
Selamat siang bestie, semoga harimu siang terus
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepet memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
Selamat membaca!
....
Gala menghela napas, benar kata Karisa, Gala memang sudah lama sekali tidak datang ke rumah ini. Kalau tidak salah, terakhir Gala main ke sini, waktu Gala masih kelas tiga SMP. Itupun hanya sebentar, karena dari dulu Gala memang tidak menyukai acara yang melibatkan kumpul dengan keluarga besar.
Tidak lama kemudian, Karisa datang bersama suami dan
anaknya. "Dateng juga ternyata," kata Agam sambil menarik kursi di sebelah Gala.
Sementara itu Azri--suami Karisa sekaligus ayah Agam-memerhatikan Gala dengan senyuman hangat. "Om sampe pangling loh, Gal, ternyata kamu udah segede ini. Terakhir kamu ke sini waktu SMP kan? Sekarang udah lulus SMA aja."
"Iya, Om," angguk Gala.
"Gede badan doang dia, Pa. Pemikirannya masih kaya bocah," sahut Agam.
"Gak papa, namanya juga masih remaja," enteng Azri menjawab. "Kamu kenapa gak pernah main ke sini Gal? Padahal rumah ini juga gak jauh dari apartemen kamu."
"Sibuk bucin."
Bukan, itu bukan Gala yang menjawab. Melainkan Agam. Sepertinya Agam memang sengaja ingin membuat Gala kesal. Buktinya laki-laki itu merasa puas melihat ekspresi Gala yang semakin muram.
Paham akan situasi, Karisa lantas memberi Agam peringatan melalui lirikan matanya. Wanita itu takut Gala tidak nyaman dengan celetukan Agam yang terlalu ceplas-ceplos.
"Gak papa dong, namanya juga udah punya pasangan, iya gak, Gal?" ucap Karisa membela. "Gak kaya Agam, udah dua puluh lima tahun, masih aja jomblo. Kalah sama Gala yang masih belasan tahun."
"Hem, Mama."
Azri tertawa pelan. "Udah-udah, lanjut nanti ngobrolnya. Kita makan dulu," lerai Azri.
"Kamu mau makan apa, Gal?" tawar Karisa.
"Apa aja Tante."
"Ya udah, nih cobain ayam balado kesukaan Om kamu. Ini enak banget, Gal. Nanti kamu harus nambah, ya."
Gala mengangguk. Entah kenapa, Gala tiba-tiba merasa iri dengan kehidupan Agam yang terlihat begitu sempurna. Agam pintar, anak baik-baik yang tidak pernah membuat masalah, keluarganya harmonis, selalu bisa membanggakan kedua orang tuanya dengan prestasi dan juga sangat beruntung karena mempunyai ayah dan ibu yang selalu mendukung apapun yang Agam ingin lakukan. Berbeda. dengan dirinya yang tidak pernah mendapat dukungan dari siapa-siapa.
Gala menggelengkan kepala pelan untuk berhenti memikirkan hal-hal seperti itu. Mereka berempat lantas menikmati makan malam mereka dengan tenang. Meski sesekali, Gala merasa ingin menonjok muka Agam jika mengingat celetukan laki-laki itu tadi.
Setelah makan malam selesai, Azri mengajak Gala duduk dan bicara di ruang tengah. Entah apa yang ingin Azri sampaikan pada Gala sampai-sampai terlihat begitu serius. Perasaan Gala jadi tidak enak.
__ADS_1
"Kemarin Agam udah bilang ke kamu belum, Gal?"
"Soal apa, Om?"
"Kuliah kamu."
Gala terdiam sebentar. "Udah," jawab Gala pada akhirnya.
"Gimana?"
Gala membuang napasnya pelan. "Gala juga bingung. Om."
"Kenapa bingung? Kita gak maksa kamu, Gal. Semua keputusan ada di tangan kamu sendiri. Semua pilihan juga demi masa depan kamu. Masa depan perusahaan Papa kamu."
"Iya," angguk Gala mengerti.
"Tunangan kamu, gimana? Kuliah di mana?"
Gala menatap Azri cukup lama lalu menggeleng singkat.
"Belum tau."
"Nih kuenya dimakan, biar gak tegang banget."
Karisa datang membawa kue dan makanan ringan lainnya yang ia letakkan di atas meja.
Gala mengangguk. "Iya, Tante."
"Tante." Gala menatap Karisa serius. Sebenernya Gala ingin menanyakan suatu hal pada Karisa, namun tampaknya, Gala masih ragu. "Em, Gala boleh nanya sesuatu?"
"Boleh, apa Gal?"
Gala memantapkan niatnya untuk bertanya. "Soal ibu kandung Gala. Tante tau?"
Tidak langsung menjawab, wanita itu justru langsung menoleh pada suaminya. Keduanya saling tatap dalam diam untuk beberapa detik.
"Gala gak tau harus nanya ke siapa lagi," ujar Gala lagi. "Papa udah gak ada. Satu-satunya orang yang berkemungkinan tau soal ibu kandung Gala, cuma Tante sama Om."
"Kamu udah tau nama lengkap dan foto ibu kamu?" jawab
Karisa balik bertanya..
"Tau," angguk Gala. "Cuma itu yang Gala tau."
"Kenapa kamu baru nanya sekarang, Gal?" Karisa berdiri. Wanita itu pindah tempat duduk yang awalnya di sebelah Azri, kini jadi di sebelah Gala.
__ADS_1
Karisa mengusap-usap punggung Gala. "Harusnya dari dulu kamu bisa nanya mengenai hal ini ke Papa kamu, Gal. Dia yang lebih tau semuanya dibanding Tante. Tapi sekarang Papa kamu udah gak ada. Kenapa kamu baru nanya?"
Gala mengingat ketika masih SMP ia pernah bertanya pada Abraham mengenai ibu kandungnya. Bukannya menjawab, waktu itu Abraham justru memarahinya habis-habisan. Sejak saat itulah Gala tidak pernah lagi mau menanyakan soal ibu kandungnya.
Setiap malam, Gala hanya bisa memandangi satu-satunya foto ibu kandungnya sambil berharap, suatu hari nanti, keajaiban datang dan bisa mempertemukan ia dan ibu kandungnya. Sayangnya, hingga kini, harapan Gala tetaplah menjadi harapan yang tidak tahu kapan bisa menjadi kenyataan.
"Gala pernah nanya ke Papa. Tapi Papa marah, makanya gak pernah nanya lagi."
Karisa mengangguk paham. "Tante gak banyak tau, Gal. Dulu, pernikahan mereka cuma bertahan hingga satu bulan setelah kamu dilahirkan. Setelah itu, ibu kamu pergi diam-diam. Gak ada yang tau dia pergi ke mana dan sama siapa. Dia cuma ninggalin surat yang isinya nyuruh Papa kamu, jagain kamu. Cuma itu yang tante tau."
"Surat? Tante tau suratnya ada di mana? Masih ada apa enggak?"
Karisa menggeleng. "Tante gak tau. Papa kamu yang simpan surat itu. Tapi Tante juga gak tau, entah surat itu sudah dibuang atau tetap Papa kamu simpan sampai Papa kamu meninggal."
Gala terdiam. Dadanya terasa begitu sesak. Ternyata ibu kandungnya memang sengaja meninggalkan dirinya.
Gala menatap Karisa dengan mata berkaca-kaca yang berusaha ia sembunyikan mati-matian. "Jadi, Gala dibuang ya, Tan? Ibu kandung Gala gak mau punya anak kaya Gala?"
Karisa dan Azri sama-sama terdiam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Mereka juga tidak memiliki informasi yang cukup banyak mengenai ibu kandung Gala dan mereka juga tidak tahu masalah apa yang membuat ibu kandung Gala hingga pergi tanpa pamit.
....
Bersambung
.
Huhuuuu rumitttt bestieee seperti cintaku pada Alan yang terhalang oleh dimensi yang berbeda
Pesan buat Riri?
Pesan buat Gala!
Pesan buat Agam?
Pesan buat Karisha (ibu Agam)?
Pesan buat Azri (ayah Agam)?
Pesan buat Asti, bunda pantinya Amora?
Pesan buat siapa aja?
Pesan buat author juga boleh:
-
__ADS_1
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
Spam datang pake emoji :