CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
98.Duduk Sambil Menundukkan Kepala


__ADS_3

Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.


.


Selamat membaca!


.


....


Emang lo dapet dari mana bubuk jamet--eh maksud gue bubuk jampi-jampi yang lo bilang tadi?" Kali ini Gala lumayan tertarik untuk bertanya hal tidak penting itu.


"Gue dapet dari bapak-bapak yang biasanya jualan minyak


wangi deket lampu merah depan."


"Jualan minyak wangi? Deket lampu merah?" tanya Akbar beruntun. "Mana ada anjir! Gue lewat berkali-kali gak ada tuh bapak-bapak penjual minyak wangi."


Akbar menatap Gala penasaran. "Lo tau, Gal?"


Gala hanya menggeleng sebagai jawaban. Karena ia memang belum pernah melihat bapak-bapak yang Ilham maksud meski dirinya sudah melewati lampu merah itu berkali-kali.


Ilham mulai menjelaskan. "Beneran ada, yelah. Ya kali gue bohongin kalian. Orang mobil gue tiba-tiba diketuk sama dia. Pas gue buka dia langsung minta tangan gue. Dia meramal percintaan gue dari telapak tangan gue dan apa yang dia bilang bener semua. Dia tau kalo sekarang gue lagi ngejar-ngejar satu cewek dan susah banget dapetinnya. Makanya dia langsung ngasih gue bubuk jampi-jampi semacam gula gitu. Katanya gue disuruh nyampurin bubuk jampi-jampi itu ke dalam minuman, biar cewek yang gue kejar, merespon gue balik."


"Itu orang gila."


Semua orang menoleh pada Alan dengan tatapan terkejut. Apalagi Ilham, jelas saja cowok itu tidak terima dengan tuduhan Alan yang sembarangan. Jelas-jelas itu bapak-bapak penjual minyak wangi. Bukan orang gila.


"Sembarangan lo, Lan," decak Ilham tidak suka. "Dia waras. Gak gila," belanya.


Alan menutup buku yang sejak tadi ia baca. Cowok itu membenarkan duduknya lalu menatap ketiga temannya bergantian. "Itu orang gila di komplek rumah gue yang udah diusir karena nyuri koleksi minyak wangi punya tetangga gue. Makanya dia pindah ke lampu merah depan sambil bawa banyak minyak wangi. Kalo lo gak percaya, tanya aja sama adik-adik gue. Erlang sama Aksa pernah dikejar-kejar sama dia cuma gara-gara itu bapak-bapak mau berebut kinderjoy punya Aksa."


"Ppftttttt!!!" Akbar menahan tawanya yang hampir meledak. Antara bego dan polos, Akbar benar-benar tidak paham kenapa Ilham bisa mempercayai ucapan orang gila itu.


Sementara Gala, ia hanya menggeleng tidak habis pikir.


Ternyata lebih pintar Riri daripada Ilham.

__ADS_1


"Gak usah ketawa lo, Bar." Ilham menatap Akbar jengah. Kemudian sesuatu hal membuat Ilham diam-diam ikut menahan tawa juga. "Gue cuma ketipu omongan aja. Nah lo?"


"Gue? Emang gue kenapa?" tanya Akbar bingung ketika ketiga temannya menatapnya serempak dengan tatapan aneh. Akbar merasa seperti menjadi tersangka maling kolor.


"Lo tadi minum matcha yang udah dicampur sama bubuk jamet dari orang gila itu bego!" jawab Gala diakhiri kekehan. Entah kenapa Gala dan Alan langsung paham dengan maksud Ilham.


Akbar menggaruk ketiaknya. "Oh iya juga, ya?" ucapnya sadar.


"BANGSAT! GUE MUTILASI LO, HAM!" teriak Akbar mengejar Ilham yang sudah kabur. "GARA-GARA LO DIRI GUE TERNODAI!"


******


Seminggu berlalu, hari ini adalah hari di mana tes masuk universitas dilaksanakan secara offline.


Gala yang sudah selesai mengerjakan soal tesnya, sekarang duduk di depan ruangan tempat Riri melaksanakan tes. Karena gadis itu belum selesai, jadi Gala ingin menunggunya hingga selesai.


Sebenarnya, Gala merasa sedikit risih saat beberapa orang, terutama perempuan, menatapnya dengan tatapan tidak biasa. Seperti tatapan.....kagum? Tapi Gala berusaha untuk tetap tenang. Tidak mungkin kan, Gala mencolok mata perempuan itu satu persatu? Ya meski sebenarnya hal itu sangat ingin Gala lakukan.


Pada akhirnya untuk mengurangi rasa tidak nyamannya, cowok dengan kaos dan celana jeans berwarna hitam itu lebih memilih duduk sambil menundukkan kepala.



Gala mengangkat kepala. Raut tidak suka langsung Gala tampakkan begitu matanya bertatapan dengan mata seseorang yang baru saja menyapa dirinya dan sekarang berdiri tepat di hadapannya.


"Lo kuliah di kampus ini juga?" cowok itu tertawa tidak percaya. "Hem, gue kira kita gak bakal ketemu lagi. Taunya malah satu kampus."


"Apa jangan-jangan, Riri kuliah di sini juga?" tanyanya dengan binar mata penuh antusias yang membuat kedua tangan Gala mengepal kuat. Demi apapun Gala sangat membenci kehadiran orang ini.


"Rafa?" kaget Riri melihat Rafa berdiri di depan ruangan tempat ia melaksanakan tes. Riri beralih menatap Gala yang duduk. "G-Gala juga di sini?"


Riri benar-benar tidak tahu jika Gala sudah menunggu dirinya di depan ruangan, ia kira Gala belum selesai mengerjakan soal tesnya.


Gala berdiri, tanpa basa-basi dan tanpa menjawab pertanyaan Rafa tadi, Gala langsung menarik pergelangan tangan Riri. Membawa gadis itu pergi ke parkiran.


"Gala marah?" tanya Riri begitu mereka berdua memasuki mobil.


Gala menyandarkan punggungnya di jok mobil. Bisa-bisanya ia lupa tentang keberadaan Rafa. Karena banyaknya hal yang harus ia urus akhir-akhir ini, Gala sampai lupa memastikan kalau ia dan Riri tidak akan satu kampus dengan cowok menyebalkan itu.

__ADS_1


Karena kelalaiannya itu, sekarang mau tidak mau Gala harus menerima kenyataan kalau Rafa memang satu kampus dengannya dan hal yang paling membuat Gala khawatir adalah bagaimana jika Rafa masuk ke jurusan yang sama dengan Riri? Apalagi sampai mereka satu kelas. Bisa gila Gala jika hal itu benar-benar terjadi.


Kemungkinan itu bertambah besar, mengingat tadi Rafa keluar dari ruangan sebelah ruangan Riri melaksanakan tes. Itu artinya, Rafa dan Riri sudah pasti akan satu fakultas. Karena tempat mereka tes saja berada di gedung yang sama.


Gala mengusap wajahnya kasar. Ia belum berniat menjawab pertanyaan Riri. "Arrrgghh! Bangsat!" umpatnya pelan.


"Gue gak ngumpat ke lo," ucap Gala menatap Riri yang sepertinya takut dengan umpatannya barusan. Mungkin gadis itu mengira jika Gala mengumpat ke dirinya, padahal tidak. Gala hanya kesal dengan dirinya sendiri. Terutama dengan Rafa.


Riri menatap Gala takut-takut. Ia sedang memikirkan apa kesalahan yang ia lakukan. Apa Gala marah karena tadi ia sempat menyapa Rafa?


.


Bersambung


.


Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian


depresot apa enggak?


Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯


Pesan buat Gala?


Pesan buat Riri?


Pesan buat Ilham?


Pesan buat Akbar?


Pesan buat Alan?


Pesan buat Rafa?


Pesan buat siapa aja?


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.

__ADS_1


__ADS_2