
Mereka berdua berjalan menuju wahana yang Riri maksud. Setelah masuk ke dalam wahana yang dipenuhi tempat duduk berbentuk kuda-kudaan, Riri terlihat kesusahan untuk naik ke atas salah tempat duduk itu. Beruntung melihat hal itu, Gala langsung peka. Gala langsung membantu Riri naik.
"Berani?" Tanya Gala setelah Riri berhasil duduk di atas kuda-kudaan.
Riri menggeleng. "Takut. Bisa gak kalo ini gini aja, gak usah muter?"
"Hem, maksud lo, lo duduk di atas sini, sementara wahananya gak muter, diem doang gitu?"
"Iya, Riri takut kalo muter. Gimana kalo Riri jatuh?"
"Gak bakal, Riri. Liat tuh anak kecil aja berani. Masa lo takut." Gala menunjuk ke salah satu anak perempuan yang naik komedi putar sendirian.
"Namanya juga komedi puter, ya kali diem doang." dumel Gala.
"Oh iya, ya. Kalo diem doang nanti namanya bukan komedi puter tapi komedi cuek," sahut Riri ngelantur. "Kaya Alan, cuek, sukanya diem doang."
"Apaan sih, bawa-bawa Alan." Kesal Gala tidak suka. Gala memang tidak suka, ralat, sangat tidak suka jika Riri membicarakan cowok lain selain dirinya. Sekalipun itu kakak Riri atau sahabat Gala sendiri. Kecuali Ilham.
"Soalnya Alan ganteng banget," ucap Riri cekikikan.
"Udah gue bilang, dia tuh ganteng karena operasi kresek. Masih aja gak percaya. Cuma gue doang yang gantengnya asli."
"Operasi plastik ih! Bukan kresek!" Riri memukul punggung Gala. "Gala boong! Riri udah pernah nanya ke Alan langsung. Kata Alan, dia gak operasi plastik. Emang udah ganteng dari lahir.
"Ya."
"Gala, ini kok lama sih? Kok gak muter-muter? Riri takut tapi pengen ngerasain."
"Ya udah, lo turun aja, terus lo yang muterin nih komedi puter."
"Gak mau ih!"
"Udah gak usah bacot. Kita tungguin aja. Gue bakal berdiri di sini, pegangin lo. Gak usah takut."
"Sini peluk gue," suruh Gala yang langsung dituruti oleh Riri.
Riri memeluk leher Gala erat saat komedi putar yang mereka naiki mulai berjalan. Pada akhirnya, Gala tetap berdiri di samping Riri hingga wahananya berhenti berputar.
******
"RIRI!" Teriak Gala.
"RIRI SINI CEPET!"
Cowok itu merasa geram melihat Riri tidak menuruti ucapannya. Tadi Gala sudah berpesan agar Riri tetap duduk di tempat semula yang sudah Gala tentukan. Namun sekarang, lihatlah, gadis itu justru berdiri di tempat lain dan entah sedang apa.
"Bandel banget jadi bocah!" Gala menoyor kepala Riri. "Bertingkah mulu! Udah gue bilang, diem di sini. Kenapa lo malah berdiri di sana? Gimana kalo lo ilang? Hah?" Cecar Gala.
"Dah lah, gue gak mau ngajak-ngajak lo ke tempat kaya gini lagi. Kalo lo ilang atau kenapa-kenapa juga gue yang ribet."
__ADS_1
"Maaf,"
"Maaf-maaf, sadar diri dikit kek. Lo itu apa-apa gak bisa. Bahkan jaga diri sendiri juga gak bisa. Jadi gak usah bandel. Nurut apa yang gue bilang."
Riri tidak bisa mengatakan apa-apa, gadis itu hanya menunduk dalam diam. Karena apa yang diucapkan Gala memang fakta. Mau bagaimanapun, Riri tahu, kalau kemarahan Gala kali ini juga demi kebaikannya. Gala hanya tidak mau terjadi sesuatu pada dirinya.
"Ngapain lo ada di sana?!"
Riri menunjukkan permen lolipop di tangannya. "Riri tadi nyoba main game kaya masukin benda ke atas botol gitu, di sana. Terus dapet ini."
Prak!
Gala membuang permen lolipop di tangan Riri ke sembarang arah. Awalnya Riri ingin melawan, arah.namun menyadari dirinya memang salah, Riri memilih untuk tetap diam.
"Duduk!" Titah Gala.
"Nih." Gala ikut duduk di samping Riri dan menyodorkan permen kapas berbentuk bebek warna kuning yang telah ia beli hingga mengantri hampir satu jam.
Mata Riri tampak berbinar bahagia. Sedetik kemudian saat menyadari amarah Gala barusan, Riri kembali berusaha terlihat biasa saja. "Bagus banget bentuknya," pujinya agar Gala tak marah-marah terus.
"Suka?"
"Suka,"
"Mulut bebeknya kaya mulut Gala kalo lagi marah."
"Tadi sebelum berangkat menyubit perut gue sampe luka, sekarang ngatain," dumel Gala. "Emang bocil sialan."
"Gala capek ya?"
"Ya lo pikir aja, Sri. Berdiri hampir satu jam buat ngantri. Panas-panas gini. Terus pas balik, lo nya bandel. Gak nurut pesan gue."
"Bukan," geleng Riri. "Maksud Riri, Gala capek kalo Riri bandel?"
Gala terdiam.
"Maafin Riri. Riri bukannya mau bandel. Riri cuma pengen ngelakuin sesuatu tanpa harus minta bantuan ke Gala. Riri udah gede. Udah lulus sekolah. Bentar lagi kuliah. Riri gak mau apa-apa gak bisa sendiri. Jadi tadi inisiatif buat main game itu tanpa bilang ke Gala." Riri menjeda ucapannya. Gadis itu meraih satu tangan Gala.
"Maafin Riri, cara Riri emang salah," lanjutnya.
"Cepat makan, keburu gepeng kena angin permen kapasnya," kata Gala mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Riri mengangguk. Gadis itu menuruti ucapan Gala tanpa bantahan.
Melihat rambut Riri yang berantakan dan bercampur keringat, Gala berinisiatif untuk mengikatkannya dengan karet gelang hitam miliknya.
"Panas ya?"
Gala merasa kasihan melihat keringat Riri tidak berhenti bercucuran. Cuaca hari ini memang sangat panas. Apalagi semua wahana permainan di sini terletak di outdoor.
__ADS_1
"Iya," jawab Riri sibuk memakan permen kapasnya.
Gala mengibaskan kedua tangannya di depan wajah Riri. Seolah tangan itu ia jadikan kipas untuk mengipasi Riri yang kepanasan. "Pulang ya habis ini. Kasihan, muka lo sampe merah gitu karena kepanasan."
"Tapi Riri masih pengen main." Riri menatap Gala dengan ekspresi menggemaskan. Membuat Gala jadi tidak tega untuk menolak permintaan Riri.
"Oke, satu kali wahana lagi?"
"Tiga," tawar Riri..
Gala menghela napas. "Dua."
Senyum Riri mengembang lebar. "Oke dua!"
Angguknya begitu semangat.
"Udah habis permen kapasnya, ayo main lagi!"
Riri berdiri sambil menarik-narik tangan Gala. Mau tak mau, Gala mengikuti permintaan Riri. Cowok itu berjalan di belakang Riri yang terlihat begitu semangat naik wahana untuk kesekian kali. Padahal jika boleh jujur, kepala Gala sudah pusing karena kebanyakan naik wahana yang berputar.
"Auh!" Riri memegang kakinya yang terpelintir.
"Tuh kan!" Gala menatap Riri khawatir. "Jalannya pelan-pelan aja bisa gak sih?! Gak usah pake buru-buru!"
"Sakit," adu Riri dengan mata berkaca-kaca.
"Sini, gue gendong belakang."
Gala memposisikan dirinya di depan Riri. Setelah Riri naik ke atas punggungnya, Gala membenarkan posisi tubuh Riri di dalam gendongannya. Membawa gadis itu ke tempat duduk tadi untuk melihat kakinya yang terpelintir.
"Sakit hiks..."
"Sampe merah gini."
Gala melepas sepatu dan kaos kaki yang Riri kenakan agar bisa melihat lukanya dengan jelas.
"Sakit banget?" Gala mengusap-usap jari-jemari kaki Riri dengan gerakan pelan untuk mengurangi rasa sakitnya. Sesekali cowok itu juga memberi tiupan lembut.
"Iya," angguk Riri.
"Ya udah, kita pulang."
"Gak ma-"
"Pulang!" Tegas Gala. Ia melayangkan tatapan tajam pada Riri. Membuat bibir gadis itu mengatup rapat. Tidak berani membantah.
SELAMAT MEMBACA😁
__ADS_1