal lebih besar.
Em, minggu ini lo udah minum obat berapa kali?"
Gala terdiam sejenak. Sejak perdebatannya dengan Agam malam itu yang membuat dirinya sampai jatuh pingsan, Agam dan kedua orang tuanya memang telah mengetahui kondisi mental Gala yang selama ini sedikit bermasalah.
Malam itu salah satu dokter menyarankan agar Gala juga dibawa ke psikiater. Dari situlah semua hal yang Gala rahasiakan akhirnya terbongkar. Ya, sekarang mereka tahu kenapa Gala tidak bisa lepas dari Riri barang sedetikpun. Itu semua karena Gala mengidap Obsessive love disorder (OLD). Suatu keadaan di mana Gala menjadi terobsesi dengan orange yang sangat dia cintai.
"Tiga kali."
Agam mengangguk-anggukan kepala. Ia tahu, tidak mudah bagi Gala untuk lepas dari obat itu. Namun setidaknya, sekarang, ia dan kedua orang tuanya sudah mengetahui apa masalah Gala dan perlahan-lahan mereka berusaha membantu Gala untuk bangkit dari hal itu.
"Gue balik. Kalo ada kesulitan bisa tanya gue langsung."
"Emang lo bakal bantu?"
"Gue ketawain."
__ADS_1
"Bangs*t!"
Gala mengacak-acak rambutnya kesal setelah kepergian Agam dari apartemennya. "Shitt! Kenapa yang ada di otak gue bocil mulu sih?! Arrrrggghhh!!!"
Gala mengambil ponselnya lalu menatap foto mungil Riri yang ia jadikan wallpaper.
"Gemes banget, pengen gigit," kekeh Gala. Sedetik kemudian ekspresi girang Gala berubah menjadi masam begitu melihat notif pesan masuk dari seseorang.
Amora
Kak Gala, Bunda sakit. Kata Bunda, dia pengen ketemu Kak Gala.
"Bodo amat anj*ng!"
....
"Itu foto kakaknya Bunda."
Gala sedikit terkejut karena tiba-tiba Amora muncul di belakangnya. Padahal beberapa menit yang lalu gadis itu pamit ke dapur untuk membuatkan Gala minuman. Sebelum menyahuti ucapan Amora, Gala terdiam untuk beberapa saat. Gala menatap Amora dengan tatapan penuh tanya. Entah kenapa ia sedikit tertarik untuk mempertanyakan hal ini. "Kakaknya Bunda Asti? Kakak kandung?"
Amora mengangguk pelan. Meletakkan satu gelas teh hangat yang ia buat untuk Gala di atas meja lalu kembali berdiri di hadapan Gala. "Iya, tapi wajahnya emang gak mirip sama Bunda. Beda jauh."
Mendengar penjelasan dari Amora, Gala kembali memerhatikan bingkai foto yang sejak tadi ia pegang. Wajah perempuan yang berdiri di samping Asti memang tidak bisa ia lihat dengan jelas, karena fotonya sudah rusak. Namun dari perawakannya, entah kenapa Gala merasa tidak asing. Seperti pernah bertemu?
"Mana Dio?" jawab Gala seolah tidak menghiraukan
permintaan Amora barusan.
Menghela napas, Amora mencoba tersenyum tipis. Gadis enam belas tahun itu berusaha terlihat baik-baik saja meski sebenarnya merasa sangat sedih karena Gala selalu saja acuh tak acuh dengan dirinya.
"Kak Dio masih keluar. Beliin Bunda obat ke apotek. Bunda gak mau minum obat yang dikasih Dokter tadi pa--"
Drttt....drttt...drtt...
Suara getaran ponsel membuat Gala cepat-cepat mengambil ponselnya di dalam saku jaket. Hal itu juga spontan membuat ucapan Amora terpotong begitu saja.
"--gi," lanjut Amora lirih. Sementara Gala sudah fokus dengan ponselnya.
"Tumben nih setan telfon gue malem-malem gini," heran Gala melihat nama Dewa tertera di layar ponselnya. Tumben sekali cowok itu tiba-tiba menghubungi dirinya selarut ini. Perasaan Gala jadi tidak enak.
"Riri sama lo?"
Dahi Gala mengernyit bingung. Jangankan bertemu, sejak tadi pagi ia sama sekali belum menelfon ataupun mengirim pesan pada Riri.
"Enggak. Gue belum ketemu Riri dari pagi."
__ADS_1
"Bangs*t," umpat Dewa terdengar frustasi. "Riri ngilang."
"Anjing!" umpat Gala. Ternyata benar firasatnya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres sampai Dewa mau menghubungi dirinya.
Gala mematikan dan kembali mengantongi ponselnya ke saku jaket tanpa mendengarkan penjelasan dari Dewa lebih lanjut. Tidak ada lagi waktu untuk mendengarkan hal lain. Secepat mungkin ia harus mencari keberadaan Riri. Sebelum terjadi hal buruk pada gadis itu.
"Kak Gala mau ke man--"
"Gue harus balik."
Amora memegang lengan Gala. "Tapi Kak, Bunda kan tadi udah pesen, Kak Gala disuruh di sini dulu. Lagi pula Kak Dio juga belum pulang."
"Kak Gala pulangnya nunggu Kak Dio dulu, ya," bujuk Amora
dengan wajah memelas..
Gala menyugar rambutnya ke belakang setelah menyingkirkan tangan Amora dari lengannya. Demi apapun jika urusannya sudah menyangkut mengenai Riri, Gala tidak bisa menunda lagi. Bagi Gala, Riri lebih penting dari segalanya. Bahkan dari dirinya sendiri.
Kalau tadi bukan karena Dio yang meminta bahkan sampai memohon pada dirinya agar mau datang ke panti asuhan untuk menjenguk Asti yang sedang sakit, Gala tidak akan ada di panti asuhan sekarang. Pasalnya kemarin saja ia sengaja tidak memedulikan pesan dari Amora yang memintanya datang ke panti asuhan.
....
Bersambung
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Dio?
Pesan buat Amora?
Pesan buat Agam?
Pesan buat Asti?
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1