
"Tuh bocil bawa pergi. Gangguin kucing gue mulu," tunjuk Dewa ke Riri.
"Ih! Kolor Ijo yang mulai duluan!" Protes Riri tidak terima. Enak saja hanya dirinya yang disalahkan. Padahal Kolor Ijo juga bersalah. Ini tidak adil!
"Ayo ikut gue jalan-jalan. Ntar gue beliin es krim."
Mata Riri berbinar mendengar ajakan Danis. Seolah ia langsung melupakan rasa kesalnya pada Kolor Ijo hanya dengan mendengar kata es krim yang Danis janjikan.
"Beneran?"
"Hem, ayo."
Danis menghela napas pelan. Untuk saat ini, satu-satunya cara membuat Riri mau ikut pergi dengannya ya dengan menjanjikan es krim. Kalau
tidak begini, Riri akan tetap kekeh tidak mau mengalah dari Kolor Ijo.
Urusan Riri akan sakit tenggorokan karena kebanyakan makan es krim, itu urusan nanti. Yang terpenting, telinga Danis tidak panas lagi karena mendengar pertengkaran unfaedah antara Riri dan Kolor Ijo seperti tadi.
"Tapi bang Danis gak boleh boong!"
"Iya, gue janji."
Sebelum tangannya ditarik pergi oleh Danis, Riri menyempatkan untuk mengacungkan jari tengahnya ke arah Kolor Ijo. Membuat kucing itu mengeong marah.
"MEEEEOOONG!!!"
*****
"Mau apa lagi?"
Danis tersenyum gemas melihat Riri memakan
jajanan yang ia belikan di pedagang kaki lima dengan begitu lahap.
Saat ini mereka sedang menikmati sore menjelang malam di taman dekat rumah. Sesuai dengan janji Danis yang katanya akan mengajak Riri jalan-jalan tadi.
Suasana di sini cukup ramai, karena pada jam-jam seperti sekarang banyak orang-orang yang sengaja menghabiskan waktu untuk quality time bersama keluarga di taman ini.
"Es krim."
Danis menghela napas. Ia pikir Riri sudah lupa
dengan keinginan yang satu itu setelah ia belikan berbagai macam makanan seperti, cilok, cilor, somay, telur gulung, seblak dan masih banyak lagi. Tapi ternyata Riri masih ingat. Ya, Riri tetaplah Riri.
"Oke, satu aja. Mau yang rasa apa?"
"Eumm, stroberi boleh?"
__ADS_1
"Boleh," angguk Danis. "Tunggu di sini aja.
Abang beli yang di sebelah sana."
Danis menunjuk ke arah pedagang es krim yang biasanya keliling menggunakan motor. Namun setiap sore, pedagang es krim itu pasti akan mangkal di taman ini. Danis sudah cukup kenal, karena beberapa kali ia sempat membelikan Riri es krim di sana.
"Jangan lama-lama," pesan Riri langsung diangguki
oleh Danis.
Sambil menunggu Danis datang, Riri mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut taman. Menyaksikan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Namun tiba-tiba mata Riri terfokus pada satu objek yang tidak asing baginya.
"I-itu Gala?" Monolog Riri. "Kok sama cewek?"
Entahlah, rasa sesak tiba-tiba memenuhi sudut dada Riri begitu melihat Gala berjalan berdampingan dengan cewek lain. Meski Riri bisa melihat dengan jelas jika saat ini Gala sengaja menjaga jarak yang cukup jauh dari cewek di sampingnya itu, namun tetap saja Riri tidak rela. Sangat tidak rela.
"Kesel! Riri lagi marah bukannya dibujuk tapi
malah ditinggal sama cewek lain!"
"Nih."
Riri terlonjak kaget saat Danis menempelkan es krim yang masih terbalut kemasan ke pipinya.
"Bang Danis ngagetin!"
"Gak ada."
"Ya udah nih makan es krimnya. Abang mau ke toilet bentar."
"Iya," angguk Riri. "Jangan lama."
Selepas kepergian Danis, Riri belum berniat membuka es krim di tangannya. Entahlah selera Riri untuk makan es krim tiba-tiba hilang begitu saja hanya karena melihat pemandangan tidak menyenangkan seperti tadi.
"Ih! Kesel!" Kaki Riri menendang-nendang ke udara. Meluapkan rasa kesalnya pada Gala yang membuat dadanya terasa sesak. "Gala jahat!"
"Awas aja ya!" "Riri bakal marah!"
"Riri bakal-auhhh!" Riri mengusap-usap kepalanya
yang tiba-tiba dijitak seseorang dari belakang.
"Gue yang harusnya marah sama lo! Dibilang jangan makan es krim, masih aja bandel!"
Riri menoleh, ia hafal betul itu suara siapa. "G-Gala?!"
Gala menyeringai tipis. "Bocil bandel enaknya gue apain, hem?"
__ADS_1
*****
"HUAAAA GALA NAKAL!"
"GALA JALAN SAMA AMORA HUAAA!!"
"GALA SELINGKUH!!!"
"RIRI MAU CERAI!!!"
Di sebelah Riri Gala mendengus pelan. Setelah mengantar Amora pulang ke panti, Gala langsung datang ke rumah Riri untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka sewaktu di taman tadi.
"Nikah dulu bego. Main cerai aja lo."
Tangisan Riri perlahan berhenti. Gadis itu mengusap kedua pipinya pelan. "Jadi kalo mau cerai harus nikah dulu?" Tanyanya disertai sesenggukan. Sementara Gala hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya udah ayo nikah biar kita bisa cerai,"
Ajak Riri seperti tanpa dosa.
Mata Gala membulat sempurna. "Enak aja habis nikah langsung cerai. Belom juga ibadah bareng."
"Sholat bareng?" Mata Riri mengerjap polos. Membiarkan sisa-sisa air matanya berjatuhan.
"Udah, udah, sini ingus lo."
Gala meminta Riri mendekat. Herannya meski kesal dengan Gala, gadis itu tetap menuruti ucapan Gala. Mendekat lalu ingusnya yang meler ke mana-mana bercampur air mata itu diusap lembut oleh Gala menggunakan kaos cowok itu. Tanpa rasa jijik atau geli sedikitpun Gala melakukannya dengan begitu telaten. Tampak seperti sudah terbiasa melakukan hal tersebut.
"Nangis mulu! Malu sama ingus lo yang meler ke mana-mana," cecar Gala. Sementara Riri masih diam tidak mau menanggapi.
"Lagian lo ngapain sih nangis-nangis gak jelas.
Kan tadi gue udah jelasin. Gue ketemu Amora di minimarket waktu gue mau beliin lo es krim. Makanya gue bisa bareng dia. Gue gak selingkuh."
"Tapi kenapa malah ke taman berdua?" Tanya Riri.
Ada rasa tidak terima yang begitu besar dari nada pertanyaannya.
Gala menatap Riri intens. "Jadi gini loh cil, tadi gue tuh mau ke sini buat minta maaf sama lo. Sebelum itu, gue pengen beliin lo es krim yang lo minta tadi pas di sekolah. Nah, waktu gue ke minimarket gue ketemu sama Amora, karena udah sore, gue kasihan sama dia. Gue pengen nganter dia pulang. Tapi karena takut es krim buat lo keburu leleh. Gue mau nganter es krim ke lo dulu. Eh waktu lewat taman, Amora katanya mau beliin adek pantinya permen kapas. Ya udah gue turun anterin dia cari itu."
Riri melipat kedua tangannya di depan dada. Menurutnya Gala tetap saja bersalah. "Gala kenapa
pake nganter-nganter dia pulang? Emangnya gak ada taksi? Gak ada angkot? Gak ada ojek? Gak ada-"
Gala meraup bibir Riri menggunakan satu tangan. "Bawel lo bocil!"
"Lo juga ngapain main ke taman sama Danis gak ijin ke gue dulu? Makan seblak, makan es krim. Enak banget ya?" Tanya Gala sinis.
__ADS_1