
"Gal, gue kan udah minta lo dari lama. Katanya lo mau fokus sekolah karena bentar lagi ujian, ya udah, gue gak maksa lagi. Nah nanti setelah lo ujian nasional, gue rasa itu adalah waktu yang tepat."
"Tepat apaan, gue kan harus fokus belajar buat ujian masuk universitas," protes Gala.
Agam mendengus pelan. "Gue tau gimana kapasitas otak lo, Gal. Mau gak belajar pun, gue yakin lo bisa diterima di kampus manapun yang lo mau."
Gala berdiri. "Terserah deh, gue males debat," ucap Gala sebelum meninggalkan ruang tengah dan pergi ke kamarnya.
Agam menggeleng heran melihat tingkah Gala. Di satu sisi Agam merasa geram melihat sikap Gala yang keras kepala dan egois. Tapi di sisi lain, Agam juga memahami posisi Gala. Di umur Gala yang sekarang, pasti rasa ingin bersenang -senang bersama teman-temannya sangat besar. Maklum jika untuk saat ini Gala merasa tidak terima jika diminta oleh Agam untuk segera bekerja di kantor Abraham.
*****
Pagi ini Gala uring-uringan sendiri karena dari semalam,
Riri tidak bisa ia hubungi. Berkali-kali ia telfon dan chat, tetap saja tidak ada balasan apapun dari gadis itu.
"Aarrgggghh!" Gala menjambak rambutnya frustasi. "Lo kemana sih, Sri?!"
Gala memasang sepatunya asal, lalu mengambil tas dan
kunci motor. Ia harus cepat-cepat sampai di rumah Riri, sebelum gadis itu pergi ke sekolah tanpa dirinya.
"Awas aja lo Dewa, gue bantai beneran tuh kucing lo!"
Tekad Gala sebelum melangkahkan kaki keluar apartemen.
Sesampainya di rumah Riri setelah mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, lagi-lagi hal yang paling tidak Gala inginkan, terjadi. Vina mengatakan jika Riri sudah berangkat diantar oleh Dewa sekitar lima belas menit yang lalu.
"Apa lo liat-liat?" Tunjuk Gala ke kucing milik Dewa yang tiba-tiba tiduran di dekat motornya. "Dasar kucing sama majikan sama-sama prik!" Umpat Gala.
"Meeoonggg..."
"Apa lo meang meong?!"
"Meeooongggg...."
"Hem! Lo mau ngeledek gue?! Gara-gara si Sri sama Dewa burik itu udah pergi duluan? Iya?!"
"Meeeoonggg..." Kolor Ijo mengarahkan dua kakinya ke kaki Gala.
"Heh! Lo mau nantangin gue lagi? Hah?" Gala berusaha melepaskan cengkraman Kolor Ijo di kakinya, namun belum berhasil.
"Lepasin gak?! Kalo gak gue bakal bawa lo, terus lepasin
lo di jalanan. Biar jadi gembel!"
"Meeeooongg..." Kolor Ijo menjauh dan langsung berlari ke dalam rumah dengan wajah panik.
Gala memakai helmnya, namun sebelum
menyalakan motor, Gala mencium bau aneh.
__ADS_1
"Bau banget," ucapnya sambil mengendus-endus ke sekitar.
Gala menggertak kan gigi gerahamnya begitu melihat celana bagian bawah ada noda kotoran yang tercetak dari kaki Kolor Ijo tadi.
"Kolor Ijo! B**g** lo!" Umpat Gala menahan emosi."
*****
Karena tadi Gala kesiangan gara-gara harus berganti
celana terlebih dahulu, alhasil Gala tidak bisa mencari
Riri di kelasnya. Ia harus menunggu sampai jam istirahat.
"Kenapa?" Alan melirik Gala di sampingnya saat menyadari gelagat aneh yang Gala tampakkan.
"Gak papa."
"Riri?"
Gala menghela napas lalu mengangguk pelan.
"Iya, gue pengen ketemu dia."
"Bentar lagi istirahat."
"Lama, gue gak tahan."
"Chat."
Alan mendengus kasar. "Segitunya?"
"Hem, jangan banyak nanya, Lan. Lo cakepan kalo diem."
Alan kembali mengalihkan fokusnya ke papan tulis.
Di mana guru matematika di kelas mereka sedang menjelaskan rumus-rumus yang memusingkan.
"Bucin."
Gala menoleh ke Alan. Meskipun ucapan Alan tadi sangat pelan, bahkan hampir seperti gerakan bibir saja, namun Gala masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Ngaca."
"Udah, ganteng."
"Hem! Sejak punya pacar lo jadi narsis banget," ejek Gala.
Alan tidak lagi menanggapi ucapan Gala. Kalau sedang gelisah karena ingin bertemu dengan Riri, Gala memang akan jadi se-menyebalkan ini. Lebih. baik Alan diam, Tidak mencari gara-gara.
"Nah, jadi sekarang ada yang mau ditanyakan?"
__ADS_1
Tanya guru di depan yang bernama Surya. "Kalau tidak ada,
silahkan kerjakan soal di buku paket pada halaman lima puluh."
"Dari nomor berapa sampai berapa, Pak?" Tanya Akbar. "Jangan banyak-banyak ya, Pak. Susah."
"Gak banyak. Cukup kerjakan nomor satu sampai enam puluh saja."
"Allahuakbar," geleng Ilham. "Ini mah emang bukan banyak, Pak. Tapi sangat banyak."
"Pak," panggil Gala sambil mengangkat satu tangan.
"Iya, Gala? Kenapa?"
"Saya mau ijin ke kamar mandi."
"Ke kamar mandi atau mau bolos?" Selidik Pak Surya penuh tatapan curiga.
"Ke kamar mandi, Pak. Saya mau buang air kecil, "jawab Gala berusaha meyakinkan. "Tapi boong," lanjutnya dalam hati.
"Oke, saya ijinkan, tapi awas saja kalau kamu bohong dan malah ngapel ke kelas pacar kamu."
"Tunangan, Pak," koreksi Gala.
"Kecil-kecil udah tunangan."
Ilham ikut menyahut. "Emang gak boleh, Pak? Yang penting kan udah ada pasangan."
"Gak boleh," balas Pak Surya. "Soalnya saya belum."
Seisi kelas tertawa mendengar ucapan Pak Surya. Meskipun kadang terlihat menyeramkan dan suka marah-marah, tidak jarang juga Pak Surya akan bersikap humoris seperti ini.
"Boleh gak, Pak?" Tanya Gala memastikan.
"Saya gak percaya sama kamu. Mending kamu kerjain sepuluh soal dalam waktu sepuluh menit, kalau bisa dan benar semua, saya ijinkan kamu istirahat duluan. Bagaimana?"
Gala mendengus pelan. Kalau bukan demi Riri, tidak mungkin Gala mau menyulitkan dirinya seperti sekarang. "Iya, tapi Bapak jangan bohong. Kalau saya beneran bisa mengerjakan sepuluh soal dalam waktu sepuluh menit, Bapak harus ijinkan saya keluar kelas."
"Silahkan dikerjakan sepuluh menit mulai dari sekarang.
Gala buru-buru membuka buku paketnya lalu mencari halaman yang tadi Pak Surya maksud. Tanpa membuang-buang waktu, Gala mulai mengerjakan dan bergelut dengan angka-angka rumit di depannya itu.
"Gile, si Bos jadi anak ambisi," kagum Ilham.
"Ayo yang lain kerjakan juga. Jangan lihat ke arah. Gala terus. Kalau di antara kalian ada yang bisa mendahului Gala, berarti kalian yang boleh keluar duluan, bukan Gala."
Mendengar ucapan Pak Surya barusan, tentu saja Gala semakin merasa tertantang. Hingga mendorong dirinya agar bisa mengerjakan dan menyelesaikan soal-soal di depannya lebih cepat lagi.
Beberapa menit kemudian, Gala menghela napas lega. Cowok itu berdiri untuk menghampiri pak Surya di depan. "Pak, sudah selesai," ucap Gala menyerahkan kertas jawabannya.
"Saya cek dulu, kalau jawaban kamu ada yang salah,
__ADS_1
kamu gak bisa keluar."
Pak Surya melepas kaca mata yang ia kenakan sedari tadi, lalu menatap Gala dengan tatapan tidak percaya. Sementara siswa dan siswi yang lain ikut menunggu jawaban dari Pak Surya.