
Dio menatap Asti. "Kita duduk di sana, Bun," ajak Dio.
Wanita itu mengangguk, menurut. Gala pun ikut mereka, duduk di ruang tunggu. Sampai akhirnya Gala teringat janjinya pada Riri.
"Goblok!" Gala menepuk jidatnya sendiri.
Membuat Dio dan Asti menoleh bingung.
"Kenapa, Gal?" tanya Dio penasaran.
"Gue ada janji sama Riri. Gak papa kan, kalo gue tinggal dulu?"
Dio mengangguk cepat. Tentu saja tidak apa-apa. Gala mau menolong Amora hingga membawanya ke rumah sakit tepat waktu saja, sudah membuat Dio merasa sangat bersyukur. "Gak papa, Gal. Kan udah ada gue sama Bunda yang nungguin Amora."
"Ntar kasih tau gue ya, Yo, keadaan Amora gimana."
"Siap. Nanti gue kabarin lo."
"Bunda, saya mau pamit dulu."
Asti mengangguk pelan. "Sekali lagi terima kasih ya, nak Gala. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."
"Siap, Bunda," angguk Gala. "Yo, gue balik duluan."
"Yoi, hati-hati, Gal. Salam buat Riri."
"Sip."
"Gala keliatan sayang banget sama Riri," celetuk Asti tiba-tiba setelah kepergian Gala.
Dio menoleh pada Asti. "Emang, Bun. Gala cinta mati sama Riri. Gala rela ngelakuin apa aja demi Riri. Dio yang nyaksiin sendiri, gimana perjuangan Gala sama Riri dari dulu sampai di titik sekarang."
Dio menghela napas. "Dan semoga, gak ada orang yang tega
menghancurkan hubungan mereka."
Asti menatap Dio tak suka. "Kok kamu ngomongnya gitu, Yo? Emang ada orang yang berniat kaya gitu?"
Dio mengedikkan bahu santai. "Dio gak tau, Bun. Itukan cuma harapan Dio. Apa salahnya Dio mengharapkan sesuatu yang baik untuk orang baik kaya Gala?"
Asti mengalihkan tatapannya ke arah lain sambil menghela napas pelan. Entah kenapa ia merasa, Dio seperti sedang menyindir dirinya. "Semoga Amora baik-baik aja."
******
"Tunggu."
Wanita dengan dress dan masker hitam itu berhenti.
"Maaf, Tante yang pernah bantuin cewek saya,
Riri, waktu di gang-"
"Iya, ada apa?" jawab wanita itu tanpa menoleh ke belakang.
Gala mendekat membuat Merry spontan menjauh.
"Tante sakit? Kenapa pakai masker terus?"
Entahlah, tiba-tiba Gala ingin menanyakan hal itu pada
Merry. Padahal sebenarnya, Gala bukan tipe orang yang
suka kepo terhadap urusan orang lain. Bahkan Gala lebih
cenderung tidak peduli apa yang orang lain lakukan, selama
hal itu tidak berhubungan dengannya.
Merry menjawab tegas. "Itu bukan urusan kamu, Kita gak kenal. Jadi jangan ikut campur urusan saya. Urus sendiri urusan kamu."
"Maaf, saya cuma nanya aja. Maaf kalo saya gak sopan."
__ADS_1
"Tante, tunggu." Cegah Gala melihat Merry ingin pergi.
Merry menghela napas kesal. Ia terpaksa berhenti lagi.
"Ada apa lagi?!"
"Saya cuma mau ngasih ini, tadi waktu di lobby,
saya lihat kertas ini jatuh dari tas Tante."
Merry memutar tubuhnya, menghadap Gala. Merebut kertas yang Gala ulurkan dengan gerakan cepat. "Terima kasih," ucapnya kemudian langsung pergi dari area parkiran rumah sakit.
Gala menatap kepergian Merry sambil menggeleng heran.
"Sensi amat tuh Tante-Tante."
Gala mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Riri.
Gala : Sayang, belum tidur kan? Maaf gue telat. Gue otw ke sana sekarang.
Ting!
Gala tersenyum senang mendapatkan notif
balasan pesan dari Riri.
Riri : Gak usah ke sini. Gala tukang boong!
Gala : Nanti gue jelasin.
Riri : Gak mau!
Gala : Nanti gue cium.
Riri : Gak mau!
Gala : Gak mau kalo dikit? Oke, nanti gue cium
banyak-banyak. Sampe lo puas.
Gala : Kalo cewek, gak mau itu artinya mau,
gasssss ke rumah lo sekarang!
Riri : Enggaakkk!
Gala : Sayang
Gala : Sayang
Gala pun menyepam Riri dengan panggilan 'sayang' hingga puluhan kali sampai Riri mau membalasnya.
Riri : Jangan spam, nanti hape Riri lemot!
Gala : Lemot kaya otak bocil gue yang suka ngambek.
Tapi gue sayang. Cinta mampus sama dia.
Riri : Riri gak nanya!
Gala : Gue ngasih tau!
Gala : Ini foto sama bocil gue. Dia lucu kalo
lagi manja. Tapi serem kalo lagi ngambek.
Gala :
Gala : Tau gak, kenapa di poto itu leher gue ada merahnya?
__ADS_1
Riri : Gak mau tau!
Gala : Itu digigit sama bocil gue. Dia hobi gigit
leher gue, kaya vampir.
Riri : Ish! Itukan Gala yang minta!!!
Gala : Iya, soalnya enak.
Riri : Nyebelin!
Gala : Nanti gigit lagi ya, sayang?
Riri : Gakkkkk!!!
Gala : Ya udah gue aja yang gigit lo.
Gala melotot kaget, bukannya mendapat balasan, Riri justru memblokir kontaknya.
Gala mengacak rambutnya frustasi. "****! Berani banget nih bocil. Mana gue pengen beneran, arrrggghhh!"
Tidak lama kemudian, Gala yang berjalan menuju parkiran mobilnya dikejutkan oleh rasa nyeri di bagian leher. Saat ia pegang, ternyata ada satu semut besar yang menempel di leher cowok itu.
"Aaaa ****! Semut sialan! Gue pengen digigit Riri bukan digigit lo! Aarrrgghhh!!!"
Semalam Gala sudah menjelaskan pada Riri semua yang terjadi kemarin hingga dirinya telat datang ke rumah gadis itu. Untungnya, Riri mau mengerti meski tetap marah, sedikit.
Pagi ini Gala bersiap-siap akan ke rumah sakit. Menjenguk Amora yang tadi Dio kabarkan sudah sadarkan diri.
Belum sampai Gala memakai sepatunya, ponsel Gala berdering, membuat cowok itu mengernyit heran. Kira-kira siapa yang menelfon dirinya sepagi ini.
"Bocil jamet," ucapnya. "Tumben banget udah bangun. Semenjak lulus, dia kan kerjaannya molor."
"Kenapa?"
"Kenapa woi?" ulang Gala karena Riri hanya diam tak mengucapkan satu katapun.
"Hem, gue dikacangin. Gue matiin nih kalo lo diem aja," ancam Gala.
"Gala mau kemana?"
"Kemana-mana, kenapa?"
"Mau jenguk Amora, ya?" tebak Riri tepat sasaran.
"Kok lo udah bangun sih? Padahal gue mau nilap lo, biar gak rewel kalo tau gue bakal jenguk Amora."
"Tuh kannnnn!!!! Gala mau boongin Riri lagiii!!"
Gala mendengus. "Kan gak jadi. Lo udah keburu bangun dan tau. Ya udah gue ke rumah lo sekarang deh. Kita sarapan di luar bareng."
"Riri gak laper!"
"Gue gak nanya," jawab Gala santai. "Gue otw ya. Sana mandi, biar gak bau got kaya Kolor Ijo."
"IHHHHH RIRI GAK BAU GOT!"
"Iya, cuma kan lo mainnya sama Kolor Ijo terus,
jadi ketularan deh. Cepet mandi sana, Cil."
"Gak mauuu!!!"
Gala berdecak. Dari kemarin, gadis itu memang marah -marah terus. "Gak mau mulu. Ya udah, gue deh yang mandiin lo. Gimana sayang? Mau kan?"
"IH GALAAAA NYEBELIN!"
"Iya, i love you too, baby girl."
Tut. Gala mematikan sambungan telfon secara sepihak lalu menggeleng menahan kedutan senyum di bibirnya. Gadisnya itu memang selalu menggemaskan. Membuat Gala selalu kangen. Ingin bertemu lagi, lagi, lagi dan lagi.
__ADS_1
"Gue ke bocil dulu deh, daripada dia ngambek, rewel,
gue juga yang repot."