
Riri menyingkirkan jari Gala dari bibirnya. "Besok ujian terakhir, habis itu Riri sama Gala udah boleh ketemu kaya biasanya lagi. Jadi hari ini Riri mau jual mahal dulu. Kata Bang Dewa sama Bang Danis, jadi cewek harus jual mahal."
"Terus?" Alis Gala terangkat sebelah.
"Makanya tadi Riri mau pura-pura gak liat Gala, ih! Soalnya Riri mau jual mahal! Eh tapi Gala malah nyapa Riri. Nyebelin!"
Gala mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh gitu. Ya udah ulang, ntar gue gak bakal nyapa lo lagi. Sana masuk ke kelas."
Mata Riri mengerjap polos. "Emang bisa diulang?"
"Bisa. Udah sono masuk kelas, ntar lewat depan gue, pura-pura gak liat gue dan gue juga gak bakal panggil lo. Cepet!" Gala mendorong tubuh Riri untuk memasuki ruang kelasnya lagi.
Untung saja sekarang ruangan kelas Riri sudah kosong karena memang teman-teman Riri sudah keluar semua. Jadi dengan bebas Riri bisa keluar masuk ke dalam kelasnya.
"Ya udah Riri masuk kelas lagi. Tapi beneran ya, nanti Gala jangan panggil Riri." Riri menatap Gala curiga. Takut kalau cowok itu tidak menepati ucapannya.
"Iya, Sri. Bawel amat lo bocil!"
Dengan bodohnya Riri kembali memasuki ruang kelas. Tanpa mengetahui bahwa kini Gala sedang menarik satu sudut bibirnya karena telah merencanakan sesuatu.
Brakk
Gala menutup pintu kencang lalu menguncinya.
Mata Riri melotot kaget melihat Gala ikut masuk ke dalam kelasnya. "Ih! Kok Gala ikut masuk sih?!" Protes Riri kesal. "Kan harusnya Riri aja yang masuk! Gala berdiri di luar aja! Ntar kalo Riri keluar dari kelas, kita pura-pura saling gak liat!"
"Punya cewek bego banget," dengus Gala berjalan menghampiri Riri. "Lo kenapa bego banget sih, Sri? Gue tuh boongin lo."
Riri belum menjawab. Gadis itu hanya mengerjapakan kedua matanya karena masih bingung. "Maksudnya gimana ih?!" Tanya Riri tidak mengerti.
"Ih! Gala ngapain deket-deket Riri?!" Panik Riri saat Gala terus mendekat ke arahnya hingga punggung Riri terhimpit ke dinding.
Gala tertawa kecil melihat kepanikan Riri yang justru tampak menggemaskan. "Gemes banget kalo ketakutan gini," ujarnya mencubit kedua pipi chubby Riri.
"Gal-ih sakit! Pipi Riri jangan digitun!"
"Nanti pipi Riri jadi kendor kaya nenek penyot!"
Bukannya melepaskan cubitan di pipi Riri, Gala justru semakin gemas melihat Riri ngomel-ngomel seperti anak kecil. Sudah berhari-hari ia tidak merasakan hal ini. Jadi, sekarang Gala tidak boleh melewatkan kesempatan ini.
"Huaaaa! Pipi Riri kendor!"
"Huaaaaaa!!!"
"Gitu doang nangis. Sini peluk gue."
Melihat Riri menangis, Gala jadi tidak tega. Ia merentangkan kedua tangannya lalu menarik Riri ke dalam dekapannya.
"Sorry, gue gemes."
Gala mengusap-usap punggung Riri yang bergetar karena tangisannya. Lalu sedikit menunduk untuk memberi kecupan lembut di dahi Riri yang tertutupi oleh poni.
__ADS_1
Cup
"Lo sih gemesin. Kan gue jadi pengen cubitin pipi lo."
"Hiks...n-nanti k-alo p-pipi Riri kendor, R-Riri jadi jelek! Riri gak mau huaaaa!!!"
"Lo tetep cantik di mata gue."
Riri mendongakan kepala. "Beneran?"
"Iya sayang." Gala mengusap kedua pipi Riri yang basah. "Udah jangan nangis. Gue kangen sama lo."
"Lo gak kangen sama gue? Hem?"
Tidak menjawab, Riri justru menubrukkan kepalanya di dada bidang Gala. Kembali ke dalam pelukan Gala yang membuatnya merasa sangat nyaman.
"Riri kangen, tapi kata Bang Dewa kan harus jual mahal."
"Emang si Dewa Dewi tuh banyak banget alasannya. Dia tuh aslinya iri sama kita," kesal Gala. "Untung besok hari terakhir ujian. Awas aja, habis itu gue bakal bales dendam."
"Gala mau mukulin Bang Dewa?"
"Gak, tapi gue mau pamer."
"Pamer apa?" Tanya Riri tidak paham.
"Gue mau peluk lo di depan Dewa. Pokoknya mau
"Emang bisa sampe mimisan, ya?"
"Bisa."
"Sri?"
"Riri!" Kepalan tangan mungil Riri memukuli dada. bidang Gala. Membuat cowok itu terkekeh. Gala tahu Riri tidak suka dipanggil dengan nama Sri, namun Gala justru menyukai hal itu.
"Kenapa lo bego banget?"
"Riri bego banget?"
Gala mengangguk. Meletakkan dagunya di atas puncak kepala Riri. "Kalo lo gak bego, sekarang lo gak bakal ada di dalem kelas ini. Kan tadi gue boongin lo. Makanya sekarang kita ada di sini." Riri cemberut. "Gala malu gak punya cewek bego kaya Riri?"
Gala menggeleng cepat. "Enggak. Tapi gue selalu takut lo bakal dibegoin orang lain. Makanya gue suka marah-marah kalo lo bandel. Apalagi kalo lo keluar rumah tanpa gue."
"Gue khawatir banget, Riri," aku Gala jujur. "Jangan gitu ya?"
Riri mengangguk. "Iya, Riri gak bandel lagi kok. Riri bakal nurut sama Gala."
"Gala."
"Apa sayang?"
__ADS_1
"Riri gak bisa napas, Gala meluknya kekencangan.
Lepasin bentar."
"Aaaaa gue masih kangen! Masih pengen peluk lo! Gak mau lepas!" Rengek Gala semakin mengeratkan pelukannya.
"Riri susah napasnya ih! Jangan kenceng-kenceng
meluknya. Nanti kalo Riri mati Gala jadi duda loh."
"Sembarangan mulut lo!" Gala melonggarkan pelukannya. "Sekarang udah bisa napas?"
"Udah."
Mereka berdua akhirnya tetap berpelukan sampai beberapa menit ke depan.
"Oh iya, ini tadi gue beli buat lo." Gala melepaskan pelukan mereka lalu mengambil susu kotak rasa stroberi dan roti coklat dari dalam tasnya.
"Yah cuma satu." Riri mendengus kecewa melihat Gala hanya memberinya satu kotak susu. Padahal Riri ingin diberi banyak.
Gala menoyor kepala Riri. "Matre amat lo. Terima kasih kek. Biar gue seneng."
Riri nyengir. Menunjukkan giginya yang sudah belepotan dengan coklat karena gadis itu langsung melahap roti yang Gala berikan. "Hehe iya makasih ya Gala."
"Telat," decak Gala. "Enak gak?"
"Enak. Roti coklatnya rasanya kaya roti coklat," girang Riri memakan rotinya dengan lahap.
"Hem! Serah lo." Gala menarik satu tangan Riri.
"Makan gak boleh sambil berdiri. Ayo duduk."
Riri menuruti ucapan Gala. Gadis itu duduk di kursi lalu Gala duduk di atas meja dengan posisi berhadapan dengan Riri.
"Nih minum, nanti seret lo bisa mati." Gala menyodorkan susu kotak yang sudah ia beri sedotan.
"Pelan-pelan, Riri." Gala sedikit kesal melihat cara makan Riri yang tampak rakus dan terkesan. terburu-buru.
"Riri harus cepat-cepat, kalo ketauan Bang Dewa,
Riri bakal dimarahin."
"Dewa lagi, Dewa lagi," sinis Gala merasa sangat kesal. "Lo sayang siapa sih? Gue apa Dewa? Kok lo lebih nurut ke dia?"
Riri tampak berpikir sejenak karena takut salah menjawab. "Riri gak bisa milih. Riri sayang dua-duanya. Sayang Gala, sayang Bang Dewa juga."
"Kalo gue sama Dewa tenggelam. Lo bakal milih nyelamatin gue apa Dewa?"
Riri menghentikan kunyahan nya. Mata bulatnya menatap Gala polos. "Riri bakal kabur."
"Kok kabur?!"
__ADS_1