
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
"Pak nanti kalo ada paket atas nama Joko Abraham, tolong diterima dulu, ya. Itu paket punya temen saya yang dititipin ke saya. Pulang kuliah nanti saya ambil," pesan Gala pada bapak-bapak berseragam keamanan yang berdiri di sekitaran lobby gedung apartemen.
"Baik, Mas," angguk nya. "Kalo boleh tahu, paketnya isi apa ya, Mas? Barang yang mudah pecah bukan? Biar nanti. saya enak nyimpennya. Takut pecah atau rusak waktu saya simpan."
"Isinya cuma kolor Spongebob, Pak," jawab Gala santai. Lagi pula ia sudah mengatakan kalau itu paket punya temannya. bukan? Jadi untuk apa Gala malu?
"K-kolor Spongebob? Temen Mas Gala suka sama kartun Spongebob? Wah sama kaya anak saya yang umurnya lima tahun. Tiap hari nonton film Spongebob. Sampai istri saya beli daster Spongebob, biar anak saya nempel ke istri saya dan gak nangis kalo saya tinggal kerja."
Gala berdeham pelan. "I-Iya temen saya emang suka banget sama Spongebob."
"Salam buat temennya ya, Mas. Em, tadi namanya, Jok--Joko Abraham. Ah iya, salamin ke Mas Joko sesama Spongebob loves sama anak saya."
"Iya nanti saya sampai--"
Bruk!
"Eh maaf-maaf. Saya gak sengaja." Ucap wanita paruh baya yang baru saja menabrak Gala hingga ponsel Gala terjatuh tergeletak di lantai.
Gala menatap aneh orang yang baru saja menabraknya itu. Sayangnya Gala tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena orang itu buru-buru pergi. Namun dari postur tubuh dan penampilan, sepertinya Gala pernah melihat.
Dia mirip sekali dengan Merry. Orang yang waktu itu sempat menyelamatkan Riri keluar dari gang haram setelah kabur dari penculikan yang didalangi oleh Virgo. Meski Gala tidak pernah melihat wajah Merry karena waktu itu perempuan itu memakai masker, namun dari postur tubuh dan penampilannya Gala sangat hafal.
"Loh Mas Gala habis check out kolor Spongebob juga toh?"
Dengan cepat Gala mengalihkan atensi ke ponselnya yang tergelak di lantai dengan posisi layar menyala, menampilkan sebuah aplikasi belanja online.
"Bangs*t ketauan!" umpat Gala dalam hati.
"Bukan. Ini dipake temen saya, Pak," bohong Gala lalu buru-buru pergi sebelum ditanya lebih banyak.
"Temennya? Tapi waktu itu, waktu ada orang nitipin baju-baju Mas Gala yang selesai di laundry ke saya, kok kayanya ada gambar Spongebob, ya, di tumpukan baju Mas Gala? Oh, baju temennya kali, ya?"
"Iya kayanya itu bukan punya Mas Gala tapi punya Mas Joko
Abraham."
"Gala nanti kuliah sampai jam berapa?"
"Riri sampai jam setengah satu."
"Nanti kalo Gala udah selesai duluan, Gala pulang dulu gak papa. Biar Riri minta jemput sopir atau pulang bareng Bang Danis aja," oceh Riri panjang lebar. Sementara Gala, ia tidak menjawab dan sibuk mengemudikan mobilnya menuju kampus mereka.
__ADS_1
"Gala kan harus kerja, jadi gak papa kalo nanti Gala pulang dul--"
"Biar lo bisa pulang bareng Rafa, hem?"
Riri menatap Gala tidak suka. Kenapa tiba-tiba Gala menyangkut pautkan pembicaraan mereka dengan Rafa? Padahal apa yang Riri bicarakan sejak tadi tidak ada hubungannya dengan Rafa.
"Kok Gala ngomong kaya gitu? Riri gak bilang mau pulang bareng Rafa."
"Lo satu kelas sama Rafa, enak kalo mau pulang bareng. Jadwalnya sama. Gak kaya kita, beda. Jadi susah pulang bareng."
Riri diam. Sejak pertama kali Gala menjemputnya, Gala memang terlihat seperti malas mengajaknya berbicara dan sekarang kenapa tiba-tiba Gala berbicara membahas mengenai Rafa? Apa maksudnya?
"Seneng kan lo kalo bisa pulang bareng Rafa?"
"Enggak!" bantah Riri cepat.
"Tinggal bilang seneng aja susah banget."
Gala tertawa sinis. "Kapan lagi bisa pulang bareng Rafa? Pulang bareng dia aja. Gue gak papa."
"Gala kenapa sih?"
"Gue?" Gala menoleh ke Riri sebentar lalu kembali menatap jalanan agar fokusnya menyetir tidak pecah. "Gue gak kenapa-kenapa. Lo pikir gue gak tau kenapa lo nyuruh gue pulang duluan?"
"Ya biar lo bisa pulang bareng Rafa, iya, kan?
"Gala, Riri--"
Riri menggeleng cepat. "Gak! Riri gak bosen pulang bareng
Gala!"
"Halah, tinggal ngaku apa susahnya. Lo pasti seneng banget kalo bisa pulang bareng Rafa, soalnya dia kan suka sam--"
Karena kesal dengan tuduhan Gala yang tidak berdasar, Riri langsung mengiyakan saja. "Iya Riri seneng kalo pulang bareng Rafa!" sela Riri menyilang kan kedua tangannya di depan dada. Gadis itu menatap ke luar jendela. Tidak mau menatap Gala yang menjengkelkan.
CITTTT
"Ngomong apa lo barusan?! Coba ulangi yang jelas?!" tantang Gala setelah mengerem mobilnya mendadak.
Meskipun takut, Riri tetap memberanikan diri menjawab tanpa menoleh. "Riri seneng kalo bisa pulang bareng Rafa."
Gala tertawa pelan. Bukan, Riri yakin itu bukan tawa biasa. Bahkan Riri sedikit merinding saat mendengarnya.
"Oke," putus Gala kembali melajukan mobilnya.
Dengan perasaan takut, Riri menatap Gala lalu berujar pelan. "Itu tadi jawaban yang Gala mau dari Riri, kan? Biar Gala puas makanya Riri jawab kaya gitu. Gala selalu nuduh Riri gak jelas."
"Gak jelas?" sahut Gala sembari tertawa sinis. "Jelas-jelas lo chat-an sama Rafa. Sampai nyuruh dia jujur soal perasaannya. Lo pikir gue gak tau?"
******
__ADS_1
"Kenapa, Ri?" tanya Nenda melihat Riri yang asyik melamun sedari tadi. Bahkan makanan dan minuman di depannya tidak gadis itu sentuh sama sekali. Padahal tadi Riri lah yang memaksa Nenda untuk pergi ke kantin kampus.
Nenda kembali bertanya melihat Riri belum merespon. "Lo lagi ada masalah? Gue perhatiin dari tadi lo ngelamun mulu?"
Riri mengangguk. "Riri lagi bingung."
"Bingung kenapa?"
Tidak langsung menjawab. Riri mengetukkan jari telunjuknya di atas dagu seolah sedang berpikir terlebih dahulu. "Kenapa kulkas kalo ditutup lampunya mati? Terus kalo dibuka lampunya nyala? Itu siapa yang matiin dan nyalain, ya?"
Nenda menghela napas. Tidak kaget. Riri memang selalu random seperti ini sejak dulu. Untungnya Nenda adalah orang yang sabar. "Udah otomatis. Semua kulkas juga kaya gitu."
....
.
Bersambung
.
.
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Akbar?
Pesan buat Alan?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Danis?
Pesan buat Amora?
Pesan buat Nenda?
Pesan buat Choline?
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1