CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
107.Pengorbanan


__ADS_3

Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.


.


Selamat membaca!


.


....


Amora


Kak Gala ada di apartemen, kan? Tadi aku habis belanja di minimarket deket apartemen Kak Gala. Terus kepikiran buat mampir ngasih minuman kesukaan Kak Gala sebagai permintaan maaf soal sikap aku kemarin.


Ichitan brown sugar milk, Kak Gala suka banget sama minuman itu, kan? Waktu sunmori kemarin, aku lihat Kak Gala minum minuman itu sampai berkali-kali.


Aku sekarang ada di depan pintu unit apartemen Kak Gala


hehe.


Brak!


Dengan perasaan kesal, Gala melempar ponselnya. "Anjin*!


Ganggu banget."


Gala kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkas di hadapannya sebelum kembali merasa terganggu oleh suara deringan dari ponselnya yang tergeletak di lantai.


"Arrghh!" Gala mengacak rambutnya kesal lalu mengambil ponselnya. "Cih! Nih cewek kenapa sih?! Gak ada kapok-kapoknya apa gue bentak, gue bilangin?! Masih aja ganggu!"


"Kayanya gue harus kasih tau Dio lagi, biar Amora gak makin


ngelunjak," gumam Gala.


Beberapa waktu yang lalu Gala juga sudah memberitahu Dio agar menasehati sikap Amora yang terlalu agresif padanya. Namun entah belum Dio lakukan atau Amoranya saja yang terlalu batu, gadis itu tetap melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Tidak ada kapok-kapoknya. Gala mendudukkan dirinya di sofa panjang yang ada di


ruang kerjanya setelah mengirim pesan singkat pada Dion


"Kalo Amora ngedeketin gue kaya gini, sebenarnya Riri itu cemburu karena cinta sama gue apa cuma kesel aja karena selama ini dia taunya gue cuma deket sama dia?"


Bukan, Gala tidak bermaksud meragukan perasaan Riri. Hanya saja, sebenarnya Gala ingin Riri lah yang menyingkirkan Amora. Sebagai bukti jika gadis itu benar-benar mempunyai perasaan cinta yang sama dengan Gala. Ya, seperti saat Gala menyingkirkan cowok-cowok yang berusaha mendekati Riri.


Gala khawatir jika selama ini hanya dirinya yang terlalu berlebihan dalam mempertahankan hubungan mereka, sementara Riri tidak. Gala takut Riri tidak mencintainya. Gala takut Riri pergi. Gala takut ditinggal oleh Riri. Gala takut sendirian. Gala selalu mengkhawatirkan hal itu sepanjang malam. Terkadang hingga membuat kepalanya berdenyut nyeri.


"Kangen." Senyum Gala mengembang cukup lebar melihat foto cantik Riri yang ia jadikan wallpaper di ponsel. "Tapi kalo gue chat atau telfon, ntar gue makin kangen dan gak tahan buat ketemu."


Menghela napas, cowok itu memejamkan mata untuk meredam perasaan rindunya pada Riri. Belum ada lima menit Gala menutup mata, tiba-tiba ruang kerjanya terbuka lebar dari arah luar.


"Bang?"


Gala membuka matanya dan menatap ke arah Agam,

__ADS_1


sang pelaku. "Lo ngapain balik lagi?"


"Hai Kak Gala!" sapa Amora girang yang muncul di belakang Agam.


Gala berdiri. Ia cukup terkejut dengan kehadiran gadis yang membuatnya kesal itu. "Lo ngapain ke sini?!" tanya Gala menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan.


Gala beralih menatap Agam dengan tatapan tajam seolah menuntut jawaban. "Lo ngapain bawa dia mas--"


"Sorry gue gak tau apa-apa, Gal." Agam mengangkat kedua


tangannya ke atas. "Gue balik ke sini cuma mau ngambil jam


tangan gue."


Agam mengambil jam tangan miliknya yang tergelak di sebelah berkas-berkas Gala.


"Pas gue masuk, nih cewek tiba-tiba ngikutin gue masuk. Katanya dia temen lo," jelas Agam melirik Amora sekilas. "Gue balik dulu. Gue buru-buru mau rapa."


"Cek!" decak Gala melihat Agam yang sudah nyelonong pergi. "Banglo-argghhh!"


"Nih buat Kak Gala." Amora menyerahkan kantong plastik berlogo indomei ke hadapan Gala. Di dalam kantong plastik itu terdapat dua botol minuman kesukaan Gala. Ichitan brown sugar milk.


Bukannya menerima, Gala justru mendorong kantong plastik itu. Gala masih bersikap baik karena tidak langsung melempar kantong plastik itu ke tempat sampah.


"Lo keluar sendiri atau gue panggil keamanan buat usir lo?" tanya Gala tenang namun terdengar sangat menyakitkan bagi Amora.


Amora memudarkan senyumnya. "Aku cuma mau ngasih ini, Kak. Kalo udah Kak Gala terima, aku bakal pulang. Udah gitu doang kok."


"Kak, ak--"


Gala mengambil kantong plastik itu dari tangan Amora. Tanpa basa-basi Gala berjalan ke arah tempat sampah yang ada di ruang kerja. Gala membuang minuman itu di sana tanpa memikirkan perasaan Amora setelah ini.


"Kak, kenapa di buang?!"


"Bacot. Kalo lo cowok, udah gue hajar dari kemarin-kemarin, Mor." Tatapan Gala semakin menajam. "Lo tau gak? Dengan sikap lo kaya gini, bukannya dapet simpati dari gue, lo malah buat gue jijik."


"Gue bakal bersikap baik ke orang yang menurut gue emang pantes buat gue baikin. Tapi sayang itu bukan lo." Gala memasukkan kedua tangannya ke saku celana pendeknya. Kemudian mengarahkan dagunya ke arah pintu. "Cepat pergi. Gue gak mau cewek gue salah paham."


Amora diam. Gadis itu menatap Gala dengan mata berkaca-kaca. "Aku ke sini cuma mau ngasih Kak Gala minuman kesukaan Kak Gala sebagai permintaan maaf aku kalo semisal aku ada salah. Bukan buat menganggu atau semacamnya. Kenapa Kak Gala jahat banget ngomongnya?"


Mendengar penuturan Amora, Gala sama sekali tidak merubah ekspresi wajahnya yang datar. Gala sangat heran, ternyata manusia batu dan tidak tahu diri seperti Amora, benar-benar ada di dunia ini. Diusir bukannya pergi justru pura-pura tersakiti.


"Cepat pergi." Gala mengeluarkan ponselnya.


"Kalo gak, gue beneran telfon keamanan buat ngusir lo."


Amora berjalan ke tempat sampah. Ia mengambil minuman yang tadi dibuang oleh Gala. "Gak papa kalo Kak Gala gak mau nerima ini. Aku pulang," ucapnya dengan senyum terpaksa.


Gala sempat menghela napas lega melihat kepergian Amora. Namun siapa sangka, di langkah ke empat gadis itu kembali berbalik badan.


"Huekkk!" Amora memegang perutnya yang terasa mual. "Aku sakit perut, Kak. Boleh numpang kamar mandinya, gak?"

__ADS_1


Kedua alis Gala menukik tajam, Gala sadar ini pasti hanya


akal-akalan Amora saja. "Gak peduli. Lo mending cepat kel--"


"Maaf, Kak! Aku udah gak bisa nahan lagi! Huekk!" Amora memuntahkan isi perutnya di lantai. Tepat di hadapan Gala.


Gala yang melihat hal itupun rasanya ingin menendang gadis itu hingga tenggelam di laut. Jika gadis yang melakukan itu adalah Riri, sudah pasti Gala akan gercep untuk menolong. Tapi karena ini Amora, Gala justru merasa sebaliknya. Jijik. Sangat jijik.


"Kak, maaf. Aku emang lagi gak enak badan dari tadi pagi. Aku masuk angin gara-gara sunmori kemarin," jelas Amora. "Aku pasti bersihin, kok. Kamar mandi Kak Gala di mana? Biar aku pel lantainya."


Karena tidak mau membersihkan muntahan Amora di ruang kerjanya dengan tangannya sendiri, Gala terpaksa memberitahu Amora jika di dalam kamar mandi ruangan kerjanya ada alat pel.


Gala mendudukkan dirinya di sofa, matanya menyorot Amora yang kini tengah mengepel lantai ruang kerjanya. Jika saja itu Riri, sudah pasti Gala akan merebut alat pel itu dan mengambil alih pekerjaan tersebut.


....


.


Bersambung


.


.


Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian


depresot apa enggak?


Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯


Pesan buat Gala Arsenio Abraham?


Pesan buat Riri?


Pesan buat Ilham?


Pesan buat Akbar?


Pesan buat Alan?


Pesan buat Dewa?


Pesan buat Danis?


Pesan buat Amora?


Pesan buat Nenda?


Pesan buat Choline?


Pesan buat siapa aja?

__ADS_1


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.


__ADS_2