
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
"Cih! Gue gak mau apa-apain ikan lo. Gue cuma mau mindahin akuarium ini ke meja sana. Soalnya meja ini mau dibersihin sama Mbak. Mbak minta tolong ke gue karena gak berani mindahin akuarium ini," jelas Dewa jujur.
Jika di keluarga kalian, yang mempunyai tahta tertinggi di dalam rumah adalah anak bungsu atau cucu pertama. Maka hal itu tidak berlaku di keluarga Riri. Di keluarga Riri yang memiliki tahta tertinggi bukan lagi anak bungsu atau cucu pertama, melainkan Joko. Ikan kesayangan Riri yang selalu Riri jaga dan lindungi sepenuh hati.
Fakta itulah yang membuat semua penghuni rumah ini harus berpikir berkali-kali jika ingin melakukan sesuatu hal pada Joko. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan gadis yang kini menatap Dewa dengan tatapan tajam sarat akan rasa curiga itu akan mengamuk seperti Reog.
"Emang iya?"
Dewa mengangguk cepat. Ia menoleh pada Mbak yang bekerja di rumah mereka seolah tengah mengharap sebuah bantuan untuk meyakinkan Riri. "Tanya aja kalo gak percaya."
"Iya Mbak?" Riri berganti menatap Mbak yang berdiri di
ujung tangga dengan Kolor Ijo di bawahnya.
"I-iya, Non. Saya yang minta bantuan karena mau bersihin
mejanya yang udah berdebu."
Riri mendengus pelan. la kira tadi nyawa Joko sedang terancam. Bukannya apa, Riri sudah tahu betul bagaimana tabiat Dewa dan Kolor Ijo. Keduanya memang tidak menyukai Joko sedari dulu. Maka dari itu Riri harus selalu waspada. Ia takut jika mereka merencanakan sesuatu hal yang buruk pada Joko.
Mendengar pengakuan dari Mbak, Riri mencoba percaya dan menurunkan tangannya yang sejak tadi berkacak pinggang sok galak.
"Ya udah pindahin ke meja situ dulu gak papa," ucap Riri membuat Dewa dan Mbak menghela napas lega. "Tapi pelan-pelan ya, Bang. Nanti Joko pusing kalo Bang Dewa ngangkatnya brutal," pesan Riri.
Dewa berdecak. Dewa kembali mengangkat akuarium Joko dan memindahkannya ke meja lain yang tak jauh dari tempat semula. "Ck, lebay. Gerakan ngangkat semua orang juga sama aja. Mana ada ngangkat brutal. Emang gue ngangkat akuarium ini sambil kayang? Terus sambil roll depan roll belakang?!"
"Ya kan bisa aja Bang Dewa sengaja brutal biar Joko pusing terus mati. Bang Dewa kan suka jahil ke Joko," balas Riri.
"Kurang kerjaan amat gue jahilin ikan jelek lo ini." Dewa menatap ke arah Kolor Ijo yang sejak tadi anteng menjadi penonton. "Noh Kolor Ijo yang patut lo curigain. Beberapa kali gue sempet lihat dia naik ke atas meja mau nerkam si Joko."
Mendengar tuduhan Dewa, wajah Kolor Ijo yang semula santai kini berubah menjadi sangat panik. Benar-benar kurang ajar Dewa. Berani-beraninya memfitnahnya yang tidak tahu apa-apa.
Riri menatap Kolor ljo sengit. Pelan tapi pasti gadis itu terus melangkah mendekati Kolor Ijo dengan kedua tangan kembali berkacak pinggang dan wajah sok galak.
"Meong!" seru Kolor Ijo dengan panik saat Riri berdiri di dekatnya.
Sementara itu, dalam hati Dewa sudah berhitung dan tepat pada hitungan Dewa yang ke tiga, yang terjadi adalah....
"KOLOR IJO BURIK JANGAN LARI!" teriak Riri mengejar Kolor Ijo yang berlari ke arah dapur.
__ADS_1
"Kenapa?"
Dewa menghentikan tawanya saat bahunya ditepuk pelan oleh Danis.
"Biasa. Adik lo yang kaya reog lagi berantem sama kucing gue."
"Ck! Adik lo juga," decak Danis. "Pasti lo yang adu domba mere--"
"BANG DANIS TOLONGIN RIRI HUA!"
Tawa Dewa meledak mendengar teriakan Riri dari arah dapur. "Kita lihat, playing victim macam apa lagi yang bakal dilakuin sama tuh bocil. Kemarin nuduh Kolor Ijo yang habisin es krim di kulkas. Sekarang apa lagi?"
Benar, dari dulu Riri memang selalu menyalahkan Kolor Ijo
untuk semua masalah yang ia sebabkan.
Tidak menanggapi Dewa yang menyebalkan, Danis segera menghampiri Riri.
"Kenapa?" Danis berjongkok di hadapan Riri yang duduk di lantai.
Tak berselang lama, Dewa ikut menyusul mereka dan
langsung mengangkat Kolor Ijo ke gendongannya.
"Gara-gara Kolor Ijo Riri kena pisau tau!" tunjuk Riri ke Kolor Ijo. Membuat kucing itu meliriknya takut-takut. Lo minggir i
Riri cemberut. "Ya kan gara-gara Kolor Ijo burik! Awas aja, Riri bakal adukan ke Gala!" sengitnya.
"Kenapa gak hati-hati? Gimana ceritanya sampe kena pisau, hem?" tanya Danis sibuk meniup jari Riri agak rasa perihnya menghilang.
"Waktu ngejar Kolor Ijo Riri gak sengaja memegang ujung meja, taunya di situ ada pisau yang menghadap ke Riri. Jadinya jari Riri kena."
"Itu artinya karma," sahut Dewa. "Ya gak Kol?" tanya Dewa ke Kolor Ijo yang langsung manggut-manggut seolah paham apa yang Dewa tanyakan.
"Ish! Bang Dewa nye--" Danis menangkup wajah Riri dengan kedua tangannya saat gadis itu melotot ke arah Dewa dan Kolor Ijo. Kalau Danis biarkan saja, bisa-bisa terjadi perdebatan babak kedua di antara mereka.
"Ayok berdiri biar gue kasih hansaplast," titah Danis pelan
namun tegas. "Habis itu mandi, makan, terus istirahat. Lo gak
capek apa pulang ospek malah tawuran sama kucing?"
"Dari tadi bukannya ganti baju, bersihin badan, makan, malah ngurusin Dewa sama kucing buriknya," omel Danis sebal.
Riri tertawa kemenangan melihat wajah shock Dewa saat mendengar Danis untuk pertama kali ikut menyebut Kolor Ijo sebagai kucing burik. Biasanya kata-kata itu hanya terlontar dari mulut Riri dan Gala saja dan sekarang, bertambah Danis juga. Sialan.
"Yang burik lo bukan kucing gue!"
"Kita kembar kalo lo lupa. Kalo gue burik artinya lo juga burik," balas Dewa.
"Enak aja! Kita kan gak kembar identik. Muka lo sama muka
__ADS_1
gue jauh beda!"
"Iya jauh beda. Gue kaya manusia lo kaya setan."
Danis mengiring Riri agar segera naik ke lantai atas menuju kamar gadis itu.
"AWAS AJA LO DANIS! KALO SAMPE TEMPAT TIDUR LO DIBERAKIN KOLOR IJO, GUE GAK BAKAL TANGGUNG JAWAB!"
Danis menoleh ke belakang sambil mengangkat satu sudut bibirnya. "Gak masalah, tinggal gue pindahin kotorannya ke tempat tidur lo."
"Kembaran bangsat!"
"Yes, i'm."
....
.
Bersambung
.
.
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Akbar?
Pesan buat Alan?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Danis?
Pesan buat Amora?
Pesan buat Nenda?
Pesan buat Choline?
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1