CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Satu Gelas Susu


__ADS_3

Mengangguk, Riri menubruk kan badan mungilnya ke dalam dekapan Gala. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gala sangat erat.


"Riri bakal selalu ada buat Gala. Riri juga bakal selalu siap buat meluk Gala. Kapanpun itu. Jangan sedih lagi, yaa?"


Gala mengusap air matanya kasar. Sekarang Gala merasa lega sekaligus khawatir. Lega karena ia masih mempunyai Riri sebagai alasan bertahan hidup dan khawatir karena ia takut Riri akan pergi juga.


"Jangan pernah pergi. Jangan tinggalin gue. Gue gak mau sendirian. Sekarang, gue gak punya siapa-siapa lagi selain lo. Please, tetep di sini sama gue, Ri."


Riri bersyukur, hari ini keadaan Gala terlihat lebih baik daripada satu minggu yang lalu. Tepatnya saat Gala harus menerima kenyataan pahit dengan mengikhlaskan kepergian papa dan juga mama tirinya.


Sehari setelah pemakaman Abraham dan Anita dilaksanakan, keadaan Gala sempat memburuk. Gala down hingga mengalami demam tinggi dan sekujur tubuhnya menggigil kedinginan. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama, hanya tiga hari saja.


Tidak hanya itu, sehari setelah Gala sembuh dari sakitnya, sikap Gala juga berubah total. Gala menjadi lebih banyak diam dan sengaja menutup diri dari lingkungan sekitar. Gala tidak mau bertemu dengan siapapun.


Jadi, selama satu minggu ini Gala benar-benar tidak bertemu dengan siapapun, kecuali Riri yang setiap pulang sekolah selalu menyempatkan untuk datang ke apartemen Gala. Rencananya, Senin depan Gala baru masuk sekolah seperti biasa. Itupun karena bujukan dan rayuan dari Riri.


"Nih susu."


Gala meletakkan satu gelas susu rasa stroberi di meja. Lalu ikut duduk di samping Riri yang tengah asyik menonton kartun. Entah kartun apa, Gala tidak tahu namanya.


"Susu siapa?" Tanya Riri tanpa menolehkan kepala. Gadis itu fokus dengan tontonan di layar televisi. Karena tadi pagi saat di rumah, Riri belum selesai menonton, tapi Gala sudah menyuruhnya datang ke apartemen. Mau tidak mau Riri harus ikut bersama sopir yang sudah Gala tugaskan untuk mengantar jemput Riri selama satu minggu ini. Lagi-lagi hari libur Riri harus terganggu karena keegoisan Gala yang selalu menginginkan Riri ada di dekatnya.


"Hem! Pake nanya susu siapa, ya susu lo lah!" Decak Gala sebal. Satu tangannya menarik kepala Riri agar bersandar di dada bidangnya.


"Susu Riri?" Riri menatap segelas susu dan Gala bergantian dengan tatapan bingung. "Tapi punya Riri masih...utuh."


Tahu akan maksud Riri, Gala buru-buru mengoreksi ucapannya. "Maksudnya susu yang gue bikin buat lo. Aduh! Otak lo sekecil apa sih?! Bego banget. Untung gue cinta. Kalo gak, udah gue ceburin lo ke selokan sampe muka lo gepeng," kesal Gala menoyor kepala Riri pelan.


Bibir Riri mencebik kesal. "Maksud Riri susu siapa itu, susu kambing apa susu sapi ih?! Kan di kulkas Gala ada susu sapi sama susu kambing dan dua-duanya rasa stroberi. Tapi tadi Gala malah jawab susu Riri. Gimana sih, susu Riri kan--"


"Gue geprek muka lo kalo masih lanjutin omongan lo itu, Ri!" Peringat Gala menahan geram. "Lo juga nanyanya salah. Harusnya nanya susu apa?! Bukan susu siapa?!"


Riri terkikik geli melihat ekspresi kesal Gala sekarang. Meski kesal, lihatlah sejak tadi tangan Gala tidak berhenti mengusap-usap kepala Riri yang sempat ia toyor.

__ADS_1


"Gala jangan marah-marah~, takut nanti jadi gila~," nyanyi Riri pelan menirukan video TikTok yang Ilham kirim beberapa hari yang lalu.


Mata Gala membulat sempurna. Ia sudah tahu lagu itu karena dari kemarin Riri selalu menyanyikannya saat Gala sedang marah. Gala bersumpah, setelah bertemu dengan Ilham nanti, ia akan memberi pelajaran pada cowok tengil itu. Agar tidak memberi asupan yang aneh-aneh lagi pada otak polos Riri.


"Diem ah! Suara lo itu buat gue pengen berak!" Cibir Gala tak berperasaan.


"Iya-iya, Riri diem ih. Marah terus."


"Minum keburu dingin."


Mengangguk, Riri segera meminum susu yang Gala buatkan dan membiarkan Gala memegangi gelasnya hingga susu itu habis tak tersisa.


"Sana mandi, habis itu ikut gue ke panti asuhan," ucap Gala sembari membersihkan sisa-sisa susu di bibir Riri yang sedikit belepotan.


"Panti asuhan?" Tanya Riri kaget. "Gala mau buang Riri ke panti asuhan?!" Tebaknya ngawur.


Seketika wajah Riri langsung berubah jadi sedih.


Apakah Gala benar-benar akan membuangnya begitu saja? Seperti di sinetron-sinetron azab yang seringkali ia tonton bersama Joko.


"Ih! Gak boleh!" Riri memukuli bahkan menggigit lengan Gala saking kesalnya. "Riri janji bakal jadi bahenol! Pokonya jangan buang Riri huaaaa!!!"


"Huaaaa jangannnn!!!"


"Gue cuma bercanda, Ri. Astaga!"


Gala berhasil menangkap dua tangan Riri dan sekarang menggenggamnya erat. "Gue sama anak-anak mau ngadain acara di panti asuhan nanti sore. Lo mau ikut apa gak?" Jelas Gala membuat Riri langsung diam. Tidak lama kemudian, Riri mengangguk dengan lelehan air mata yang tidak bisa ia usap.


"Tapi jangan buang Riri ke panti asuhan."


"Enggak. Udah sana mandi. Lo bau got."


Plak

__ADS_1


"Sakit anjrit! Durhaka lo sama calon suami!"


Protes Gala mengusap-usap kepalanya yang dipukul oleh Riri. Sebenarnya tidak terlalu sakit. Hanya saja,


ya tahu sendiri lah, Gala si tukang modus. Pasti ada maunya.


"Abisnya Gala nyebelin. Riri gak bau. Tadi pagi waktu mau ke sini, Riri udah mandi kok. Nih gak bau!"


Dengan sedikit rasa kesal Riri menyodorkan ketiaknya ke muka Gala. Membuat cowok dengan wajah garang itu diam-diam tersenyum geli. Riri kalau sedang marah, memang menggemaskan.


"Itu kan pagi. Sekarang udah siang. Jadi lo bau lagi," alibi Gala menahan tawa.


"Eh! Sakit nih pala gue. Lo abis geplak main pergi aja. Cium dulu, cepet!"


"Gak!" Riri menghempaskan tangan Gala yang mencekal pergelangan tangannya.


"Cium, Ri! Argghhh gue bisa gagar otak nanti!" Teriak Gala mengacak rambutnya sendiri. "Ayo cepet cium!"


"Gak mau!"


"Arrggghhh cium dulu, Ri!"


"Ayo ci--"


Cup


"Jangan marah-marah nanti gantengnya ilang,"


kekeh Riri setelah mendaratkan satu kecupan di puncak kepala Gala. "Udah ya, Riri mau mandi dulu."


Gala memainkan lidahnya di dalam mulut untuk menahan senyum. Sementara itu satu tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa wajahnya tiba-tiba terasa panas. Rasa itu menjalar dari pipi hingga telinga.


"****! Gue baper!"

__ADS_1


Drttttt....drttt...drttt....


Gala berdecak. Matanya teralihkan pada ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ternyata panggilan masuk dari si jenglot Ilham.


__ADS_2