
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
Riri memalingkan wajahnya. "Tapi tadi Gal--"
"Gue bercanda. Lo gak perlu takut gue bakal jatuh cinta sama Amora. Jangankan jatuh cinta, buat berteman dan kenal dia lebih jauh aja gue ogah."
Riri diam, gadis itu merasa sedikit lebih tenang mendengar pengakuan Gala yang sepertinya memang tulus dari hati.
"Lo tau kenapa?" tanya Gala. Gala berusaha menarik dagu Riri agar mau menatapnya. "Tatap gue coba."
Setelah berhasil membuat Riri mau menatapnya, Gala tersenyum lebar. Satu tangan cowok itu terangkat ke atas untuk menyelipkan rambut Riri ke belakang telinga. Sementara satu tangan lainnya masih ada di satu sisi pinggang Riri. Berjaga-jaga bila sewaktu-waktu Riri ada niat. untuk kabur.
"Lo tau kenapa gue gak bakal jatuh cinta sama Amora?" ulang Gala menempelkan dahi dan menggesekkan ujung hidung mereka beberapa kali.
Dari jarak yang begitu dekat seperti sekarang, entah kenapa membuat jantung keduanya berdebar kian cepat. Padahal jika diingat, hampir setiap saat mereka sudah terbiasa bersama dengan posisi sedekat ini. Riri menggeleng, tanda tidak tahu.
Kedua sudut bibir Gala terangkat ke atas, membentuk senyuman tipis. Senyuman yang hampir tidak bisa dilihat oleh orang lain.
"Ri..." panggil Gala pelan. Setelah itu Gala hanya diam sambil
terus menatap Riri kian lekat.
Bisa Riri rasakan, kian lama, helaan napas Gala juga terasa semakin memberat. Membuat Riri takut sendiri. Pasalnya, cowok itu terlihat seperti binatang buas yang siap menerkamnya kapan saja.
"Semua cinta gue udah habis buat lo. Bahkan untuk diri gue sendiripun udah gak tersisa." Gala berhenti sejenak ucapannya sambil mengusap pipi Riri lembut. "Itu kenapa, hal yang paling gue takutkan di dunia ini bukan meninggal tapi ditinggal. Ditinggal sama lo."
Gala memejamkan matanya seraya memiringkan kepala. Entah bagaimana, kini bibir keduanya sudah menyatu. Tangan Gala berada di pinggang dan tengkuk Riri. Sementara kedua tangan Riri sudah mengalung di leher Gala.
"U-udah!" Riri mendorong dada Gala begitu dirinya kehabisan pasokan oksigen. Gala benar-benar menyerang dirinya secara brutal."
Sementara Gala, cowok itu masih menatap Riri dengan tatapan tenang dan sulit diartikan. Gala mengusap wajahnya kasar lalu berujar pelan.
"Damn! It's so yummy!"
__ADS_1
.....
"Dari mana aja?"
"Ngisi berkas pendaftaran kuliah selama itu emang?" tanya Dewa lagi. "Ngisinya juga lewat website, pakai hape, pakai laptop, kenapa harus ngisi di apart Gala coba?"
Riri tertunduk sambil menautkan jari-jemarinya. Sebenarnya ia ingin pulang sejak tadi, namun Gala terus-terusan menghalanginya. Hingga akhirnya ia pulang jam empat sore.
"Hem, udah gak papa. Sana ke kamar, bersihin badan, terus makan," sahut Danis yang tiba-tiba muncul dari belakang Dewa.
Danis menepuk pundak Dewa beberapa kali sebelum berjalan menghampiri Riri. Tangan Danis terulur untuk mengusap-usap kepala Riri.
"Sana cepat, nanti keburu Abang lo yang kaya macan
itu ngamuk, Ri," bisik Danis sambil terkekeh.
Mengangguk, Riri tersenyum lebar pada Danis.
"Makasih Abang!"
"Hem," angguk Danis dengan senyum manis khasnya.
"Udah lah, dia udah gede, Wa," ujar Danis menasehati. "Lagian kalo soal Gala, gue yakin kita gak bakal bisa ngelarang. Mereka udah sama-sama dari dulu. Bahkan dari sebelum Riri tinggal sama kita. Jadi wajar aja kalo sekarang Gala pengen ngabisin hari liburnya seharian full sama Riri. Karena mungkin ngerasa waktu yang dia punya sama Riri sekarang gak sebanyak dulu."
"Akhir-akhir ini mereka juga jarang keluar bareng. Gala sibuk kerja. Dia gak punya waktu buat jalan sama Riri kalo gak weekend kaya gini," tambahnya.
Dewa menghela napas kasar. "Gue tau, tapi--" Dewa memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya memilih pergi meninggalkan Danis begitu saja.
Sementara Danis, cowok itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Danis menatap kepergian Dewa seraya menggeleng heran. Entah lah, Danis tidak paham, akhir-akhir ini sikap Dewa sedikit berbeda. Dewa jadi lebih posesif pada Riri. Tidak seperti biasanya yang terkesan cuek.
******
"Nih, sesuai keinginan lo!"
Gala melemparkan beberapa lembar kertas yang berisi bukti kelengkapan berkas-berkas pendaftaran kuliah yang sudah ia isi di website kampus ke hadapan Agam.
Agam menatap kertas-kertas yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia sedikit kesal dengan sikap Gala. Tidak ada salam, mengetuk pintu atau sekedar memencet bel, cowok itu langsung masuk begitu saja ke ruangannya.
Untung saja Gala adik sepupunya, kalau tidak, sudah pasti Agam akan memarahinya habis-habisan. Karena Agam termasuk tipe orang yang disiplin dalam segala hal. Bagi Agam, semua hal harus berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Membaca kertas-kertas itu, Agam mengangkat sebelah alisnya lalu mengangguk singkat. "Good"? jadi Agam sambil menggeser kursinya lebih maju.
__ADS_1
"Kapan tesnya?"
Gala memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. "Seminggu lagi."
Agam mengangguk-anggukan kepala. "Gue harap lo gak bakal nyesel sama pilihan yang udah lo ambil."
Gala berdecak sebal. "Puas kan lo?"
Andai saja Agam tidak menentukan jurusan kuliah apa yang harus Gala ambil, Gala pasti bisa kuliah satu jurusan, bahkan satu kelas dengan Riri. Namun tak apa, ini semua lebih baik daripada ia harus kuliah di kampus yang berbeda dengan Riri. Apalagi sampai LDR beda negara. Gala tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tidak mungkin bisa jauh dari Riri.
Agam terkekeh pelan. "Ini semua juga buat diri lo sendiri.
Gak ada hubungannya sama kepuasan gue."
"Hem! Kalo lo gak ngasih gue pilihan yang sulit, gue gak bakal ambil jurusan itu!" ketus Gala.
"Sulit? Bukannya pilihan yang gue kasih ke lo cukup simpel, ya?" heran Agam tidak habis pikir. Sulit dari mananya? Menurutnya pilihan yang ia berikan pada Gala beberapa waktu yang lalu cukup mudah. Gala saja yang membuat semuanya menjadi ribet.
Bersambung
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Danis?
Pesan buat Agam?
Pesan buat
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1